Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 59 : TOPIK UTAMA


__ADS_3

Happy Reading...


Ria mengatakan hal tersebut tanpa menyadari apabila dirinya saat ini berada di Kantor Polisi. Deshita yang menemani Ria ke Kantor Polisi ini hanya bisa menggeleng kepalanya dan berniat kabur diam-diam. Namun, aksi kaburnya barusan diketahui oleh salah satu Polisi. Sehingga Deshita ditahan oleh Polisi yang mengetahui apabila Deshita berniat kabur.


Sya tersenyum dan menjawab, “Saya Diva Anastasya. Anak dari Tuan Andrean,“


Semua yang berada di Kantor Polisi itu terkejut dengan jawaban Sya barusan. Terutama Ria dan Deshita.


“Tidak! Kamu pasti berbohong! Kamu tidak mungkin adalah anak dari Tuan Andrean! Kamu bukanlah Nona Diva Anastasya!“ seru Ria tidak bisa menerima kebenaran ini. Berharap ucapan Christine barusan hanyalah candaan semata.


“Saya tidak berbohong. Saya mempunyai buktinya,“ jawab Sya.


Sya langsung menunjukkan kartu Identitas yang tertulis nama ‘Diva Anastasya’. Ria dan Deshita menatap kartu itu dengan tatapan tidak percaya. Tidak menyangka apabila selama ini orang yang selalu diajak berdebat, adalah orang yang berasal dari keluarga kalangan atas. Tepatnya lebih atas dibandingkan keluarga mereka.


“Nona adalah Nona Diva??“ ujar wartawan yang tiba-tiba datang ke Kantor Polisi. Beberapa wartawan mulai merekam kejadian ini. Semua wartawan yang hadir tiba-tiba ini adalah wartawan yang diundang oleh Ria dan Deshita. Niat mempermalukan Christine, malah menjadi malu sendiri. Tentunya wartawan yang telah hadir dibayar mahal oleh Ria dan Deshita.


“Ya. Saya adalah Nona Diva. Diva Anastasya yang menghilang selama tiga tahun ini,“ jawab Sya.


“Apa yang Nona lakukan selama tiga tahun ini? Mengapa tidak ada kabar sama sekali dari Nona?“ tanya salah satu wartawan memberanikan diri, mengajukan pertanyaan itu kepada Sya secara langsung. Tentunya semua telah direkam.


“Saya menyembunyikan identitas saya. Mengganti identitas saya menjadi Christine. Kalian semua pasti kenal dengan Christine, bukan? Christine adalah saya,“ jawab Sya.


Jawaban Sya membuat semua wartawan terkejut.


“Mengapa Nona memilih menyembunyikan identitas asli Nona? Apakah ada kasus kriminal yang menyangkut nama Nona sehingga Nona menyembunyikan identitas?“ tanya wartawan itu setelah mengecek ponselnya. Tentunya wartawan itu dilirik oleh Ria dan Deshita yang berdiri tidak jauh dari mereka.


“Tidak ada kasus kriminal yang menyangkut nama saya. Sama sekali tidak ada. Saya menyembunyikan identitas karena satu alasan,“ jawab Sya.


“Apa alasan itu, Nona?“ tanya wartawan dengan penasaran.

__ADS_1


“Alasannya tidak bisa saya ungkapkan. Mungkin bisa dijelaskan oleh Nona Ria dan Nona Deshita yang telah mengundang kalian semua kemari,“ jawab Sya melirik kedua wanita itu.


Sya langsung meninggalkan Kantor Polisi. Ia pergi dengan menggunakan mobilnya.


Wartawan mulai memberikan dengan begitu banyaknya pertanyaan sehingga membuat Ria dan Deshita kewalahan menghadapi semuanya. Merasa sudah tidak kuat lagi untuk menjawab pertanyaan dari wartawan, kedua wanita itu berniat kabur. Namun, langsung ditahan oleh Polisi yang melihat aksi kedua wanita itu, sehingga kedua wanita itu ditahan di sel penjara untuk sementara waktu demi keamanan sesama.


Ria dan Deshita ditempati dengan sel yang berbeda. Mereka di sel sendirian tanpa ada satupun orang. Tujuannya agar tidak terjadinya pertengkaran yang berujung masuk Rumah Sakit dan tidak terjadinya aksi kabur dari kedua wanita itu.


...☘️☘️☘️...


Berita tentang Diva Anastasya yang sudah kembali menjadi topik utama di media sosial. Semua orang tidak menyangka. Terutama Calvin dan Devan yang tanpa sengaja meng-klik video live dan menontonnya.


