
“Apa yang kamu maksud?”
Arcturus menjawabnya tanpa penundaan. Beruntung bahwa dia aktor yang baik dan berhasil membuat Tifani seakan mengatakan hal yang tidak dia mengerti.
Namun pada kenyataannya Arcturus sama sekali tidak bisa tenang.
‘Apa-apaan ini? Bagaimana bisa dia dapat kesimpulan seperti itu?!’
Tiga kehidupan yang telah dia jalani.
Kehidupan pertama, manusia menyedihkan yang membaca novel, kisah dari dunia ini sendiri.
Kehidupan keduanya, tiba ke dalam dunia novel ini namun berakhir dengan kegagalan tragis.
Dan, terakhir adalah kehidupannya saat ini setelah melakukan regresi.
Tidak pernah sekalipun Arcturus menceritakan pengalaman kepada siapapun. Lantas yang terbaik adalah tidak ada siapapun yang bisa sampai kepada kesimpulan itu.
Namun Tifani datang dengan kesimpulan yang Arcturus coba bawa sampai mati.
Ada alasan mengapa dia ingin merahasiakannya. Terlepas dari dua kehidupan sebelumnya yang akan tampak seperti dongeng, regresi adalah kemampuan nyata.
Jika mengaitkannya dengan Artefak maka semua orang takkan berani memberikan penyangkalan.
Pasti akan tercipta keributan jika seandainya fakta Arcturus melakukan regresi terungkap. Orang-orang mungkin akan memburunya demi informasi keberadaan artefak yang memutar ulang dunia.
‘Siapa yang membisikkan itu kepadanya?’
Arcturus tak ingat ada eksistensi yang memungkinkan untuk mengungkap kedoknya.
“A-aku tahu ini aneh namun suara yang berbicara kepadaku terus menuntut menanyakannya padamu!”
“Kamu percaya dengan setiap kata darinya?” Arcturus masih memasang wajah seakan-akan Tifani yang aneh di sini.
Tifana dengan tergesa-gesa mulai menjelaskannya.
“Awalnya aku juga tak mau mendengarkan! Namun setiap hal yang dia beritahukan sungguh terjadi meski aku tak menuruti apapun yang dia inginkan!”
Tifani pernah mengabaikan suara di kepalanya yang meminta dirinya melakukan sesuatu. Namun saat dia melakukan itu sesuatu yang buruk terjadi.
Salah satunya adalah ketika dirinya benar-benar dikucilkan para Elf karena tak mematuhi suara di kepalanya.
“Aku tak tahu siapa yang terus bicara padaku di kepalaku dan dia juga tak mau mengungkapkan identitasnya. Hanya saja aku pikir dia bukan orang jahat. Dia terus membantuku dari waktu ke waktu.”
Arcturus menjadi semakin bingung dan penasaran.
Dia bingung jika suara yang dikatakan Tifana terus membantunya, mengapa di kehidupan sebelumnya Tifana mengalami kematian?
‘Apa mungkin saat itu dia menolak bajingan yang bicara padanya? Ini hanya hipotesis belaka. Namun besar kemungkinan suara di kepalanya sama sekali tak memiliki kemampuan menginterupsi apapun.’
Bajingan suara, mari panggil dia demikian. Kemungkinan besar dia hanya memberikan informasi secara transparan namun tak bisa menggunakan tangannya untuk apapun, dia hanya bisa memberikan arahan.
__ADS_1
‘Aku semakin penasaran siapa bajingan suara ini.’
Putaran kehidupan ini sungguh memiliki banyak variabel yang tidak dia ketahui. Mungkin sekarang informasi dari novel sudah tidak berguna lagi. Sama juga dengan pengalaman hidup sebelumnya.
“... apa aku bisa berbicara dengannya empat mata?”
Memutuskan bahwa Tifana hanya digunakan, Arcturus mencoba komunikasi langsung dengan bajingan suara.
