
Happy Reading...
Ya, pria itu bernama Eric. Pria itu ialah Paman dari Clara.
“Baik, Tuan Eric,“ sahut pembunuh bayaran itu.
Sambungan telepon langsung dimatikan begitu saja oleh Eric secara sepihak.
Eric langsung mengirimkan sebuah foto seorang gadis kepada pembunuh bayaran yang baru di teleponnya.
“Ting!“ Terdengar suara masuknya notifikasi berupa pesan di ponsel Eric.
Eric meng-klik notifikasi pesan tersebut yang muncul di ponselnya.
“Baik, Tuan. Misi akak dilakukan pada malam ini. Pukul tujuh malam. Saya mendapatkan kabar dari detektif yang saya tugaskan untuk mencari tahu jadwal gadis itu. Pada saat pukul tujuh malam, gadis itu akan pulang dari perusahaan. Malam ini, jalanan akan dipastikan sepi tidak ada orang,“ jelas pembunuh bayaran itu kepada Eric melalui pesan.
Eric hanya membaca pesan tersebut. Setelah membaca, ia pun mematikan ponselnya dan menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya tanpa membalas pesan dari pembunuh bayaran itu.
...☘️☘️☘️...
“Ada apa, Tuan?“ tanya Eca saat Devan berhenti di suatu tempat. Tempat yang sangat sepi. Bahkan hanya mereka berdua yang berada di tempat sana. Pikiran negatif mulai bermunculan di pikiran Eca.
Eca yang takut Devan akan melakukan sesuatu pada dirinya, hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Dirinya bukanlah wanita tangguh seperti sahabatnya.
“Tadi namamu, Eca?“ tanya Devan yang akhirnya membuka suara.
“Iya, Tuan. Nama saya Eca,“ jawab Eca dengan gugup. Takut pria ini melakukan hal yang aneh-aneh padanya.
“Ini kartu Identitas ku. Jika perlu sesuatu, kamu bisa menghubungiku dengan nomor telepon yang tertulis di kartu ini,“ ucap Devan sembari memberikan kartu Identitas kepada Eca.
__ADS_1
“Iya, Tuan.“ jawab Eca sembari menerimanya dengan gugup.
“Sampai jumpa!“ sahut Devan lalu pergi dari tempat sana meninggalkan Eca seorang diri di sana.
Eca akhirnya bisa menghela napasnya dengan lega. Untung saja pria itu tidak melakukan hal-hal aneh padanya. Ia harus banyak-banyak bersyukur akan hal ini semua.
Eca menoleh kartu Identitas yang dipegangnya. Dirinya mengangkat satu alisnya, merasa heran. Mengapa dirinya tadi menerima kartu Identitas milik pria itu?
“Tring … Tring!“ Terdengar bunyi alarm dari ponsel milik Eca yang sengaja disetel oleh gadis itu. Eca pun segera memasukkan kartu Identitas milik pria itu ke dalam saku jasnya tanpa sadar, lalu mengambil ponselnya yang berbunyi di dalam tasnya.
“Ah! Ternyata ada meeting lagi! Aku harus segera pergi!“ ujarnya pada dirinya sendiri lalu beranjak pergi dari tempat tersebut dengan segera.
...☘️☘️☘️...
Waktu terus berlalu, hingga tidak terasa sudah pukul tujuh malam.
Diva pun menyimpan beberapa berkas yang belum dikerjakan olehnya untuk dibawa pulang. Sedangkan berkas yang sudah dikerjakan olehnya, ia menyimpan dengan baik di tempat yang aman.
Setelah memastikan semua sudah tersimpan dengan baik, Diva pun keluar dari ruangannya dan menuju tempat parkiran.
Ia turun dari lantai atas hingga lantai dasar dengan menggunakan lift. Hanya membutuhkan beberapa menit saja, ia sudah sampai di lantai dasar.
Diva menoleh kiri kanan. Semua karyawan yang bekerja, sebagian besar sudah pulang karena tidak ada lagi yang bisa dikerjakan. Sebagian kecil lainnya memilih lembur agar semua pekerjaan cepat terselesaikan.
“Selamat malam.“ sapa Diva dengan senyuman manis di wajahnya. Semua karyawan yang bekerja lembur hari ini pun membalas sapaan atasan mereka. “Selamat malam, Nona Diva.“
“Saya pulang duluan ya?“ ujar Diva.
“Silakan, Nona.“ jawab para karyawan.
__ADS_1
"Semangat kerja lemburnya, guys!“ sahut Diva memberikan semangat kepada semua karyawannya.
“Terima kasih, Nona!“ jawab semuanya. Diva menanggapinya dengan senyuman di wajahnya. Lalu menuju tempat parkiran.
Setelah menaiki mobil miliknya, Diva pun menjalankan mobilnya menuju Mansion.
Di tengah perjalanan, ia heran dengan jalanan yang sepi. Padahal malam ini adalah malam minggu. Diva yang merasa dirinya salah jalan pun memutuskan putar balik.
...☘️☘️☘️...
Calvin dan Devan asistennya memutuskan untuk pulang lebih awal setelah bekerja lembur. Tubuh mereka terasa sangat lelah dibandingkan biasanya. Terutama Calvin, ditambah dengan perasaan gelisah yang tiba-tiba muncul membuat Calvin memutuskan pulang lebih awal bersama asistennya Devan.
“Devan! Ayo pulang!“ ajak Calvin yang membuat asistennya heran dengan atasannya itu.
“Pulang, Tuan? Sepertinya kita terlalu awal, Tuan! Bukankah pekerjaan kita masih banyak yang tertunda?“ heran Devan sembari mengernyitkan alisnya.
“Tubuhku lelah! Tidak apalah, malam ini kita pulang lebih awal! Besok, kita akan kembali bekerja lagi, bukan? Pasti malamnya kembali lembur! Jika tiap malam terus lembur hingga pukul sepuluh malam, maka tubuh kita akan sakit!“ nasehat Calvin yang semakin membuat Devan heran.
Biasanya dirinya yang akan menasehati atasannya itu. Namun, hari ini sedikit aneh. Mengapa tiba-tiba, menjadi atasannya yang menasehati dirinya?
“Biasanya juga lembur sampai jam satu subuh, Tuan.“ sindir Devan pada atasannya itu.
“Sudah! Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!“ jawab Calvin yang kesal dengan asistennya yang malah mengumbar aibnya kepada semua pembaca. Calvin langsung menarik paksa tangan Devan dan membawanya keluar dari perusahaan.
Devan yang ditarik tangannya oleh atasannya hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dirinya masih merasa heran dengan atasannya itu.
Ternyata Calvin menarik Devan masuk ke dalam lift. Saat berada di dalam lift, Calvin terlihat begitu gelisah. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu sehingga membuat dirinya sendiri gelisah. Devan juga merasa heran dengan atasannya itu. Bahkan atasannya itu sampai mengigit kukunya sendiri saking gelisahnya, hal yang tidak pernah dilakukan oleh pria itu.
To be continued...
__ADS_1