Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 32 : UNDANGAN


__ADS_3

...~𝙷𝙰𝙿𝙿𝚈 𝚁𝙴𝙰𝙳𝙸𝙽𝙶~...


“Iya!”


⚘⚘⚘


Sementara di Sya.


Ternyata, Sya pergi ke Rumah Sakit Melati untuk memjenguk sahabatnya. Dan, Sya sudah tidak sabar menunggu sahabatnya sembuh.


Di perjalanan, Sya sempat berpikir sesuatu.


“Apa masalah besar tiga sejoli itu aku tunda dulu ya? Apalagi menyangkut soal Negara, aku tidak bisa main-main! Bahkan Hakim yang ku hubungi tadi masih di luar Kota!” gumamnya pelan sembari fokus dengan jalan raya.


“Ataukah, aku mencari yang lain? Tapi di Kota ini, jarang ada orang yang berprofesi sebagai Hakim! Kecuali di luar Kota!“ gumamnya lagi.


“Kalau cari yang di luar kota, berarti sidangnya juga harus di luar kota!”


“Jauh sekali sepertinya kalau di luar kota!“ Sya berpikir.


“Apa sebaiknya aku menunggu saja ya?”


“Ahh.. Iya. Mungkin lebih baik, aku menunggunya dulu.” ucap Sya.


Usai perjalanan, Sya sampai di Rumah Sakit Melati. Ia langsung bergegas masuk dan menuju ke ruangan Eca sahabatnya.


Tok! Tok! Tok!


Ceklek!


“Sya?” pekik Eca.


“Eca!“ sahut Sya. Mereka berdua saling berpelukan.


“Terima kasih, Dokter! Sudah menjaga Eca sahabat saya dengan baik!“ ucap Sya kepada Dokter Rosetta setelah melerai pelukannya.


“Sama-sama! Tak perlu sungkan! Lagipula, saya sedang tidak ada kerjaan! Kalau begitu, saya pamit keluar dulu ya!“ sahut Dokter Rosetta.


“Siap, Dok! Tapi sebelum itu … Kapan Eca sahabat saya boleh pulang?” tanya Sya dengan rasa penasaran. Eca yang mendengar pertanyaan Eca juga demikian.


“Besok sudah boleh!“ jawab Dokter Rosetta.


“Baiklah, Dok! Terima kasih banyak!” ucap Sya. Dokter Rosetta hanya menanggapinya dengan senyuman.


Dokter Rosetta pun keluar dari ruangan Eca.


Eca dan Sya asik berbicara. Mereka mulai bercerita kenangan indah di masa lalu. Topik pembicaraan mereka kali ini sangat asik.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Sya dan Eca menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh ke arah pintu.


Ceklek!


Pintu terbuka secara perlahan. Terlihat seorang Suster tengah mengantarkan selembar kertas.


“Selamat siang. Maaf kalau menganggu waktunya. Tuan Calvin meminta saya untuk mengantarkan surat ini kepada Anda Nona Christine. Tuan Calvin berharap Nona Christine bisa hadir dalam acaranya. Dan surat undangan ini tidak hanya di antarkan pada Anda saja, Nona! Semua orang juga mendapatkannya!“ seru Suster tersebut.


“Baiklah! Terima kasih banyak, Sus!“ ucap Sya.


“Sama-sama, Nona! Acaranya minggu depan pada saat pukul tujuh malam ya, Nona! Jangan sampai lupa! Dan di surat tersebut sudah tertulis di mana acara tersebut di adakan! Saya permisi dulu, Nona!” ucap Suster tersebut lalu keluar dari ruangan Eca.


“Surat apaan itu, Sya?“ tanya Eca dengan rasa penasaran.


“Kalau tadi aku dengar dari Susternys kalau surat ini surat undangan dari Tuan Calvin!” jawab Sya.


“Tuan Calvin? Pacar kamu ya, Sya??” goda Eca.


“Bukan ya! Dia itu cuma rekan bisnis aku!” jawab Sya.


“Oh.. Ya sudah! Apa kamu mau pergi ke acara itu, Sya?“ tanya Eca. Ia penasaran, apakah Sya sahabatnya akan pergi ke acara tersebut? Tampaknya acara ini sangat menarik.


“Mungkin akan hadir!“ jawab Sya.


“Hati-hati ya, Sya kalau pergi ke acara itu! Jangan sampai kejebak dengan orang-orang! Kamu 'kan tahu kalau sekarang banyak orang-orang yang mencampurkan obat ke dalam suatu minuman ataupun makanan! Jangan sampai kamu jadi korbannya!“ tutur Eca.


“Alat apaan itu, Sya?” tanya Eca dengan rasa bingung sekaligus penasaran.


