
“Mati.”
Golok gergaji berada tepat di atas kepalanya. Itu ada jarak yang sangat tipis dan sulit untuk menghindar. Namun Alda sama sekali tidak panik maupun gentar, dia selalu setenang langit.
Clang!
Dengan cepat Alda memutar tangan dan menangkisnya dari belakang punggung menggunakan pedang.
Rentaro jelas terkejut bahwa Alda bisa bergerak seperti itu. Tangannya hampir seakan-akan bisa berputar satu lingkaran penuh.
“Kamu lumayan menyebalkan.”
Itu bukan gerakan yang mudah bahkan untuk Alda. Meski tubuhnya dikatakan cukup elastis, Alda masih memiliki batas-batas di mana dia bisa melakukan pergerakan.
Memutar lengannya seperti yang dia lakukan sebelumnya adalah satu hal yang bisa dia lakukan dengan persendiannya.
‘Namun dia hebat. Terlambat sebentar kepalaku sudah pasti melayang.’
Alda bisa merasa bahwa satu ayunan golok gergaji itu akan terasa seperti dua serangan di waktu yang sama.
Rentaro yang menyadari bahwa kekuatan Alda tidak bisa diremehkan mulai menjaga jarak.
Alda mengamati lawannya baik-baik, ini adalah orang yang mungkin sama merepotkannya dengan Zegion.
Namun Alda percaya diri bisa memenggalnya dalam waktu singkat. Ini adalah daratan, bukan pertarungan udara seperti yang terjadi terakhir kali.
Bahkan dengan kekuatan sihirnya yang tersegel, Alda masih cukup kuat untuk menghabisi semua lawannya.
‘Kali ini tangan kiriku bisa bergerak jadi seharusnya tidak ada masalah—’
Meski dia tidak bisa mengalirkan banyak tenaga ke tangan kirinya, setidaknya itu lebih baik karena dia bisa memegang pedang dengan dua tangan. Toh, ada beberapa teknik yang tidak bisa digunakan hanya dengan satu tangan.
Situasi Alda saat ini tentunya berbeda dari sebelumnya, tetapi entah mengapa ada yang membuatnya tidak nyaman.
‘Namun mengapa aku tidak percaya diri? Mengapa aku ingin melarikan diri?!’
Untuk pertama kali dalam hidupnya Alda ingin melarikan diri dari lawannya tanpa mencoba bertarung dengan benar. Perasaan aneh yang tidak pernah dia rasakan sekalipun dikepung puluhan monster.
Alda takut dengan pria Rentaro ini tanpa alasan yang jelas. Dia ingin menghindarinya jika bisa namun tentunya, ada bagian dari hatinya memberontak.
“Aku tidak ingin direpotkan maupun merepotkan. Kita anggap pertemuan ini tak terjadi dan biarkan aku pergi, oke? Aku akan melepaskanmu.”
Dengan hatinya yang tidak karuan saat ini, tawaran Rentaro jelas menggoda. Alda ingin menghindari pertarungan ini entah apapun alasannya, tetapi hatinya terus berontak.
Seperti pikiran dan hati sama sekali tidak di tempat yang sama, keduanya saling melawan satu sama lainnya. Dan, ini seperti perdebatan dua pikiran berbeda di satu tubuh.
“Aku tak tahu apa yang terjadi, tetapi ini bagian dari kekuatanmu, kan? Apa yang telah kamu lakukan padaku?!”
Alda yakin bahwa Rentaro melakukan sesuatu dan membuatnya menjadi bingung secara internal. Jika lengah sedikit saja, Alda akan mengambil keputusan salah yang berakhir malapetaka.
Rentaro hanta menghela napas dan tampak kehabisan energi.
“Huh, kamu hanya perlu menyingkir. Aku benci direpotkan orang lain, dan bahkan tak suka membuat orang lain repot. Kita sudahi ini, anggap tak pernah bertemu.”
