
...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...
Saat di perjalanan menuju ke Rumah Sakit Melati, tiba-tiba Sya berubah pikiran. Ia memutar balik jalan menuju ke Rumah Sakit milik Mendiang Mamanya.
Entah mengapa terbesit di pikirannya tentang Eric wakil direktur di Rumah Sakit milik Mendiang Mamanya. Mengingat saat itu mengapa Eric korupsi membuatnya penasaran apa yang terjadi sehingga pria yang hampir berkepala empat tersebut melakukan korupsi?
Usai perjalanan, Sya langsung menuju ke Rumah Sakit milik Mendiang Mamanya. Setelah kejadian di Taman Rumah Sakit saat itu, Sya menyembunyikan identitas nya. Sehingga ke mana pun Sya pergi, tidak ada yang mengetahui apabila Sya adalah Christine kecuali Eca sahabatnya, Dokter Rodetta dan satu orang lagi yang identitas nya belum Sya ketahui hingga saat ini.
Seorang Suster menghampiri Sya.
“Selamat datang Nona Christine. Apa ada yang bisa saya bantu?“ tanya Suster tersebut dengan sopan dan ramah kepada Sya alias Christine. Apalagi posisi Christine di Rumah Sakit ini tinggi dari padanya, jika salah sedikit, maka jabatan Suster tersebut terancam.
“Apakah Tuan Eric berada di sini?“ tanya Christine kepada Suster tersebut tanpa basa-basi.
“Ada, Nona. Perlu saya panggilkan?“ sahut Suster tersebut.
“Ahh iya, tolong panggilkan ya.” pinta Christine.
“Siap, Nona!“ jawab Suster tersebut.
“Terima kasih,” ucap Christine. Suster tersebut hanya menanggapi ucapan Christine dengan senyuman dan berlalu pergi.
Sya alias Christine segera menuju ke ruangannya. Semua orang tahu apabila dipanggil oleh Christine, maka kita ke ruangannya bukan ke ruangan kita sendiri.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Eric datang bersama Suster yang berbicara dengan Christine. Setelah membungkukan badannya sebagai bentuk penghormatan, Suster tersebut pergi.
“Ada apa?“ tanya Eric dengan nada ketus. Seolah-olah dirinya lah yang paling berkuasa di Rumah Sakit ini.
“Apa begitu cara bicara mu kepada atasanmu?” ucap Sya.
“Kau bukanlah atasan ku! Kau hanyalah orang yang menggantikan posisi Nona Diva sementara!” sahut Eric.
“Begitu?“ ucap Sya yang ditanggapi oleh Eric rnegan anggukan kepala.
“Hem. Sepertinya kurang seru pembicaraan kita apabila kita hanya membahas soal ini,“ ujar Sya. Alis Eric mengernyit bingung mendengar ucapan Sya.
“Maksudmu apa?“ tanyanya kepada Sya alias Christine.
Eric melihat Sya meletakkan kertas tersebut menjadi penasaran dengan isi kertas tersebut. Eric langsung mengambil kertas tersebut dan membacanya. Saat membaca, Eric langsung terkejut dan menatap tajam kepada Sya. Sya yang ditatap tajam oleh Eric hanya santai tanpa rasa takut sedikitpun.
“Bagaimana?“ tanya Sya.
“Apa-apaan ini! Kamu mau menjebak ku ya?“
“Menjebak? Haha, sepertinya kamu sedang bermain-main ya!“ sahut Sya.
“Lihat! Aku tidak pernah melakukan hal tercelah seperti itu!“ kilah Eric.
__ADS_1
“Lalu, kamu pikir aku akan memercayai ucapanmu?“ ucap Sya.
“Sayangnya tidak, kertas tersebut berisi sesuai dengan kenyataannya,“ lanjutnya.
“Tidak! Aku tidak melakukan hal tersebut!” kilah Eric kembali.
“Aku memanggilmu ke sini bukan menanyakan hal tidak penting seperti itu!“
“Lalu, apa yang ingin kamu katakan kepadaku! Apakah kertas ini hanyalah candaanmu?” kesal Eric.
“Aku akan katakan. Tapi akan ku jawab terlebih dahulu pertanyaanmu. Kertas ini berisi sesuai pada kenyataannya, aku tidak berbohong. Aku sudah katakan tadi!“ jelas Sya. Eric terdiam.
“Yang ingin ku katakan kepadamu adalah …,“ Sya terdiam sejenak.
“Kenapa kamu melakukan hal tersebut?“ tanyanya.
“Apakah kamu akan percaya dengan ucapanku apabila aku mengatakan yang sebenarnya?“ tanya Eric kepada Sya.
“Tergantung dengan jawaban Anda Tuan Satria yang terhormat!” seru Sya. Eric menjadi terdiam, ia memikirkan sesuatu.
“Baiklah, sebenarnya aku melakukan hal korupsi ini dengan satu alasan. Akan ku katakan apa satu alasan tersebut!“
“Aku … Di ancam!“ jawab Eric dengan lantang.
__ADS_1
...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳......