
“Menjauh dari sini, bu! Cepat pergi ke tempat orang itu dan minta perlindungannya. Aku tak bisa bertarung sambil melindungimu!”
Mad Dog penuh urgensi menyampaikan demikian. Dia tak bisa membiarkan sesuatu terjadi kepada ibunya.
“Kamu sungguh anjing yang baik dan penyayang ibu. Ini hampir membuatku terharu dan ingin membunuhmu secepatnya!”
“Kamu benar kakak! Ayo kita seret ibunya hidup-hidup dan mempermalukannya! Itu lebih baik ketimbang mengakhirinya dengan membunuh.”
Dewa Anjing Iblis kembar berkata demikian. Mad Dog tak mengenal keduanya namun dari jenisnya mereka adalah Golden Retriever.
Baginya kedua anjing itu hanyalah keroco yang bisa dimusnahkan satu kali pukulan. Namun dikarenakan dia sedang melindungi ibunya, Mad Dog tak mampu bertarung leluasa.
Setiap kali dia menghadapi satu maka yang lainnya akan mengincar ibunya. Itu adalah taktik merepotkan yang sulit diatasi Mad Dog sekalipun.
Ditambah luka dari pertarungannya dengan Arcturus masih membekas. Dia tak berharap akan terluka separah itu hanya dengan melawan sekelompok orang-orang lemah.
Sekalipun sudah tiga hari berlalu bukan artinya dia sudah sembuh sepenuhnya.
“Jika sesuatu terjadi kepada ibuku maka kalian akan merasakan yang lebih buruk dari kematian!”
Mad Dog bersumpah akan membunuh mereka. Tiada keraguan dalam kata-katanya tersebut.
“Haha! Kamu hanya besar mulut, sejak tadi bahkan tak mampu melancarkan pukulan!”
“Menyedihkan, sangat menyedihkan! Ini, cepatlah pukul di sini!”
Golden Retriever menunjukkan pipinya, menantang Mad Dog untuk menghajarnya. Sekalipun Mad Dog sangat ingin melompat dan memukulnya namun dia tidak bisa.
Emosinya sangat memuncak namun itu takkan mampu memancingnya untuk meninggalkan ibunya.
Masalah utama yang ia khawatir adalah Doberman yang hanya diam mengawasi sejak tadi tanpa sepatah katapun.
Seekor anjing dengan rambut biru gelap dan berbadan kekar tersebut hanya mengamati Mad Dog tanpa bertindak maupun sepatah kata.
‘Dia kuat.’
Tak lebih kuat dari dirinya namun dengan kondisi saat ini melawannya sangat merepotkan. Terutamanya jika ketiga anjing itu bekerjasama, mungkin Mad Dog takkan bisa mengatasinya.
Dia dihadapkan dengan pilihan yang sulit untuk diambil.
‘Membunuh ketiganya masih bisa kulakukan, tetapi risikonya adalah kehilangan ibu.’
Dari yang diberitahu ibunya, Dewa Anjing Iblis adalah ras yang sangat licik. Mereka akan melakukan apapun untuk kemenangan.
Situasi kemenangan tiga anjing itu saat ini adalah membawa Mirae, maka Mad Dog akan dengan mudah dapat dikendalikan.
Sebaliknya, kondisi kemenangan Mad Dog sendiri sangatlah sulit. Dia harus bertahan dan menjamin keselamatan ibunya. Lalu, dia butuh jaminan bahwa para anjing lainnya tidak akan datang mengejarnya.
Ada pilihan menghabisi ketiganya dengan cepat, tetapi risikonya juga tidak sedikit. Seandainya dia membunuh tiga anjing itu, maka akan memancing lebih banyak kaumnya untuk datang.
‘Sial, ini tidak mudah!’
Kini dia benar-benar mengerti apa yang dimaksud ayahnya dan juga bajingan Arcturus itu. Sekalipun dirinya kuat namun ada hal-hal yang tak bisa dilakukan sendirian.
Tiada gunanya jika hanya dia yang kuat sendirian.
“Yohan putraku, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini! Ibu akan mengulur waktu untukmu!”
Mirae melangkah maju di depan putranya, bersikap seakan-akan melindunginya.
“Itu mustahil untukmu, bu! Aku tidak mau kehilanganmu!”
Mad Dog menaikkan suaranya dengan kesal dan berusaha menarik ibunya berlindung di belakang punggungnya.
“Dengarkan ibumu, nak. Kamu harus pergi dan berlindung dari mereka. Tenang saja, ibu akan baik-baik saja dan segera menemuimu.”
Mirae tersenyum selembut mungkin, senyuman yang sangat dihargai Mad Dog— Yohan. Senyuman yang membuatnya bisa bertahan dari hari ke hari sekalipun dunia ini terlalu kejam untuknya.
“Aku takkan meninggalkanmu apapun yang terjadi, bu—”
“Apa kamu berani membantah ibu?!” Mirae menaikkan suaranya. “Kamu harus mematuhi ibumu dan cepatlah pergi! Apa kamu ingin membuat ibumu menangis, nak?”
Mad Dog terdiam, gemetar dan menggiring bibirnya. Dia tak berani menentang ibunya, tetapi juga tak bisa menurutinya.
Jika ia pergi dari sini maka itu adalah akhir bagi ibunya. Mad Dog tahu betul bahwa meninggalkannya bukanlah pilihan yang bisa diambil.
“Apa kamu ingin meninggalkanku sendirian, bu?” Mad Dog berkata dengan gemetar.
Mirae ingin mengatakan sesuatu namun terdiam, suara tak mampu untuk keluar.
“Kamu adalah segala yang aku punya. Ibu adalah dunia yang aku miliki, apakah kamu memintaku melepaskan dunia itu?”
Air mata menetes. Mad Dog mengepal tangannya kuat-kuat. Tak peduli sekalipun dirinya dikenal sebagai sosok yang terkuat, pada akhirnya ia akan mampu menangis.
Pria terkuat di muka bumi sekalipun pasti sangat lemah terhadap eksistensi yang dikenal ibu. Toh, dunia ini menuntut pria agar jadi lebih kuat.
"Pria tak boleh lemah, pria takkan menangis, pria itu kuat" stigma seperti itu adalah hal yang ditanamkan pada semua pria.
Namun jika itu berkaitan dengan sosok ibu, apakah kuat memiliki arti? Setiap pria adalah anak kecil di hadapan seorang ibu. Hanya saja terkadang anak kecil tersebut bersikap seolah-olah dewasa demi tak membuat khawatir ibunya.
“Apa ibu ... memintaku sendirian? Aku tak mau itu—”
__ADS_1
Tepat saat Mad Dog mengatakan demikian, Golden Retriever melesat maju ke arahnya.
“Yohan-!”
Mirae bergegas menghadangnya dan menerima cakar Golden Retriever tersebut.
“Haha! Sungguh adegan yang mengharukan sampai aku ingin menangis!”
Cruch!
Luka besar terbentuk di perut Mirae, darah segar mengalir baik dari perut maupun mulut yang memuntahkan darah.
“Tidak ... ibu!”
Mad Dog membungkus tangannya di luka Mirae selagi menangis. Kepalanya kacau, memunculkan pemikiran pesimis tentang kondisi ibunya.
“Dasar menyedihkan. Susah payah mengejarmu hingga ke benua ini namun hasilnya mengecewakan.”
“Sebaiknya kita bunuh mereka dan bawakan kepalanya kepada pemimpin.”
Golden Retriever kembar berjalan perlahan ke arahnya. Mad Dog tak sempat mempedulikan mereka, ia hanya khawatir tentang ibunya.
Bahkan jika memang harus berakhir seperti ini, Mad Dog akan membunuh semua bajingan itu dan mati bersama ibunya.
Namun rupanya takdir akan berkata lain atas masa depannya.
“Hentikan tindakan kalian.”
Suara yang lemah namun juga kuat sampai ke telinga mereka. Segera Mad Dog merasakan aura luar biasa datang dari tempat lain.
Para anjing melompat mundur dengan waspada, mengamati sosok yang berbicara dari dalam hutan dan mendekat.
Untuk pertama kalinya, anjing Doberman mengerutkan kening dan berbicara.
“Siapa kamu?”
“Arcturus Religia.”
Sosok Arcturus muncul bersama dengan Edward juga Leona. Kedatangannya mungkin terkesan heroik namun kondisinya yang duduk di kursi roda membuat kesan gagahnya menghilang.
“Mari kita bicara dengan tenang Hound Dog.”
Doberman mengangkat alisnya karena perkataan Arcturus menarik minatnya. Dia kemudian tersenyum dan mendengus tertarik.
“Kamu bukan manusia sembarangan karena tahu bahwa aku adalah Hound Dog yang bahkan bocah itu tak ketahui. Aku juga pernah mendengar bangsawan Religia. Jadi begitu, kamu memiliki kenalan merepotkan, bocah pelarian.”
Arcturus bertanya-tanya tentang apa yang dimaksud bajingan itu dengan merepotkan. Mungkin itu tentang rumor yang sudah beredar belakangan.
“Hah?! Bajingan bodoh, buat apa kami mengikuti perkataan orang cacat sepertimu—”
“Kamu yang diam anjing bodoh.” Doberman berkata kesal kepada Golden Retriever, membuatnya menunduk maaf dan diam.
“Maaf atas gangguan itu,” ujarnya selagi melipat tangan di dada dan memejamkan mata. “Sayangnya aku tak bisa melakukan itu. Kami sudah mencarinya sejak lama dan tidak mungkin melepaskannya begitu saja.”
Sudah diharapkan bahwa mereka takkan mundur begitu saja dengan mudahnya. Arcturus tahu betul betapa keras kepalanya Dewa Anjing Iblis.
Arcturus tersenyum masam, “Itu akan merepotkan. Kalau bisa aku tak ingin melakukan pertarungan yang sia-sia di sini.”
Doberman membuka matanya, melihat Arcturus dengan tatapan yang misterius.
“Pertarungan sia-sia di sini, ya ... itu artinya kita akan memiliki pertarungan berarti di tempat lain, kan?”
Arcturus menjawabnya dengan senyuman saja, membuat Doberman bertanya-tanya tentang apakah itu konfirmasi atau tidak. Senyumannya menandakan bahwa jawabannya abu-abu.
“Hmm, bagaimana jika kamu menunda perburuanmu sekarang? Tentu saja aku akan memberikan imbalan yang setara.”
Doberman tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Sejak awal Arcturus memasuki panggung ini, Doberman sialan itu mengincar percakapan ini.
Dia berusaha menilai apakah Arcturus orang yang berharga atau tidak dengan cara berbicara. Seandainya Arcturus tak memiliki sesuatu yang berarti, bajingan itu pasti sudah menyerangnya.
“Apa yang kamu maksud?”
“Aku tahu cara melepaskan segel yang kalian, Dewa Anjing Iblis berusaha mati-matian untuk melepasnya.”
Doberman mengerutkan alisnya dengan marah. Aura mengerikan segera keluar dari tubuhnya.
“Apa yang kamu ketahui tentang segel?”
Arcturus tersenyum, “Hanya sedikit. Aku tahu kamu menginginkan Mirae sebagai pengorbanan untuk membukanya. Oleh karena itu aku akan memberikanmu informasi yang sepadan.”
Dewa Anjing Iblis sedang dalam upaya untuk membuka sesuatu. Arcturus mengetahui ini berkat informasi novel dan kehidupan sebelumnya.