__ADS_1
“Aku bertanya padamu!”
Rentaro menghela napas sekali lagi, “Kamu takkan memahaminya ... bagaimana saat seseorang merasa sangat sedih setiap detik, begitu lelah dan terus ingin menangis tanpa alasan.”
Alda menjadi waspada karena ketika Rentaro bercerita, aura hitam di sekitarnya menjadi semakin kuat.
“Aku ingin menangis dan terkadang rindu akan kematian. Terlintas dalam benakku untuk bercerita kepada seseorang, dipeluk hangat wanita dan dimengerti. Namun siapa yang mampu mengerti kegelisahan ini? Aku bahkan tak tahu datang dari mana kesedihan ini, mengapa rasanya begitu melelahkan meski tak melakukan apa-apa, bahkan setiap bangun dari tidur selalu ada keinginan untuk tak pernah membuka mata lagi. Aku lelah, aku letih, aku lesu.”
Tubuh Rentaro perlahan gemetar. Aura yang keluar darinya semakin menguat, bahkan mungkin suasana hatinya berubah.
“Tidakkah kamu mengerti perasaan ini? Saat kamu merasa mental benar-benar lelah dan begitu mudah marah kepada apapun. Bahkan aku akan sangat marah kepada udara yang membuatku dingin, semut yang masuk ke telinga, bahkan gatal yang tidak bisa digaruk karena aku tak tahu di mana letak yang gatal. Ah, aku sebal, aku marah ... AKU BENCI!”
Clang!
Rentaro membanting golok gergajinya, menyebabkan retakan besar di tanah dan gempa kuat. Alda melompat untuk menghindari retakan tersebut.
“Mengapa ... ada apa denganku?”
Alda tidak tahu mengapa dan apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini dia harusnya baik-baik saja, tetapi entah bagaimana rasanya saat ini dia sangat sedih.
Alda merasa begitu sedih, lebih dari saat ketika Ayahnya menghilang tanpa jejak.
“Apa yang kamu lakukan padaku?”
Dia menjadi muram dan lesu. Alda tampak tak lagi memiliki keinginan untuk bertarung. Tidak, meski bagian lain dari dirinya menginginkan darah, tetapi separuh lainnya ingin merasa sedih dan terus menangis.
“Aku benci ini. Setiap kali aku marah, selalu ada yang ingin aku hancurkan!”
Rentaro menerjang dan membanting goloknya sekuat tenaga.
Alda berhasil menghindar dan bersandar di pohon. Dia kehilangan semangat bertarung, meski sebagian dari dirinya murka dengan ketidakjelasan ini.
‘Apa ini? Hidup terasa sangat melelahkan. Aku benci melakukan pekerjaan apapun. Bukankah hidup untuk dinikmati? Lantas mengapa perlu semua ini?’
Bisikkan hatinya menginginkan kematian dan ada perasaan untuk tidak membuka matanya lagi. Namun ada bagian kecil dari diri Alda yang berusaha melawan semua emosi negatif ini.
Alda melihat Rentaro melemparkan goloknya dengan kekuatan penuh. Dengan nyaris terlambat Alda menunduk dan menghindar.
Golok melesat seperti peluru, menghancurkan batu sebesar rumah saat mendarat. Angin kencang menghancurkan pepohonan di sekitarnya.
Bisa dipastikan kematian Alda terjamin jika dia terlambat menghindarinya.
‘Apa-apaan ini? Mengapa aku tak bergerak sesuai keinginanku? Rasanya kesal, aku frustasi, dan depresi.’
Kekuatan yang memainkan emosi seperti ini jelas menyebalkan bagi Alda. Dia tidak pernah berharap, suasana hati akan mempengaruhinya sejauh ini.
Tidak, mungkin Rentaro memiliki kekuatan yang berbeda dari tebakannya. Kekuatan kompleks yang tidak Alda mengerti sama sekali bagaimana cara kerjanya.
