
Era ketika para naga masih bermunculan adalah puncak dari kejayaan sihir dan kekuatan. Manusia pada zaman itu tidak dapat bertahan hidup jika mereka tak mencoba menjadi kuat.
Yang kuat akan menindas, dan yang lemah akan tertindas. Itu adalah zaman terburuk untuk seseorang terlahir ke dunia.
Namun di era itu juga terdapat kehadiran seorang kaisar hebat yang menciptakan tempat untuk orang lemah hidup damai.
Dia adalah contoh yang terkuat dari orang lemah. Sosok yang bahkan membawa manusia setengah dewa di bawah telapak tangannya untuk memakmurkan kekaisaran.
Akan tetapi ada suatu masa di mana dia membenci langit beserta isinya meskipun itu indah.
Sang kaisar benci dipandang rendah, benci mendongak ke atas untuk melihat sesuatu, lantaran dirinya selalu memandang ke bawah, mereka yang lebih rendah darinya.
Demi alasan seperti itu sang kaisar meninggalkan segalanya dan mencoba untuk menundukkan langit. Karena kesombongannya, demi harga dirinya, dan untuk kebanggaannya.
Kekaisaran hancur ketika dia pergi, tetapi sang kaisar terus berjalan mencari akhir dari tujuannya.
***
Ancient Determination, Pride of Great Emperor. Arcturus menginginkan kekuatan ini karena akan berguna bagi orang sepertinya.
Para tokoh utama bisa dikatakan tak membutuhkannya. Toh, ini bukan kekuatan yang digunakan untuk bertarung. Ini adalah kekuatan terbaik untuk melakukan scam.
• Aku benci siapapun yang berada di atasku. Bahkan jika kamu menjadi penerus tekadku, takkan mungkin aku menundukkan kepala.
Persis seperti namanya, Pride. Bajingan ini begitu sombong dan selalu mencintai dirinya sendiri. Namun untuk beberapa alasan Arcturus menyukai sifat yang tampak seperti diktator ini.
“Apa bagusnya memintamu menundukkan kepala? Aku menginginkan keagunganmu.”
• Manusia pasti akan menunduk, hewan akan bersujud. Bahkan naga takkan memandangmu sebelah mata.
• Akan tetapi, kamu takkan pernah menundukkan langit, matahari, bintang, dan bulan. Prestasi yang tak bisa kucapai, takkan pernah bisa dicapai siapapun.
Jika dia tidak bisa maka tak ada orang lain yang bisa ... mau bagaimanapun itu terdengar sangat arogan.
Arcturus hanya tersenyum lembut selagi memandangi bulan di depannya. Terasa dekat namun kenyataannya jarak itu terlampau jauh.
“Meski tak bisa menundukkannya. Setidaknya, aku bisa sejajar dengannya.”
Bulan ada tepat di depan matanya, tak perlu untuknya menunduk maupun mendongak.
Arcturus mulai merasakan angin hangat melayang dan membentuk entitas yang berdiri di sisinya. Itu adalah tampilan pria dengan mahkota, pakaian mewah yang dihiasi emas.
Rambut keemasan yang dikatakan langka, wajah tampan nian indah layak berlian. Mata penuh kesombongan dan memandang rendah segalanya. Kehadiran sang kaisar muncul dalam bentuk yang mirip hologram.
__ADS_1
Dia memandang rembulan, sebelum tersenyum kepada Arcturus. Melihat itu, Arcturus mulai berlutut penuh penghormatan. Di hadapannya adalah sang kaisar, berlutut adalah keharusan.
• Jawaban yang bagus. Akan ku serahkan tekad ini kepadamu.
Kaisar meletakkan tangannya di kepala Arcturus. Cahaya keunguan mulai menyelimuti Arcturus sebelum dia mulai bicara sekali lagi.
•Berjalan menuju cahaya. Ambil tekad sang penguasa terhebat ini.
Arcturus bangkit dan dengan santai memandang awan di bawahnya sebelum memandang bulan sekali lagi.
Tanpa keraguan Arcturus mulai melangkah. Siapapun akan berpikir dia akan jatuh segera namun pemandangan luar biasa ketika dia berjalan di udara. Arcturus terus melangkah di udara dan berjalan menuju bulan.
Dia kemudian mengulurkan tangan ke arahnya, segera cahaya yang terang muncul di tangannya dan meresap ke dalam jiwanya.
‘Aku bisa merasakannya. Ini kekuatan yang hebat dalam kegunaan tertentu.’
Arcturus berjalan kembali menuju Pohon Adam dan menemukan kehadiran kaisar sudah menghilang seiring dengan sebuah kekuatan meresap ke dalam tubuhnya.
“Jadi seperti ini rasanya ... ini sangat berbeda dengan kekuatan si pembunuh.”
Sesaat dia bisa merasakan kekuatan tubuhnya sedikit diperkuat. Arcturus cukup senang menerima kekuatan ini. Toh, sesuatu seperti ini sangat cocok untuknya ketimbang Alda.
• Aku sudah merasakannya. Rupanya itu dirimu, pembunuh malang.
Untuk beberapa alasan si pembunuh memunculkan kembali kehadirannya yang sebelumnya mengecil.
• Lama tidak berjumpa. Kali ini aku bisa berbicara dengan benar.
• Kamu bisu, buta dan tuli. Satu dari dua eksistensi yang mendapat rasa kasihanku. Setelah mengubah kekuatanmu menjadi tekad, kamu akhirnya memiliki hal-hal yang tidak kamu miliki sebelumnya.
• ... ya. Meski tidak menyukainya namun nyatanya ini sangat berarti untukku.
•Hm. Aku mengerti perasaanmu untuk membenci bajingan yang melakukan hal seperti itu kepada kita. Namun ini demi menghentikan keparat lainnya.
Arcturus mengerutkan keningnya terhadap percakapan kedua kekuatannya ini. Hampir seakan-akan mereka menyampaikan bahwa untuk menghentikan sesuatu, keduanya menyerahkan kekuatannya dalam bentuk tekad dan menjadi sebuah kekuatan.
“Apa yang kalian berdua bicarakan? Siapa yang ingin kalian hentikan?”
• ... bukan sesuatu yang perlu kamu ketahui.
Si pembunuh menolak bercerita. Jeda singkat yang dibuatnya membuat Arcturus yakin ada sesuatu.
• Ada beberapa hal yang tidak perlu diketahui. Bocah idiot, kamu cukup melakukan hal yang perlu dilakukan.
__ADS_1
Mulut kasar dari orang yang dikatakan kaisar. Arcturus cukup kesal dengan keparat itu namun seperti yang dikatakannya, tidak perlu mencari tahu hal merepotkan.
Arcturus hanya perlu melanjutkan tujuannya dan menghindari kekacauan di masa depan.
• Namun ingatlah ini bocah kencur. Tidak ada yang menyukai orang yang beruntung. Sebagian kekuatanku adalah keberuntungan yang diikuti kesialan.
Itu peringatan yang sama dengan perkataan si pembunuh. Arcturus tidak benar-benar mau memahaminya namun dia akan mengingatnya.
• Biarkan roda takdir berputar sekali lagi. Wahai Putra Alam, lakukan apa yang ingin kamu lakukan.
Si pembunuh menyampaikan sesuatu yang Arcturus mulai sangat penasaran. Sebenarnya apa yang dimaksud Putra Alam?
Itu menjengkelkan ketika hal-hal yang tidak dia ketahui berputar dan berhubungan dengan dirinya.
• Hmm. Tampaknya bajingan yang sangat menyedihkan mulai menonton dunia ini sekali lagi.
Arcturus mengerutkan keningnya atas perkataan si kaisar.
• Itu terjadi belum lama. Bukan hanya itu, untuk beberapa alasan lenteranya ada di dunia ini.
Pembunuh berbicara.
• Lentera? Apa orang itu tidak lagi membutuhkan cahaya yang menuntun orang mati? Sepertinya dia benar-benar menyerah dengan otoritasnya.
Kaisar berkata dengan nada yang seakan-akan sedih.
“Ini menyebalkan ketika kalian berbicara sesuatu yang tidak aku ketahui. Setidaknya, beri tahu aku kali ini.”
Arcturus mungkin menolak sesuatu yang hanya akan menambahkan beban pikirannya. Namun ketika pembunuh mengatakan sesuatu seperti lentera, entah bagaimana dia tak bisa melewatkan percakapan ini.
Meski dia memiliki gambaran tertentu, tetapi lebih baik mendengarnya langsung.
• Selain pembunuh ini, ada satu lagi yang menerima rasa keprihatinanku.
Kaisar berbicara. Orang ini mungkin sungguh diktator mengingat hanya ada dua orang yang dia kasihani.
“Siapa orang lainnya?”
Segera suara kaisar tampak menjadi serius. Arcturus merasa buruk untuk mendengarnya.
• Itu Dewa Kematian.
Seorang kaisar hebat yang sejatinya adalah manusia mengasihani seorang dewa.
__ADS_1