Seandainya saja ia hanya bergantung pada novel maka hal ini tidak akan terungkap. Namun berkat dia yang memulai ulang dunia ini, informasi di tangannya sangat berlimpah.
“Land of Creation ... kamu akan menemukan apa yang kamu butuhkan di sana. Aku yakin kamu memahaminya tanpa perlu aku jelaskan.”
Doberman diam tanpa berekspresi, mencegah Arcturus menemukan informasi apapun dari reaksinya.
Dewa Anjing Iblis pastinya tahu akan hal itu namun mereka tak meyakini kebenarannya. Oleh karena itu Arcturus perlu memberikan validasi yang bisa ia percaya.
“Aku yakin kamu sudah menebak aura yang aku keluarkan adalah salah satu Ancient Determination. Aku mendapatkan ini sendiri, maka tentu saja aku mengetahui Ancient Determination yang berusaha kalian dapatkan.”
__ADS_1
Dewa Anjing Iblis berusaha melepaskan Ancient Determination yang sudah diwariskan oleh leluhur mereka dari generasi ke generasi.
Hanya Ancient Determination yang satu ini sedikit unik sehingga tak mudah memilikinya.
“Jadi begitu. Kamu mengatakan hal menarik ... maka baiklah. Kami akan mengikuti kesepakatan ini. Hanya saja ada hal yang membuatku tertarik,” Doberman menyipitkan matanya. “Apa di sana kita takkan bertarung sia-sia?”
Arcturus memiliki senyuman di bibirnya, “Ya. Di sana kita bisa bertarung untuk mendapatkan sesuatu. Mungkin kamu bisa mewujudkan mimpi yang kamu kubur selama ini.”
Doberman ikut tersenyum dengan puas sebelum berbalik dan pergi. Golden Retriever mau tak mau mengikutinya dengan perasaan yang enggan.
“Huh, akhirnya berakhir. Edward, cepat bawa Mirae ke kediaman, Leona kamu bantu dia!”
“Ya!
Arcturus tak mau membuang-buang waktu dan perlu bertindak dengan cepat.
Edward dan Leona segera membawa Mirae pergi dengan teleportasi, sementara meninggalkan Arcturus berdua dengan Mad Dog.
Bocah itu tampaknya patuh dan membiarkan ibunya di bawa.
Suasana hening sampai beberapa waktu berikutnya.
“Kamu tampak berantakan, Mad Dog.”
Tiada tanggapan sama sekali dari Mad Dog yang diam membatu. Arcturus menyadari bahwa Mad Dog sudah ditampar realita.
“Segalanya tidak akan jadi lebih baik, Mad Dog. Kamu tak bisa melindungi sesuatu yang berharga sendirian. Ayahmu tahu itu, dan memintamu mencari rekan yang akan berdiri di sisimu. Namun kamu salah mengartikannya dan menyebabkan tragedi ini terjadi.”
Mad Dog memiliki kemampuan dan potensi yang besar. Dia adalah salah satu dari sedikitnya orang yang mampu membuat Alda kerepotan melawannya.
Bajingan ini mungkin jadi yang paling sulit dihadapi ketimbang protagonis utama lainnya.
Namun sama dengan yang lainnya, Mad Dog memiliki kekurangan fatal terkait ideologi dan kepercayaan. Dia besar dengan lingkungan yang membuatnya hanya bisa percaya kepada dirinya sendiri.
“... kamu benar. Tidak peduli seberapa kuatnya aku, ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu kekuatanku tak bisa melindungi apapun.”
Bagi orang sepertinya mengakui kegagalan adalah hal yang sulitnya luar biasa. Mad Dog tak pernah membayangkan bahwa dirinya harus belajar dari kesalahan.
“Apa yang harus ... kulakukan?” Mad Dog menunduk dengan perasaan pahit.
“Kamu kuat ... sangat kuat. Namun kedua tanganmu lemah bila harus melindungi sesuatu. Oleh karena itu, kamu memiliki tangan lain yang akan menggantikanmu melindungi.”