“Alat untuk mendeteksi isi kandungan dalam minuman! Jadi, dengan mencelupkan alat ini ke dalam gelas, maka akan terlihat warna di sini!” jelas Sya.


“Warnanya apa saja, dan pertanda apa?”


“Akan ku jelaskan! Jika warna yang muncul adalah warna merah, berarti isi kandungan dalam minuman tersebut ada racun ataupun obat dan sebagainya! Jika berwarna biru, maka isi kandungan dalam minuman tersebut aman!“ jelas Sya.


“Begitu ya!“ ucap Eca.


Mereka berdua mulai membaca surat undangan tersebut. Dengan desain yang menarik di surat tersebut membuat orang-orang tertarik dengan isi undangan nya.


“Eca! Apa kamu ingin ikut bersamaku untuk pergi ke acara ini?“ tanya Sya.


“Tidak perlu! Aku ingin mengurus perusahaan papaku saja!“ jawab Eca.


“Apa kamu yakin, Ca?“


“Yakin seratus persen!“


Sya hanya mengangguk. Ia tidak bisa memaksa sang sahabat untuk ikut kemauannya. Dirinya mulai mempersiapkan mental apa yang akan terjadi kedepannya.


⚘⚘⚘

__ADS_1


Sementara di Rumah Sakit milik Mendiang Mama Sya.


Operasi yang dilakukan berjalan dengan lancar. Clara ingin menjenguk Pamannya. Beruntung, Dokter sudah memperbolehkannya untuk masuk. Dan kabarnya, Pamannya sudah sadar.


“Paman!” panggilnya.


“Clara!?“ sahut Pamannya yang ternyata Eric.


“Apakah koper yang Paman dapatkan itu ada di sini?” tanya Clara.


“Sepertinya ada! Paman ingat apabila koper tersebut di ambil seorang Suster dan membawa masuk ke dalam mobil ambulans!” jawab Eric.


“Baiklah, Paman! Clara tanyakan kepada salah satu Suster terlebih dahulu ya!“ ucap Clara.


“Baik! Paman akan menunggumu!” sahut Eric.


Clara pun pergi dari ruangan Eric dan mulai mencari salah satu Suster.


Sedangkan Eric di ruangannya malah senyum-senyum sendiri seperti orang yang sudah tidak waras lagi. Sepertinya pada saat Eric kecelakaan, kepalanya terbentur dengan aspal sehingga otaknya menjadi masalah.


Ternyata, Eric adalah Bapak Hakim yang bersama Sya tadi.


Beberapa saat kemudian, Clara datang sembari menyeret sebuah koper. Eric yang melihat kedatangan Clara langsung tersenyum bahagia.


“Paman! Kau tahu? Koper ini sangat berat!” keluh Clara.


“Bersabarlah, Nak! Jika kopernya sangat berat, maka pasti isinya juga banyak!” sahut Eric.


“Tapi Clara tidak yakin, Paman! Clara seperti sedang mengangkat sebuah batu besar saja!“ keluh Clara.


“Sudahlah! Cepat bawa kopernya kemari! Tak sabar aku melihat isinya!“ perintah Eric. Clara menyeret koper tersebut dengan kasar sehingga kopernya tergores dengan lantai. Namun, hal tersebut tidak menjadi masalah bagi keduanya.


Clara meletakkan koper tersebut di sebuah sofa dekat brankar Eric. Clara memapah Eric untuk menuju ke sofa.


Mereka berdua mulai membuka koper tersebut secara perlahan.


Saat melihat isi koper tersebut, mereka berdua terkejut. Ternyata isi kopernya tidak sesuai dengan imajinasi mereka.


“Batu??” ucap Eric dan Clara. Mereka berdua terkejut terlebih lagi Clara. Clara tidak menyangka apabila usahanya dalam mengangkat koper tersebut terbuang sia-sia. Karena isinya bukanlah sebuah uang yang sangat banyak melainkan sebuah batu yang sangat besar. Sepertinya batu besar ini berasal dari pegunungan ataupun goa.


“Aahhh!! Paman! Usahaku sia-sia!“ keluh Clara lalu terduduk lemas di lantai.


Eric menarik nafas panjang. Dirinya juga tidak menyangka apabila koper yang berat itu isinya batu seperti yang dikatakan oleh Clara tadi.


“Rencana kita gagal!” ucap Eric.


Mereka berdua saling meratapi nasib mereka. Tidak disangka, keluhan Clara tadi menjadi nyata. Sebaiknya, berhati-hatilah dalam berbicara, karena omongan kita adalah doa.


...𝚃𝙾 𝙱𝙴 𝙲𝙾𝙽𝚃𝙸𝙽𝚄𝙴𝙳......

__ADS_1


__ADS_2