
Protagonis utama kedua, Mad Dog.
Diceritakan pada umurnya ke lima tahun dia meninggalkan kawanan bersama ibunya. Pada pandangan pertama sama sekali tidak mudah pergi dari Dewa Anjing Iblis, ras yang tidak mengizinkan sesamanya meninggalkan kawanan.
Meskipun mereka seekor demi-human jenis anjing, mereka lebih seperti serigala yang bergerak dengan kawanan.
Mereka hampir tak pernah menetap di satu tempat, Dewa Anjing Iblis adalah ras yang tidak benar-benar tinggal di satu tempat. Mereka memiliki empat tempat tinggal berbeda yang akan ditinggali pada keadaan tertentu.
Namun pada suatu waktu kepala suku tidak menyukai Mad Dog dan menginginkan nyawanya. Tentu saja sebagai orang tua tidak ada yang mau anaknya terluka. Oleh karena itu, kedua orang tuanya meninggalkan kawanan.
Ayahnya tewas saat dalam pelarian, lebih tepatnya dia mengorbankan nyawa agar istri dan anaknya berhasil pergi.
Meski begitu perjuangannya tidak segera berakhir. Dewa Anjing Iblis masih terus mengendus jejak mereka sehingga tak ada tempat yang benar-benar aman.
Dan, untuk bertahan hidup mereka membutuhkan uang. Ibunya, Ellia sampai menjual tubuh dan melakukan berbagai jenis pekerjaan untuk bertahan hidup.
Mau bagaimana lagi? Dia tidak bisa berburu ataupun menjadi petualang karena anjing lainnya akan mengendus jejaknya.
Tahun demi tahun berlalu sampai Mad Dog berusia sebelas tahun. Dia yang sudah menyaksikan perjuangan ibunya selama enam tahun masa pelarian mulai bertanya-tanya.
‘Mengapa sesamaku ingin membunuhku? Apa dosa yang pernah aku atua orang tuaku lakukan?’
Tak peduli seberapa banyak dia bertanya, ibunya tak benar-benar memberikan jawabannya sampai Mad Dog tidak peduli lagi.
Dia hanya mengkhawatirkan kondisi ibunya yang semakin memburuk hari demi hari. Tubuhnya sangat kurus tidak seperti yang dia ingat saat masih kecil.
Kulitnya yang putih pucat, tangannya penuh dengan memar dan bahkan kapalan yang tak sepatutnya dimiliki wanita. Itu menunjukkan seberapa keras dia berusaha, dan seberapa keras dia menghidupinya.
Melihat ibunya yang menderita seperti ini membuatnya semakin bertanya-tanya. Sebenarnya, dari mana semuanya menjadi sangat salah?
“Mengapa hanya kita yang harus seperti ini, bu?”
Namun ibunya hanya tersenyum dan membelai lembut rambut Mad Dog yang semerah darah.
“Karena takdir. Jika takdir sudah berkehendak maka kita hanya bisa menjalani.”
__ADS_1
Mad Dog tidak pernah menerima takdirnya. Mengapa takdir hanya kejam kepadanya? Dia kerap melihat manusia seusianya bisa hidup dengan riang. Bahkan tak ada orang dewasa sekurus dan sakit seperti ibunya.
Apa takdir hanya membencinya meskipun dia tak pernah melakukan kesalahan fatal?
“Mengapa kita tak melawannya bu? Ayah selalu mengajarkan aku untuk melawan jika ditindas!”
Sekali lagi ibunya hanya tersenyum dengan lemah. Itu adalah senyuman di mana Mad Dog menjadi sangat lemah dan tak bisa membantah.
“Maka kamu harus menjadi anak yang kuat putraku, Seong Yohan. Dunia ini memiliki orang baik dan jahat. Kamu harus menjadi sisi baik, bertemulah dengan orang-orang baik dan melawan kejahatan.”
Itu adalah kalimat yang dia pegang teguh sampai suatu ketika, ibunya dipukuli sedemikian rupa. Hanya karena menjatuhkan beberapa potong roti ibunya harus menderita seperti itu.
Belum lagi karena terlalu banyak bekerja dan berurusan dengan hal-hal yang harusnya dihindari, ibunya terkena penyakit yang sulit disembuhkan.
Mad Dog— Seong Yohan mulai mencari cara menyembuhkannya. Hingga ketika dia bertemu bangsawan yang menjanjikan potion jika dia melakukan berbagai pekerjaan untuknya.
Namun pada akhirnya setelah hampir setahun melakukannya, potion yang dijanjikan tak pernah dia dapatkan.
“Dunia memiliki orang baik dan jahat. Namun bukankah semua orang jahat padaku?”
Untuk pertama kali dalam hidupnya Mad Dog meragukan perkataan ibunya. Dunia ini hanya ada orang jahat yang selalu mengkhianati dan menipunya.
Dan di situlah sebuah Count di kerajaan Wizard lenyap oleh seorang pria dalam satu malam. Pria dengan garis darah Dewa Anjing Iblis yang menghancurkan sebuah keluarga bangsawan demi sebuah potion.
Dari insiden itulah Seong Yohan mendapatkan gelar yang dikenal semua orang, Mad Dog.
****
Arcturus memakai jubahnya yang berharga, dia sudah mendapatkan tujuannya di tempat ini.
Nektar Kehidupan sudah ada di tangannya. Untuk berjaga-jaga dia memetik empat bunga. Yah, bahan ini tidak hanya berguna untuk membuat Elixir. Ada manfaat lain yang bisa ia dapatkan.
“Aku sudah mendapatkan satu bahan. Blodwyn rupanya sudah menemukan informasi tentang bagian Phoenix.”
Koneksi Blodwyn tidak pernah sekalipun Arcturus meremehkannya. Dia tahu wanita itu akan mendapatkannya cepat atau lambat. Meski Arcturus tahu lokasinya, dia tetap ingin menguji kecepatan informasi Blodwyn.
__ADS_1
Blodwyn juga memberitahu Arcturus melalui Proyektor Sihir, bahwa dia akan segera berangkat menuju Kekaisaran Tengu.
“Mungkin sulit namun aku mengenal seorang bangsawan di sana. Kami akan masuk tanpa diketahui banyak pihak.”
Arcturus cukup lega tentang itu namun dia khawatir dengan keadaan Alda. Belum lama dia pergi bersama Blodwyn, Arcturus bisa melihat ada yang berubah.
Mulai dari pakaiannya yang jauh lebih feminim dan gaya rambut twin tail yang mana bukan gaya khasnya. Alda tampak sangat merah karena Arcturus melihatnya dengan penampilan itu.
Tentu saja bagi Arcturus seperti apapun penampilan Alda, cantik tetaplah cantik.
“Seberapa lama kamu mau melihat?” Alda menatapnya dengan tajam sehingga Arcturus merinding sekujur tubuhnya sebelum mematikan perangkat komunikasi.
Itu saat lalu. Sekarang Arcturus sedang dalam persiapan untuk mencari Mad Dog.
“Semuanya jauh lebih cepat dari yang kuduga. Aku harap bisa membuat Elixir lebih cepat. Ini demi Mad Dog juga.”
Tidak ada yang paling bisa berbicara kepada bajingan itu selain ibunya. Mad Dog adalah jenis keras kepala yang menonjok wajah orang bahkan sebelum sempat berbicara.
Untuk alasan seperti itu Alda tidak dikhususkan untuk ini. Arcturus tak mau melihat pertarungan brutal antara protagonis utama untuk kedua kalinya seperti kehidupan sebelumnya.
“Tuan Muda, semuanya sudah siap. Kita bisa pergi kapanpun.”
Arcturus mendengar suara Mary dari balik pintu. Dia segera menggunakan tudung jubahnya dan berjalan keluar.
Bisa dilihat Mary juga menggunakan jubah berwarna putih polos, dan satu orang lainnya yang tersenyum cerah.
“Tidak pernah aku membayangkan akan bepergian seperti ini.”
“Kamu tak seharusnya melakukan ini, Leona.”
Rekan perjalanan Arcturus bertambah satu orang. Untuk menghadapi Mad Dog, Arcturus sama sekali tidak bisa gegabah.
“Ini penting untuk ras Ogre dan juga untukku. Melalui perjalanan ini aku akan menilai orang seperti apa dirimu, Arcturus Religia.”
Mungkin Leona memiliki pemikiran tertentu, tetapi Arcturus merasa tak perlu menggalinya. Toh, Leona takkan menjadi barang bawaan. Dia wanita yang kuat.
__ADS_1
“Kalau begitu mari kita pergi.”
Tujuan selanjutnya adalah berburu seekor anjing liar.