
Happy Reading...
Diva dan Calvin pun berangkat ke perusahaan.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai di perusahaan Erland.
(Skip)
Akhirnya Diva sampai di Perusahaan Papa-nya. Ia pun turun dari mobil dan segera masuk ke perusahaan. Namun, tiba-tiba terdengar suara ponselnya yang berdering. Diva pun mempercepat langkahnya untuk sampai di ruangannya.
Setelah sampai, ia mengeluarkan ponselnya yang masih berdering dalam tas. Ia heran, orang yang menghubungi dirinya adalah pihak kepolisian. Untuk apa pihak kepolisian menghubungi dirinya?
Merasa ada yang tidak beres, Diva segera mengangkat telepon tersebut. “Halo?“
“Ha-Halo, Nona!“ jawab Polisi yang menghubungi Diva dengan takut. Sepertinya ada yang tidak beres.
“Ada apa, Pak?“ tanya Diva dengan sopan. Meskipun di benaknya merasa ada yang tidak beres, namun Diva harus tetap sopan kepadanya.
“I-Itu, Nona …“ Polisi itu tidak melanjutkan ucapannya. Nyalinya seketika menciut untuk mengatakan hal tersebut kepada Nona Diva.
“Katakan dengan jelas!“ sahut Diva dengan penuh penasaran dalam hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa suara Polisi yang menghubunginya itu dengan terbata-bata?
“Sa-Saat kami sedang menangkap Tuan Eric, Tu-Tuan Eric justru kabur. Terjadilah saling tembak-tembakan saat itu, namun kami kalah jumlah. Ternyata Tuan Eric membawa anak buah dengan jumlah yang tidak terhitung. Banyak korban setelah penembakan saat itu,“ jelas Polisi dengan takut-takut.
“Apa? Itu artinya, Tuan Eric kabur!?“ ucap Diva dengan nada sedikit tinggi karena terkejut.
“Iya, Nona.“ jawab Polisi itu.
Diva langsung terdiam. Memikirkan kemana Eric kabur.
“Bagaimana dengan yang lainnya?“ tanya Diva. Berharap yang lainnya tidak sama dengan Eric.
“Yang lainnya, untung saja kami dapat menangkapnya. Walaupun sempat terjadi saling penembakan karena Tuan Ricky dan Nyonya Lia sempat kabur. Semua tersangka sudah tertangkap, kecuali Eric,“ jelas Polisi itu.
Diva hanya diam, mendengarkan penjelasan dari Polisi itu. Hatinya menjadi resah ketika mendengar Eric menghilang. Itu artinya, kapanpun bisa terjadi sesuatu pada dirinya dan orang terdekatnya. Dia tidak ingin hal itu terjadi. Eric harus segera ditemukan.
__ADS_1
“Baiklah. Aku akan menyuruh beberapa anak buah-ku untuk mencari keberadaannya. Jika ada kabar lainnya, hubungi aku.“ ucap Diva.
“Siap, Nona!“ jawab Polisi itu.
Lalu, sambungan telepon pun dimatikan oleh Diva secara sepihak.
Diva termenung dengan penjelasan Polisi tadi. Hingga tidak menyadari bahwa seseorang sudah berada di ruangannya.
“Kamu sedang memikirkan apa, Sya? Sampai-sampai aku yang cantik beginian tidak disadari,“
Mendengar suara yang tidak begitu asing di indra pendengaran-nya, Diva pun menoleh ke sumber suara.
Ternyata orang tersebut ialah Eca yang merupakan sahabat Diva. Diva pun melemparkan senyuman khasnya kepada sahabatnya itu.
“Ayo duduk dulu, Ca!“ ucap Diva. Eca pun duduk di salah satu sofa yang ada. Diva ikut duduk di sebelah sahabatnya itu.
“Sejak kapan kamu di sini, Ca? Kok aku tidak tahu?“ tanya Diva.
“Sejak tadi, aku sudah mengetuk pintumu berulang kali. Namin tidak ada jawaban dari mu. Karena aku takut kenapa-kenapa dengan mu, Sya. Aku pun langsung masuk. Eh, ternyata kamu malah sedang melamun. Mikirin apa, Sya?“ cerocos Eca.
Diva menghela napasnya dengan kasar sebelum menjelaskan kepada Eca.
“Ohh, Paman-nya si C ya?“ Yang ditanggapi oleh Diva dengan anggukan kepala.
“Ada apa dengan-nya? Apakah dia sudah ditangkap?“ Eca sudah mengetahui segalanya karena Diva sudah pernah menceritakan kepadanya.
“Dia kabur saat sedang ingin ditangkap. Bahkan hingga terjadi penembakan yang menyebabkan banyaknya korban luka,“ jelas Diva dengan wajah lesu.
“Apa!?“ pekik Eca terkejut.
“Iya, Ca. Baru saja pihak kepolisian menghubungi ku. Aku awalnya juga tidak percaya.“
“Bagaimana dengan yang lainnya?“ tanya Eca.
“Yang lainnya berhasil ditangkap walaupun empay terjadi penembakan, Ca.“ jelas Diva.
__ADS_1
“Berarti hanya Tuan Eric yang tidak berhasil ditangkap?“
“Iya, Ca. Aku takutnya pria itu berulah kembali.“ jelas Diva.
“Kita harus memperketat keamanan,“ saran Eca.
Diva hanya mengangguk.
“Oh ya, Ca. Data perusahaan Papa kamu juga perlu ditingkat. Takutnya malah jadi sasaran pria itu karena sistem keamanannya kurang kuat,“ ucap Diva.
“Iya ya. Aku lupa soal itu. Terima kasih, Sya. Nanti bantuin aku ya,“ pinta sahabatnya.
“Iya, Ca. Nanti aku bantuin kok. Kita harus memperketat semua keamanan kali ini. Harus berkali-kali lipat.“
Suasana hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga salah satu dari mereka mulai membuka suara kembali.
“Sya. Aku dengar, kamu akan menikah dua hari lagi ya?“ tanya Eca.
“Iya, Ca.“ jawab Diva.
“Tuan Calvin ya kalau nggak salah?“
“Iya benar, Ca.“
“Apa menurut-mu, Tuan Calvin ingin membantu kita untuk mengatasi masalah yang sedang kita hadapi? Kamu tahu ‘kan, jika anak buah yang dimiliki olehnya lebih banyak dibandingkan kita. Karena saat kecelakaan saat itu, anak buah kita berpindah ke tim-nya,“ ucap Eca tiba-tiba.
Diva terdiam. Lalu tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu.
“Aku bantu buka ya, Sya.“ Yang ditanggapi oleh Diva alias Sya dengan anggukan kepala.
Sahabat Diva pun segera membuka pintu.
“Sayang! Aku mendengar kamu sedang menghadapi masalah?“
“Deg!“
__ADS_1
To be continued...
Hehe, besok baru douple update lagi ya. Diusahakan. Jangan lupa dukungannya ya. Terima kasih.