Orang lain yang akan ada di sisinya ketika ia hendak pergi menghancurkan. Orang yang akan menjadi tangan yang menepuk punggungnya, menyampaikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tangan yang akan mendorongnya untuk tak khawatir, bahwa dunianya yang berputar di sekitar ibunya akan baik-baik saja.
Arcturus dengan kursi rodanya bergerak mendekati Mad Dog hingga ia berada tepat di depannya.
“Haha, kamu adalah orang yang sangat kuat sampai aku harus lumpuh untuk bicara padamu. Sejak awal kamu tidak pernah perlu bantuan apapun dari siapapun.”
Protagonis utama, Seong Yohan atau yang dikenal Mad Dog hanyalah bocah dalam masa pubertas yang naif memandang segala hal. Hanya karena bajingan ini kuat, terkadang Arcturus bahkan lupa bila Mad Dog jauh lebih muda darinya.
“Namun maukah kamu menolongku, Yohan? Aku membutuhkanmu. Bukan untuk menjadi senjata bertarung, tetapi sebagai teman yang bertarung bersamaku. Sebagai gantinya, aku bersumpah akan menyelamatkan ibumu.”
Arcturus mengulurkan tangannya sementara Mad Dog hanya menatapnya dengan diam.
“Kamu ... mau mengulurkan tangan untukku yang menyebabkan kelumpuhanmu?”
“Aku masih kesal karena kamu memukulku. Namun itu bukanlah alasan untuk membencimu. Pada akhirnya, teman adalah orang yang akan saling bertengkar sebelum berbaikan setelahnya.”
Teman atau mungkin sahabat adalah keberadaan orang yang bisa diajak bertengkar dan saling merangkul lagi setelahnya.
“Tinju adalah cara pria untuk mengakrabkan diri. Pertarungan kita hanyalah sarana untuk membuat kita bisa bicara seperti ini, kan? Yah, meskipun aku tak mau lagi bertarung denganmu.”
Arcturus pasti akan lebih dari sekedar lumpuh jika bertarung sekali lagi dengannya.
Melihat itu, Mad Dog tersenyum dan tertawa.
“Kamu hanya bajingan lemah yang bisanya keroyokan dan bermulut besar.”
“Ya. Begitulah cara orang lemah terkuat bertarung.”
Mad Dog mengamati Arcturus seksama. Itu adalah pria berambut hitam, satu-satunya orang yang melakukan hal mengerikan untuk menciptakan sesuatu seperti ini.
“Kamu tak berbohong kalau bisa menyelamatkan ibuku, kan?”
“Aku takkan berbohong tentang itu.”
“Lalu jika begitu,” Mad Dog mengambil satu langkah dan menjabat tangan Arcturus. “Aku akan menjadi kaki yang membawamu melangkah ke tujuanmu.”
Arcturus tersenyum. Dalam hatinya dia merasa hangat dan lega, bahkan dicampur dengan haru.
Pada akhirnya menjalin hubungan yang setara dan damai dengan Mad Dog tercapai. Kemudian, Arcturus mengingat kembali permintaan terakhir Mad Dog sebelum kematiannya.
‘Seandainya kamu berhasil mengulangi dunia ini ... tolong, aku ingin memiliki hubungan yang baik denganmu. Persis seperti kakak-adik yang selalu kamu ungkapkan wahai teman pertama dan juga kakak laki-lakiku, Arcturus!’
Setiap kali mengingat peristiwa itu membuat hatinya sakit. Namun sekalipun demikian Arcturus akan membawa rasa sakit tersebut dan terus melangkah ke depan.
Untuk melawan dunia yang bahkan penjahat utamanya belum terungkap, Arcturus akan bertarung sampai masa depan yang ia harapkan berada di genggamannya.
...****************...
__ADS_1
...Arc III — Protagonis Utama, Mad Dog — End....