Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 63 : MISI PEMBUNUHAN


__ADS_3

Happy Reading...


...☘️☘️☘️...


Meeting yang baru saja dilakukan Calvin dan Devan selesai. Devan langsung menghampiri gadis yang membuatnya jatuh cinta pandangan pertama.


“Nona!“ panggil Devan dengan napas ngos-ngosan karena gadis yang ingin dihampiri nya terus berjalan tanpa henti membuat dirinya harus mengejar gadis itu secepatnya.


“Iya, Tuan?“ jawab gadis itu menghentikan langkahnya saat mendengar seseorang memanggil dirinya.


“Bisakah kita bicara sebentar?“ tanya Devan dengan napas ngos-ngosan.


“Bisa, Tuan. Tapi hanya lima menit saja,“ jawab Eca sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Mari ikut saya!“ ajak Devan sembari menarik tangan Eca tanpa disadarinya. Eca yang merasakan tangannya ditarik oleh Tuan Devan berusaha melepaskannya, tidak ingin orang lain berpikir aneh-aneh tentang mereka berdua.


“Tuan, tolong lepaskan tangan saya!“ ujar Eca dengan nada yang sedikit ditinggikan sembari berontak agar tangannya dilepaskan.


“Nanti akan aku lepaskan!“ jawab Devan dengan santainya sembari menarik tangan Eca kembali yang sempat terlepas.


“Semoga Tuan ini tidak melakukan apa-apa!“ gumam Eca dalam hati.


...☘️☘️☘️...

__ADS_1


Di suatu tempat, lagi-lagi pria itu mengepalkan tangannya melihat komentar-komentar netizen di aplikasi media sosialnya. Semua orang begitu menanti kembalinya Eiga Anastasya. Dirinya tidak terima akan hal tersebut.


“Akhirnya Nona Diva Anastasya kembali!“


“Nona Diva! Akhirnya kembali juga!“


“Nona Divaa! Aku penggemar beratmu!“


“Idolaku Nona Diva kembali! Terima kasih, Nona Diva!“


“Jika Nona Diva belum memiliki kekasih, bisakah aku yang menjadi kekasih Nona Diva?“


Itulah beberapa komentar di berita kembalinya Nona Diva.


Pria itu tidak terima akan kenyataan ini semua.


“Tuttt … Tuttt!“


“Halo!“ ujar pria itu memulai panggilan.


“Halo, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?“ tanya pembunuh bayaran dengan sopan.


“Nanti malam, kamu ada waktu kosong?“

__ADS_1


“Kapanpun akan kosong untuk Tuan!“ jawab pembunuh bayaran itu.


“Baiklah, nanti saat hari sudah gelap, kamu lakukan misi malam ini kepada gadis ini!“ perintah pria itu sembari menunjukkan sebuah foto. Foto seorang gadis yang masih berusia belia.


“Baik, Tuan! Tuan kirimkan foto gadis itu saja kepada saya agar saya bisa melihat lebih jelas foto gadis itu!“ jawab pembunuh bayaran itu.


“Nanti akan ku kirimkan! Uangnya nanti akan aku transfer setelah misi selesai! Jika misi tidak selesai, maka kamu hanya akan mendapatkan sebagiannya! Mengerti?" perintah pria itu dengan tegas.


“Mengerti, Tuan!“ jawab pembunuh bayaran itu.


“Baiklah! Aku tunggu hasilnya!“ ujar pria itu lalu hendak mematikan sambungan telepon, namun langsung dihentikan oleh pembunuh bayaran itu.


“Sebentar, Tuan! Jangan dimatikan terlebih dahulu!“ sahut pembunuh bayaran itu. Sepertinya pembunuh bayaran ini berniat mengatakan sesuatu kepada pria itu.


“Ada apa lagi? Bukankah sudah aku jelaskan semua kepadamu tadi?“ tanya pria itu dengan heran.


“Nama Tuan siapa?“ ujar pembunuh bayaran itu tanpa memedulikan pertanyaan pria itu barusan.


“Eric Satria. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan Tuan Eric,“ jawab pria itu yang ternyata bernama Eric. Masihkah mengingat pria ini?


Ya, pria itu bernama Eric. Pria itu ialah Paman dari Clara.


“Baik, Tuan Eric,“ sahut pembunuh bayaran itu.

__ADS_1


Sambungan telepon langsung dimatikan begitu saja oleh Eric secara sepihak.


To be continued...


__ADS_2