
Kota tampak ramai dan indah jika mengesampingkan beberapa pemandangan mengerikan di gang kecil, tempat para budak biasanya beristirahat.
Alda berusaha mengabaikannya dan tentu saja Mary berperan penting untuk membuatnya menghindar dari daerah yang seperti itu.
Dengan cumi bakar di tangannya Alda menjajah setiap toko makanan yang menarik perhatiannya.
“Baru kali ini aku merasakan hewan aneh ini. Apa habitatnya ada di gunung khusus, nek?” tanya Alda.
Mary yang berjalan di sampingnya tampak seperti wanita tua berjalan-jalan dengan cucuknya. Bahkan dia memiliki wajah lembut yang sama seperti seorang nenek pada umumnya.
“Cumi tidak hidup di hutan tetapi di daerah perairan seperti laut. Apa kamu bahkan tidak tahu itu?”
Alda memiringkan kepalanya, “Laut? Apa itu adalah sebuah tempat yang dikatakan memiliki banyak sekali air? Aku pernah mendengar tentangmu namun tidak kusangka ada hal-hal seperti ini.”
Mary kehilangan senyumnya dan memandang Alda dengan penasaran. Memang bagaimana bisa seseorang tidak memiliki pengetahuan umum tentang itu?
Tidak mungkin ada orang tua yang begitu kejam untuk tak mengajari apa-apa. Bahkan setidaknya Alda harusnya tahu tentang hewan-hewan laut.
‘Dari mana Tuan Muda mengenalnya? Bagaimana bisa seseorang tidak memiliki banyak pengetahuan umum.’
Alda berhenti ke sebuah toko penempa. Mary segera menyusulnya dan menemukan Alda tertarik dengan penempa yang melakukan pekerjaannya.
“Mengapa kamu membakar batu dan memukulnya? Apa itu semacam hobi?” tanya Alda dengan polos.
Mary terbelalak lantaran sikap Alda tampak seperti anak kecil yang baru mengenal dunia.
Si penempa pendek dan tua tersenyum ramah, menjawab meski tetap melakukan pekerjaannya.
“Itu tidak salah. Bisa dibilang menempa senjata adalah hobi yang aku tekuni. Dari hobi inilah aku bisa hidup dan bahagia. Mencurahkan seluruh kehidupan kepada hal yang membuatmu bahagia sungguhlah luar biasa, gadis kecil.”
“Senjata?” Alda mengerutkan keningnya.
“Ya. Batu yang kamu maksud adalah bijih besi yang dipanaskan agar mudah terbentuk. Melalui proses-proses yang panjang itu akan berubah menjadi pedang dan lainnya.”
Alda menatap Mary dan terlihat jelas merasa aneh dengan penjelasannya.
“Mengapa perlu melakukannya dengan cara yang amat merepotkan padahal kau hanya perlu menggunakan sihir untuk membuat apapun.”
Mendengar perkataan Alda membuat Mary maupun si penempa tua terdiam.
Mary menatapnya dengan heran, harusnya semua orang tahu bahwa tidak mungkin senjata bisa tercipta begitu saja melalui sihir.
“Alda, apa kamu tahu bahwa sihir bahkan tidak maha kuasa? Sihir tidak bisa menciptakan wujud fisik seperti senjata. Sihir hanya mampu mengisi sebuah senjata agar menjadi lebih kuat.”
__ADS_1
Bahkan kasus seperti senjata sihir tidak langsung benar-benar diciptakan hanya dengan sihir. Bahkan anak kecil seharusnya tahu kemustahilan itu.
“Padahal ayahku menciptakan pedang dengan meniup pohon.”
Alda lekas pergi setelah mengatakan itu. Meninggalkan Mary dan si penempa dalam kebingungan.
“Maafkan kami, tuan. Dia belum tahu banyak hal tentang pengetahuan umum,” ujar Mary selagi tersenyum masam.
Si penempa tua hanya melihat Alda pergi, tidak. Dia lebih terfokus kepada pedang di pinggangnya.
“Yah, tidak masalah. Namun aku terkejut dia mengatakan itu yang mana merupakan metode kuno. Selain itu pedangnya juga sedikit aneh. Aku bisa merasakan bahan luar biasa membentuknya.”
Mary hanya menatap kepergian Alda. Perkataan si penempa membuatnya berpikir bahwa Alda mungkin memiliki latar belakang yang luar biasa.