“Ya ampun … Bukankah Nona itu adalah Nona Christine?“ seru Devan dengan hebohnya.


“Van! Berarti selama ini, Nona Christine adalah Nona Diva yang hilang selama tiga tahun itu??“ tanya Calvin dengan tatapan tidak percaya melihat ponselnya.


“Iya, Tuan! Berita ini membuat semua orang terkejut! Orang yang selama ini dicari-cari adalah orang yang memegang perusahaan Tuan Andrean! Pantesan saja mengapa Nona Christine begitu mudahnya memegang perusahaan Tuan Andrean!“ jawab Devan dengan heboh.


Calvin terdiam sesaat, dengan mata melihat ponselnya.


“Kita harus langsung menghampiri Nona Christine, sekarang juga untuk mempertanyakan identitas aslinya yang sebenarnya!“ seru Calvin lalu mengambil tas kantor miliknya.


“Sekarang, Tuan? Tapi … Pekerjaan kita masih banyak sekali!“ ujar Devan sembari melirik berkas perusahaan yang menumpuk gunung di atas meja.


“Nanti saja dikerjakan! Besok juga masih banyak waktu!“ jawab Calvin dengan santainya.


“Tapi, Tuan! Jika kita menunda lagi dan memilih mengerjakan semuanya esok hari, maka yang ada, berkas ini semakin bertambah!“ jelas Devan.


“Untuk itu urusan belakang!“ jawab Calvin lalu mengambil tas kantornya dan keluar dari ruangan meninggalkan asistennya.

__ADS_1


“Haduh!“ gumam Devan kesal lalu menyusul atasannya.


Mereka berdua segera pergi ke perusahaan Tuan Andrean.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di perusahaan milik Tuan Andrean. Mereka masuk ke dalam bangunan tinggi itu dan bertanya kepada Resepsionis.


“Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?“ sambut Resepsionis itu dengan ramah.


“Ruangan Nona Diva, di mana ya?“ tanya Devan mewakili atasannya yang duduk tidak jauh darinya.


Resepsionis itu terdiam sesaat. Ia sudah mengetahui kabar bahwa selama ini Nona Christine adalah Nona Diva. Namun, dirinya tidak mengetahui, apakah Nona Diva memiliki tamu hari ini?


“Maaf, apa Tuan memiliki janji dengan Nona Diva?“ ujar Resepsionis itu menghindari masalah yang ditakutkan terjadi apabila dirinya memberitahu letak ruangan Nona Diva. Pasalnya ruangan Nona Diva sangat privasi. Bahkan saat Nona Diva sedang menyamar, Nona Diva tidak menggunakan ruangannya sendiri untuk menyambut tamu.


“Ti- Tidak,“ jawab Devan sembari melirik atasannya yang menggelengkan kepala.


“Jika tidak memiliki janji dengan Nona Diva, sebaiknya Tuan duduk di kursi sana yang telah disediakan. Saya akan menghubungi Nona Diva untuk lebih lanjutnya,“ ujar Resepsionis itu dengan sopan sembari menunjuk kursi duduk yang telah disediakan.


“Baiklah. Kalau sudah, tolong panggil saya,“ sahut Devan yang ditanggapi olleh Resepsionis itu dengan anggukan kepala.


Devan langsung kembali dan menghampiri atasannya.


Tanpa basa-basi, Calvin langsung bertanya. “Bagaimana, Van?“


“Karena kita tidak mempunyai janji dengan Nona Diva, maka Resepsionis tadi mengatakan bahwa dirinya akan menghubungi Nona Diva untuk lebih lanjut. Saya disuruh untuk duduk menunggu,“ jelas Devan dengan panjang lebar.


Calvin menghela napasnya dengan kasar. Mereka berdua melihat ke arah meja Resepsionis. Mereka dapat melihat jelas apabila Resepsionis itu berniat menghubungi Nona Diva dengan telepon kantor. Namun saat sedang mengetik nomor Nona Diva, Resepsionis tidak sengaja melihat seseorang yang tidak asing berjalan ke arah mejanya. Resepsionis itu pun langsung menghentikan aksinya barusan.


To be continued...

__ADS_1


Haii... Maaf sedikit. Besok akan dilanjutkan menulisnya di bab ini. Maaf banget nih ya. Lagi fokus dengan novel sebelah di bab terakhir agar bisa fokus dengan novel ini. Terimakasih


__ADS_2