Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 54 : INSIDEN


__ADS_3

Happy Reading...


“Ayoo, bangun!“ ucap Calvin membangunkan Sya. Calvin, Sya, dan Devan sengaja duduk di kursi yang berderetan yang sama. Tujuannya, agar mudah membangunkan salah satu di antara mereka bertiga apabila tertidur di dalam pesawat. Selain itu, kita tidak perlu repot mencarinya. Terlebih lagi jumlah penumpangnya yang sangat tidak terkira, tidak mungkin mereka akan menemukannya dengan mudah.


“Kita sudah sampai?“ tanya Sya dengan suara khas bangun tidurnya sembari meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Itulah kebiasaan orang-orang tidur di kursi, sehabis bangun, tubuh akan terasa pegal dan kaku.


“Sudah. Ayo turun!“ ajak Calvin. Mereka bertiga pun turun dari pesawat setelah mengantri. Penumpang lain tidak sabar untuk segera turun dari pesawat.


...☘️☘️☘️...


Setelah keluar dari Bandara, mereka bertiga yang awalnya melangkah dengan cepat tiba-tiba menghentikan langkah mereka.


“Ada apa?“ tanya Sya heran. Namun, dirinya juga ikut menghentikan langkahnya seperti Calvin dan Devan. Mereka berdua sudah seperti menjadi bodyguard Sya.


“Kita akan naik apa?“ ujar Calvin.


“Ckckck. Apa kalian tidak memiliki anak buah di sini?“ Calvin dan Devan sontak menggeleng, lalu tiba-tiba mengangguk.


“Daripada kalian berdua seperti itu. Lebih baik, akan saya panggil anak buah saya saja.“ ujar Sya kesal dengan kedua pria yg tiba-tiba lemot ini. Sya segera menghubungi salah satu anak buah Papanya yang saat ini berada di Bali. Dengan cepat, anak buah Papanya itu segera menjawab telpon darinya. Sya mengaktifkan loudspeaker tanpa sengaja.


“Halo?“ ucap Sya memulai panggilan suara.


“Halo, Nona Sya. Maaf, sepertinya saya terlambat menjawab panggilan dari Nona.“ jawab anak buah Papanya.


Sya yang mendengar apabila anak buah Papanya memanggil dirinya dengan sebutan ‘Nona Sya’, segera menjauhkan dirinya dari kedua pria tersebut.


Baik Calvin maupun Devan terkejut. “Nona Sya??“ batin mereka berdua.


Beruntung, dengan cepat, Sya menjauhkan diri dari kedua pria itu. Sehingga, mungkin ia akan diberi pertanyaan sepanjang sungai setelah telpon selesai.


“Astaga. Mengapa memanggilku dengan sebutan itu? Bagaimana jika tadi ada yang terdengar? Bahkan tanpa sengaja, aku meng-klik loudspeaker,“ protes Sya.

__ADS_1


“Maaf, Nona. Saya kira, Nona sedang berada di tempat sepi.“ ucap anak buah Papa Sya.


“Baiklah. Permintaan maaf anda diterima. Anda di mana sekarang?“ tanya Sya mengalihkan topik pembicaraan mereka.


“Bali.“ jawab anak buah Papa Sya.


“Jemput aku dan kedua rekan bisnis aku di Bandara. Sekarang juga.“ ujar Sya lalu hendak mematikan sambungan telpon, namun langsung dihentikan oleh anak buah Papanya.


“Sebentar, jangan dimatikan dulu telponnya, Nona. Sekarang, Nona berada di mana? Bandara mana?“ tanya anak buah Papa Sya.


“Bali. Seharusnya kamu sudah mengetahui, Bandara yang mana.“ jawab Sya singkat, lalu mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Tujuannya cepat-cepat mematikan sambungan telponnya agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya dan anak buah Papa nya. Jika itu terjadi, maka akan menjadi topik berita besar seketika dengan mudahnya. Namun, bukan itu yang diinginkan oleh Sya.


Sya langsung menghampiri kedua pria tersebut yang sedari tadi menunggunya selesai.


“Nona. Tadi saya mendengar, orang yang ditelpon oleh Nona, memanggil Nona dengan sebutan ‘Nona Sya’. Sebenarnya, siapa nama asli Nona sebenarnya??“ tanya Calvin tanpa basa-basi, langsung to the point saja.


Pada saat Sya ingin menjawab, anak buah Papa Sya yang ditelpon oleh Sya sudah datang. Hal tersebut membuat Sya bersyukur.


