Identitas Diva Yang Tersembunyi

Identitas Diva Yang Tersembunyi
DIVA | 73 : BUTIK (2)


__ADS_3

Hehe, karena part butik nya nggak cukup buat satu part, jadi Author buat part 2 nya.


Happy Reading...


“Oh ya. Tadi kamu mengatakan, warna jas ini cocok untukku. Apakah benar?“ tanya Devan sembari mengambil jas yang dikatakan oleh Eca apabila warna jas tersebut sangat cocok untuk Devan.


“Deg!“


Jantung Eca tiba-tiba berdetak kencang. Apalagi melihat pria itu berterang-terang menunjukkan kepadanya apabila pria itu mengambilnya.


“Ya, Nona. Kamu benar. Warna jas ini sangat cocok denganku. Terima kasih sudah membantu,“ ucap Devan sembari tersenyum manis lalu pergi ruang ganti untuk mencobanya.


Eca langsung memegang pipinya yang merona.


“Ahh, aku maluu!“ pekiknya yang tertahan.


...☘️☘️☘️...


“Sayang! Gaun ini cocok untukmu!“ ucap Calvin sembari memberikan gaun pengantin kepada Diva. Gaun tersebut terbuka di bagian bahu.


“Tapi, ini terbuka? Apa tidak masalah?“ tanya Diva sembari menatap gaun tersebut.


“Masalah sebenarnya. Tapi melihat gaun di sini kebanyakan gaun-nya terbuka di bagian dada dan punggung, jadinya aku lebih memilih gaun itu saja. Sepertinya juga tidak terlalu terbuka,“ jelas Calvin.


“Apa kita memanggil pekerja butik ini saja untuk menanyakannya??“ tanya Diva.


“Hmm … Ide bagus! Ayo kita tanyakan!“ ajak Calvin.


“Mbak!!“ panggil keduanya saat melihat salah satu pekerja Butik berada di sudut ruangan.


“Iya Tuan, Nona. Ada yang bisa saya bantu??“ tanya pekerja Butik itu dengan sopan.


“Apa gaun pengantin lainnya sama seperti ini? Terbuka?“ ucap Calvin.


“Ya, Tuan. Gaun pengantin yang tertutup sedang kosong,“ jelas Pekerja Butik tersebut dengan sopan.


“Yang tertutup sedikit, apa tidak ada?“


“Tidak, Tuan. Yang terbuka sedikit, hanya yang Tuan pegang. Selain itu, tidak ada. Rata-rata pembeli lebih menginginkan yang terbuka, sehingga kami mengimpor gaun dari luar yang kebanyakan terbuka dibandingkan yang tertutup,“ jelas Pekerja Butik tersebut dengan panjang lebar.


“Baiklah.“ jawab Calvin lalu kembali bersama Diva.


“Sayang. Kamu coba saja dulu ini pakaian-nya!“ ucap Calvin sembari memberikan gaun yang dipegangnya sejak tadi kepada Diva.


“Baiklah, Sayang.“ jawab Diva sembari menerimanya lalu pergi ke ruang ganti untuk mencobanya.


Sembari menunggu Diva keluar dari ruang ganti, Calvin pun mencari-cari jas yang akan dikenakannya esok.

__ADS_1


“Sepertinya jas ini cocok dengan-ku!“ ucap Calvin sembari mengambil jas yang menurutnya cocok lalu berniat ke ruang ganti untuk mencobanya. Namun, dirinya malah berpapasan dengan Diva yang sudah keluar dari ruang ganti.


“Cantik kamu, Sayang.“ puji Calvin sembari menatap kagum pada calon istrinya. Meskipun tidak ada polesan make-up sama sekali, calon istrinya itu saja sudah terlihat cantik dengan mengenakan gaun pengantin yang dipilihnya, apalagi jika ditambah dengan polesan make-up nantinya.


“Terima kasih, Sayang.“ jawab Diva tersipu malu.


“Oh ya, kamu mau ke ruang ganti?“ tanya Diva sembari melihat jas yang dipegang oleh Calvin. Diva menduga apabila calon suaminya berniat untuk mencoba jas tersebut.


“Iya, Sayang. Menurut-mu, ini cocok tidak untuk-ku??“ tanya Calvin sembari menunjukkan jas yang dipegangnya.


“Cocok. Pasti kamu akan terlihat tampan ketika mengenakannya,“ Tanpa sadar, Diva memuji calon suaminya.


“Terima kasih, Sayang. Kalau begitu, aku akan segera mencobanya,“ jawab Calvin lalu segera menuju ruang ganti.


“Ahh! Apa yang baru saja aku katakan? Aku memujinya tampan?“ Pipi Diva langsung merona.


...☘️☘️☘️...


Setelah memakai jas yang dipilih oleh sahabat calon istri atasannya, Devan pun keluar dengan pesonanya yang sangat tampan. Membuat beberapa Pekerja Butik terpesona. Ketampanan yang dimiliki oleh Devan memang tidak kalah dengan Calvin atasannya.