Alda menunduk lesu, segera tinju kuat menghantam perutnya dan menghempaskannya ke udara.
“Bangsat! Aku benci semuanya, mengapa dunia taik ini tidak mati saja?!!!”
Rentaro mengaum ke udara, melompat dan menendang Alda tepat di wajahnya dan menghancurkan topengnya.
__ADS_1
Bom!
Alda jatuh dengan kuat seperti meteor, dia terbatuk darah dan meratapi langit.
Dia bisa menghindari semua serangan itu, tetapi tubuhnya tidak lagi mau menuruti perintahnya. Alda merasa sangat lelah, sedih sampai-sampai menangis.
“Apa-apaan ini ... aku tak bisa mengendalikan tubuhku dengan benar.”
Gejolak di dadanya sangat menyebalkan. Berkat kesedihan tanpa tahu dari mana asalnya, setiap kenangan menyakitkan terlintas dalam benaknya.
“Mengapa kamu pergi begitu saja, Ayah? Bukankah kamu berjanji akan terus menjagaku, kamu berjanji akan melindungiku!”
Perasaan ditinggalkan dan dikhianati. Itu membuatnya marah dan benci kepada ayahnya— yang mengingkari janjinya dan hilang tanpa pemberitahuan.
“Mengapa? Mengapa kamu melakukannya?! Apa karena aku manusia dan kamu tidak menginginkanku?! Atau kamu tidak mencintaiku dan semua perkataan bahwa kamu menyayangiku seperti putrimu sendiri adalah kebohongan!”
Alda beranjak bangkit dan berteriak ke langit dengan kuat. Rentaro yang mendarat memiliki wajah ganas namun mengamati Alda.
“Sialan! Kalau begitu akan kutemukan kamu sekalipun harus pergi ke ujung dunia. Akan kucari lalu kubunuh! Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!”
Alda bergegas melompat maju, memegang pedangnya dengan kedua tangannya. Dia tidak lagi peduli dengan rasa sakit di tubuh dan tangan kirinya.
Tujuan Alda hanya Rentaro dan melampiaskan kemarahannya.
Dengan kuat Alda mengayunkan pedangnya dengan tujuan kepala Rentaro.
Rentaro mengaum marah dan menahannya, tetapi kekuatannya tidak cukup kuat dan membuatnya terhempas kuat hingga menabrak batu besar.
“Kamu bajingan! Akan ku hancurkan—”
Cruch!
Pedang Alda menembus leher Rentaro dan memakunya ke batu. Rentaro muntah darah, tubuhnya mulai bermandikan darah.
Dia berusaha mencabut pedang dari tenggorokannya, tetapi itu tidak bisa tercabut tak peduli seberapa keras dia mencoba.
Hingga akhirnya Rentaro menghancurkan batu di belakangnya dan membuat pedang itu tetap menancap.
Baru saja melepaskan diri dari batu, Alda sudah menyerang, melakukan tackle tepat di perut Rentaro dan membuatnya terhempas sekali lagi.
Rentaro memuntahkan darah selagi mencakar tanah. Dia mengaum keras namun suaranya tak keluar dengan jelas. Namun bisa dipastikan kemarahannya memuncak.
“Guarrghh!!”
Dengan satu tangan Rentaro mencabut pohon hingga ke akarnya dan melemparkannya menuju Alda. Tidak hanya satu, tapi puluhan pohon melayang dengan kuat.
“Keparat sialan!!”
Alda semakin marah, wajah cantiknya tampak ganas ketika itu terjadi. Dengan kuat Alda menendang bebatuan di sekitarnya menuju Rentaro.
Beberapa menghantam pohon, beberapa juga hampir mencapainya.
Keduanya bertukar serangan dengan melempar juga menendang apapun di sekitarnya.
__ADS_1
Hutan menjadi hancur, porak-poranda akan pertempuran ganas keduanya.