Mobil yang dinaiki oleh mereka menuju ke Hotel terdekat. Calvin dan Devan sama sekali tidak membahas mengenai pertanyaan mereka tadi, karena tubuh mereka saat ini sangat kelelahan. Membutuhkan istirahat. Meskipun di pesawat sudah beristirahat, namun tetap saja apabila sudah sampai, harus tetap beristirahat lagi.


...☘️☘️☘️...


Dikarenakan hari sudah siang, mereka bertiga memutuskan untuk membeli makan siang. Dan beruntung, pedagang yang biasanya berjualan di Hotel, selalu ada. Mereka menjual makanan khas Indonesia. Lagi-lagi, Calvin dan Devan harus dihadapi dengan makanan yang tidak mereka kenali.


Di tempat tadi, Calvin dan juga Devan hanya melihat gorengan. Mereka belum masuk ke dalam untuk melihatnya lebih lanjut.


Calvin melihat ada pedagang yang menjual seblak. Namun, Calvin tidak mengenali makanan tersebut. Ia melihat ada ceker ayam di dalamnya. Sontak karena terkejut, ia melangkah mundur.


“Heyy! Ada apa? Ini hanya seblak!“ ucap pedagang tersebut terheran dengan pria yang tidak ia kenali, datang ke tempatnya dan melihat makanannya, lalu tiba-tiba mundur. Apa ada yang salah dengan makanannya itu?


“Seblak? Apa itu seblak?“ tanya Calvin.

__ADS_1


Sontak pedagang yang menjual seblak itu menepuk jidatnya. Sejenak, ia mengarahkan pandangannya pada pria tersebut. Ternyata pria tersebut menggunakan jas kantoran mewah.


“Pantesan saja, dia tidak mengenali yang namanya seblak.“ batin pedagang seblak tersebut.


Tiba-tiba pada saat pedagang seblak itu ingin menjelaskan apa itu seblak pada Calvin...


“Seblak itu adalah-“ jelas pedagang seblak itu terhenti karena Calvin dan kedua orang yang diduga nya adalah teman si pria pergi.


...☘️☘️☘️...


Sore harinya tiba.


Mereka bertiga memutuskan untuk menuju lokasi setelah beristirahat di siang hari dan makan siang dengan diantar oleh anak buah Papa Sya. Baik Calvin maupun Devan, sama sekali tidak menyadari sesuatu yang ganjal.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di lokasi tempat pembanguan proyeknya. Pembangunan sudah dimulai hari ini dengan pekerja yang sangat banyak. Calvin menatap kagum dengan lokasi ini. Lokasi ini sangatlah luas. Saking luasnya, melebihi luas Mansion keluarganya.


“Bagaimana menurut Anda, Tuan? Tempat ini sangat cocok bukan?“ tanya Sya ketika melihat Calvin menatap kagum pada lokasi tempat ini.


“Ya. Sangat cocok. Kamu pintar dalam memilih lokasi yang cocok.“ puji Calvin.


“Terima kasih,“ jawab Sya dengan senyuman manis yang menghias wajahnya. Calvin menjadi terkesima dengan senyuman yang ditorehkan oleh Sya.


Sejenak, mereka saling bertatapan satu sama lain. Manik mata mereka saling bertemu. Ada rasa di hati mereka yang timbul, namun tidak bisa dijelaskan.


Tiba-tiba, seseorang melemparkan batu ke arah Calvin dan Sya. Devan yang menyadari hal tersebut hendak berlari menghampiri kedua orang tersebut. Namun, aksinya langsung dihentikan olehnya.


Karena Calvin sudah lebih dulu menyadari hal tersebut. Dengan gerakan cepat, ia menarik tubuh gadis di depannya ke dalam pelukannya. Sya yang tiba-tiba ditarik oleh Calvin merasa terkejut dengan aksi pria tersebut .


Batu yang terlempar tidak mengenai mereka berdua. Lemparan batu itu meleset. Devan hendak mengejar orang yang melempar batu tersebut, namun Devan malah dilempar batu oleh orang tersebut. Beruntung, Devan dengan cepat menghindar lemparan batu tersebut.


Lemparan batu kedua mendekati kedua orang yang tengah berpelukan tanpa disengaja. Batu tersebut semakin dekat dan....

__ADS_1


To be continued...


Tegang? Jangan lupa dukungannya yaa. Terima kasih banyak.


__ADS_2