
Happy Reading...
Calvin menghela napasnya dengan kasar. Mereka berdua melihat ke arah meja Resepsionis. Mereka dapat melihat jelas apabila Resepsionis itu berniat menghubungi Nona Diva dengan telepon kantor. Namun saat sedang mengetik nomor Nona Diva, Resepsionis tidak sengaja melihat seseorang yang tidak asing berjalan ke arah mejanya. Resepsionis itu pun langsung menghentikan aksinya barusan.
“Nona Diva!“ panggilnya dengan nada sedikit tinggi karena terkejut dengan kehadiran Nona Diva ke perusahaan.
Mendengar suara dari Resepsionis yang memanggil Nona Diva, berhasil mengusik pendengaran Calvin.
“Ada apa, Mbak?“ tanya Diva menghampiri Resepsionis yang memanggilnya. Ia tidak lagi memedulikan panggilan yang diberikan Resepsionis itu. Toh, semuanya sudah terbongkar.
“Ini, ada dua Tuan yang ingin bertemu dengan Nona Diva,“ jelas Resepsionis itu menundukkan pandangannya di hadapan Nona Diva.
“Dua Tuan?“ ucap Diva heran lalu menoleh pandangannya ke arah kursi duduk yang telah diisi dua pria.
“Iya, Nona. Mereka duduk di sana,“ jawab Resepsionis itu sembari menunjuk kursi yang telah di duduki oleh dua pria. Sepertinya dua pria itu yang dimaksud oleh Resepsionis ini.
“Baiklah. Terima kasih,“ sahut Diva sembari tersenyum manis di hadapan Resepsionis itu lalu menghampiri kedua pria yang sedang duduk itu.
“Sama-sama, Nona.“ jawab Resepsionis itu sembari melempar senyuman manis kepada Nona Diva sebelum Nona Diva pergi menghampiri kedua pria itu.
__ADS_1
Melihat Nona Diva menghampiri, Calvin pura-pura sibuk dengan ponselnya. Tidak bisa dipungkiri apabila dirinya mencintai gadis ini. Gadis yang usianya berbeda tiga tahun dengannya.
“Tuan Calvin? Tuan Devan?“ panggil gadis itu melemparkan tatapan terkejut.
“Nona Diva,“ sahut kedua pria itu.
“Mari ke ruangan saya,“ ajak Diva.
Mereka berdua mengikuti Diva ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka bertiga sampai di ruangan Diva. Ruangan Diva di desain dengan interior mewah. Beberapa foto keluarga Diva di pajang di dinding ruangan Diva ini.
“Baik, Tuan!“ jawab Devan patuh dengan perintah Tuan nya. Lalu, ia pergi meninggalkan ruangan Diva.
“Apa yang membuat Tuan datang kemari?“ tanya Diva.
“Mengapa kamu menyembunyikan identitasmu, Nona?“ ujar Calvin.
“Apa kamu tahu? Aku mencari tahu gadis yang pernah ku tolong empat tahun silam dengan susah payah!“ ceplos Calvin tidak sengaja.
__ADS_1
“Aku sudah mengetahui itu,“ ujar Diva dengan santai.
“Saat pertama kalinya kita bertemu, tepatnya empat tahun yang lalu di tempat kejadian kecelakaan itu, aku jatuh cinta padamu. Rasa cinta ini sudah tumbuh sejak lama,“ sahut Calvin menunjuk dadanya.
“Hari ini, aku begitu terkejut. Tidak disangka, orang yang aku cari, adalah rekan bisnisku, yang membuatku jatuh cinta untuk kedua kalinya,“ tambah Calvin.
“Lalu? Itu artinya, kamu sudah berpaling dari gadis yang kamu cari empat tahun lalu?“ tanya Diva. Entah mengapa saat Calvin mengatakan itu, hatinya sakit mendengarnya.
“Bukan begitu maksudku. Aku jatuh cinta padamu untuk kedua kalinya setelah rasa cinta itu seperti menghilang. Hatiku mengatakan apabila kamulah orang yang selama ini aku cari. Namun, hati dan otakku tidak sehati. Otakku mengatakan bahwa kamu bukanlah orang yang aku cari,“ jelas Calvin berusaha meluruskan kesalahpahaman yang baru saja terjadi. Tidak ingin gadis yang dicintainya malah salah paham dengannya lalu pergi meninggalkan dirinya. Tidak bisa ia biarkan hal tersebut terjadi.
“Itu artinya?“ tanya Diva sengaja kembali bertanya agar pria itu jujur mengatakan semuanya.
“Aku ingin melamar mu untuk menjadi kekasihku,“ jelas Calvin.
Diva terdiam sesaat.
To be continued...
Maaf nih, updatenya dikit. Maklum, idenya lagi gak lancar.. Besok kalau lancar, diusahakan untuk lanjut kembali. Jangan lupa dukungannya ya. Terima kasih,
__ADS_1