Termasuk Eca. Eca juga menatap kagum dengan ketampanan Devan. Tidak disangka olehnya, asisten calon suami sahabatnya mencoba jas pilihannya, dan bahkan saat pria itu mengenakannya, pria itu sangat terlihat tampan.


“Tampan,“ puji Eca yang didengar jelas oleh Devan.


“Terima kasih sudah memujiku,“ jawab Devan sembari tersenyum. Membuat nilai ketampanan pria itu semakin meningkat.


“Oh ya, sebaiknya kita langsung membayar semuanya.“ ucap Devan mengalihkan topik pembicaraan mereka. Tidak ingin sahabat calon istri atasannya semakin malu.


“Ya, kamu benar. Aku hampir saja melupakan hal itu.“ jawab Eca.


Mereka berdua pun menuju ruang ganti. Setelah selesai, mereka membayar pakaian di kasir.


“Berapa total semuanya?“ tanya Devan.


“Dipisah atau digabung saja, Tuan?“ Pekerja Butik tersebut justru bertanya balik kepada Devan. Dirinya cukup bingung dengan pertanyaan Devan barusan. Pria itu menanyakan total semuanya. Apa mau digabung semua atau ada tambahan lainnya?


“Digabung saja.“ jawab Devan.


“Hah! Dipisah saja, Tuan. Saya masih memiliki duit kok.“ tolak Eca.


“Ini permintaan Tuan Calvin,“ ucap Devan yang tidak bisa dibantah oleh Eca.


“Ehmm … Baiklah kalau begitu.“ jawab Eca pasrah. Apalagi ini permintaan calon suami sahabatnya. Dirinya memiliki hutang budi, mungkin lain kali, dirinya bisa menebus hutang budinya kepada asisten calon suami sahabatnya dan calon suami sahabatnya di lain waktu.


“Baiklah, Tuan. Totalnya sekitar empat puluh lima juta.“ ucap Pekerja Butik tersebut dengan sopan.


Devan membayar semuanya dengan menggunakan kartu bank miliknya. Dirinya tadi sengaja mengatakan bahwa atasannya yang meminta hal tersebut. Padahal atasannya sama sekali tidak mengatakan ataupun mengirimkan pesan untuk membayar yang dibeli oleh Eca.

__ADS_1


...☘️☘️☘️...


Calvin pun keluar dari ruang ganti. Sesuai yang dikatakan oleh Diva, pria itu terlihat tampan ketika menggunakan jas tersebut. Aura ketampanannya mulai terlihat.


Semua Pekerja Butik menatap kagum dengan ketampanan yang dimiliki Calvin.


Termasuk Diva. Diva menatap kagum dengan ketampanan yang dimiliki oleh calon suaminya. Entah mengapa dirinya baru menyadari apabila calon suaminya sangatlah tampan.


“Aku tampan sekali ya?“ tanya Calvin sedikit menggoda kepada Diva.


“Ih, jangan terlalu narsis deh!“ jawab Diva mengelak.


“Ahh, calon istriku ternyata gengsi juga,“ ucap Calvin menarik tubuh calon istrinya ke dalam pelukan.


“Ayo kita pergi membayar semuanya!“ ajak Calvin.


“Baiklah, Sayang.“ jawab Diva. Tanpa sadar, Diva berulang kali memanggil pria itu dengan sebutan ‘Sayang’. Padahal baru saja sehari, eh bahkan belum mencapai sehari.


Mereka berdua sama-sama pergi ke ruang ganti. Lalu pergi ke kasir untuk membayar.


Dan kebetulan sekali, mereka berdua berpapasan dengan Devan dan Eca yang sudah selesai membayar.


“Eh, kalian berdua sudah selesai?“ tanya Calvin heran.


“Sudah.“ jawab Devan dan Eca singkat.


“Cepat banget perasaan?“ gumam Calvin.


“Sayang. Kamu duduk di kursi sana ya sama sahabat kamu. Aku pergi bayar,“ suruh Calvin.


“Tapi?“ Diva menggantung kalimatnya.


“Tidak masalah, Sayang. Kamu akan capek jika tidak duduk,“ jelas pria itu dengan lembut. Memberikan pengertian kepada calon istrinya.


“Baiklah, Sayang.” jawab Diva.


Setelah selesai membayar, mereka berempat pun kembali dengan posisi duduk awal.


Di perjalanan, Diva diam memikirkan sesuatu. Besok sudah hari pernikahannya, namun pekerjaan dirinya dan calon suaminya masih tertumpuk bagai gunung. Apakah itu tidak menjadi penghalang nantinya?


Calvin yang menyadari apabila calon istrinya diam terus-menerus mencoba membuka suara untuk bertanya.


To be continued...


Haii kakak semua. Maaf ya kemarin tidak update. Sejujurnya, Author sedang mempersiapkan karya baru yang akan ikut event. Jadi, mungkin kedepannya, update nya akan sedikit terhambat. Tapi Author usahakan update setiap hari kok~


Jangan lupa dukungannya ya. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2