Selagi berjalan-jalan Alda masih dengan tertarik melihat-lihat kios makanan. Mary masih berada di tempat penempa sehingga Alda memilih memperlambat langkahnya.
Klang!
Dia mendengar lonceng berbunyi, menemukan seorang wanita unik di depannya yang berjalan ke arahnya.
Wanita yang menggunakan jubah dan kain putih di kepalanya, rambut keunguan yang indah namun anehnya meski dia menggunakan penutup mata putih wanita itu berjalan seakan-akan bisa melihat dengan jelas.
Pada pandangan pertama Alda berpikir wanita itu bangsawan seperti halnya Arcturus, tetapi sangat aneh ketika wanita berpenampilan mencolok itu tidak diperhatikan sama sekali.
“Aroma seekor naga.”
Mendengar itu membuat Alda membelalakkan matanya dan mematung.
Tidak ada yang tahu sama sekali bahwa dirinya berhubungan dengan naga. Bahkan Arcturus demikian, tetapi Alda tidak menyangka orang asing akan mengetahuinya begitu saja.
“Kau—” Alda mencari wanita itu namun keberadaannya dengan cepat menghilang begitu saja.
Namun tanpa menyerah Alda berusaha mencarinya dan melalui gang kecil yang gelap. Dia bisa melihat siluet dari wanita itu yang terus berjalan dan perlahan menyatu dengan kegelapan.
“Siapa kau? Apa maksud perkataanmu—”
“Aku hanya asal bicara. Kita pasti akan bertemu lagi cepat atau lambat.”
Alda ingin mengejar dan meraihnya, tetapi intuisinya mengatakan untuk tidak melakukannya. Seandainya dia mencoba, mungkin Alda tidak akan pernah bisa menemui wanita ini lagi.
“Dipertemuan selanjutnya akan aku beritahu sesuatu yang paling ingin kamu ketahui. Tentunya jika takdir menghendaki, hehehe.”
Keberadaannya menghilang sepenuhnya di dalam kegelapan. Hampir seakan-akan tidak pernah ada, bahkan Alda sulit mempercayainya.
__ADS_1
“Sesuatu yang ingin aku ketahui.”
Alda mengepalkan erat tinjunya. Hanya ada satu tujuan yang membuat Alda keluar dari hutan dan melakukan penjelajahannya sendiri.
“Di manapun kamu berada—”
Satu-satunya keluarga yang Alda miliki selama hidupnya.
“Aku akan menemukanmu, ayah.”
Sang naga yang menghilang tiba-tiba dan meninggalkan Alda Carinea sendirian.
*****
Malam adalah waktu terbaik untuk para kriminal bertindak. Selain sepinya aktivitas, kegelapan malam juga berguna untuk menghapus jejak.
Namun bagi Arcturus malam tidak hanya memiliki manfaat remeh belaka, tetapi malam hari adalah saat ketika kemampuannya paling bisa diandalkan.
The Envy of Assassin sejatinya adalah kekuatan seorang pembunuh, dan orang dengan profesi tersebut akan bergerak ketika malam hari tiba.
“Malam ini cuacanya sangat bagus.”
Arcturus berdiri di puncak menara jam paling tinggi di kota ini. Dia menggunakan pakaian serba hitam polos, masker hitam dan jubah bertudung untuk menutupi rambut juga wajahnya.
Matanya yang kemerahan seakan-akan menyala terang di tengah kota yang sepi akan aktivitas.
“Waktunya bertindak sebelum perjamuan dilaksanakan.”
Untuk menghancurkan Silverstone dan menyelamatkan putri, maka mulai dari sekarang Arcturus perlu menebarkan benih yang akan bisa dimanfaatkan Shin nantinya.
Selain itu ada alasan lain mengapa Arcturus bertindak secepat ini meski awalnya ia ingin melakukannya lusa.
• Aku merasakan kehadiran jubahku.
Si pembunuh yang merindukan jubahnya sudah sangat berisik sejak Arcturus tahu tentang itu. Menyebalkan untuk terus mendengarkan suaranya yang mengerikan sehingga Arcturus ingin membungkamnya segera.
“Tidak bisakah kamu diam saja jika tidak ingin memberitahukan lokasinya?!”
• ....
Setiap kali Arcturus marah maka suaranya henyap seketika. Itu hanya membuatnya semakin kesal.
“Huh,” Arcturus menghela napas dan memukul keningnya. “Mari kita bakar beberapa orang.”
__ADS_1