Tifana memegang kepalanya dengan kedua tangan, mata tertutup juga wajah rumit, dia tampak berusaha bertanya pada bajingan suara.
“Sepertinya memungkinkan namun dia hanya bisa mengatakan sedikit hal. Mungkin kamu takkan mendapatkan apa yang ingin kamu ketahui, tetapi suara itu ingin mengatakan apa yang dia ketahui.”
Egois adalah kata yang mungkin tepat untuk menggambarkannya.
“Ada banyak hal yang membatasinya.” Tifana menambahkan.
Arcturus memiliki kesimpulan bahwa bajingan suara tampaknya sedang dalam situasi sulitnya sendiri sehingga dia tak bisa melakukan banyak hal.
“Itu tak masalah. Aku akan mendengarkannya.”
Meski merepotkan dan dia akan terlibat lebih banyak masalah, tetapi Arcturus tak bisa meninggalkan bajingan suara sendirian.
Perlu ada kepastian apakah dia adalah musuh atau bukan.
Tifana memijat kepalanya sekali lagi. Sekilas pemandangan itu tampak lucu.
“Dia memiliki persyaratan. Setelah berbicara denganmu kemungkinan besar dirinya akan tertidur dalam waktu lama. Dia ingin kamu melindungiku selagi dirinya tertidur.”
Persyaratannya mudah, bahkan tanpa perlu diminta Arcturus akan melakukannya. Tifana adalah variabel yang perlu diselidiki bersama dengan bajingan suara.
Arcturus berbicara langsung kepada bajingan suara. Seolah untuk menjawabnya, Tifana mulai membeku, tubuhnya bergetar hebat dan matanya mulai memutih.
Asap putih keluar dari mulutnya dan Arcturus bisa merasakan kehadiran kecil dari asap itu.
“Aku memiliki waktu terbatas, ada sedikit hal yang bisa dikatakan pada situasi ini.”
Suaranya tampak megah namun tidak jelas apakah itu pria atau wanita. Arcturus hanya mendengarkan tanpa menyela.
“Terlepas dari bug dalam dirimu, aku akan membuat taruhan denganmu ... cari Pohon Dunia, dan minta dia bertanya keinganmu. Dan, kamu tanya kembali ‘Siapa yang ketiga?’ padanya.”
Jika Arcturus ingin berbicara dengan benar bersama bajingan suara, dia perlu mencari Pohon Dunia dan mengucapkan pertanyaan tertentu kepadanya.
Tentu saja Arcturus yakin tidak akan mudah menghubungi bajingan suara ini.
“Mengapa segalanya jadi menyebalkan seperti ini.”
Tanpa sadar Arcturus mengungkapkan pikiran sejatinya.
“Ada terlalu banyak hal yang rumit di dunia ini, nak. Ini garis dunia pertama dan paling tua. Beberapa hal di luar akal sehatmu akan terus bermunculan.”
Arcturus tak ingin memikirkan ungkapan itu. Seakan-akan mulai dari sekarang dia harus menghadapi dunia ini.
__ADS_1
Mengapa segalanya menjadi rumit? Setiap kali dia ingin bersantai, maka masalah akan mulai menyeretnya.
“Nak, jalani semuanya sesuai dengan rencana dan kepercayaanmu. Aku tak bisa membantu namun aku selalu menyaksikan segalanya.”
“Cari Pohon Dunia, tanya padanya dan kamu akan menemukanku.”
“Ini dunia paling tua ... jaga dirimu ... Evans Canopusius.”
Bajingan suara seakan mulai memudar, buktinya adalah asap putih yang keluar dari Tifani mulai menghilang dan kesadaran Tifani yang kembali.
“Um, suara itu tampaknya takkan muncul dalam waktu dekat. Aku sama sekali tak mengetahui percakapan kalian karena dia mengurung kesadaranku.”
Tifani menjelaskan bahwa percakapan Arcturus sebelumnya adalah rahasia yang bahkan tak dia ketahui.
“Apa ada yang salah dariku?”
Melihat Arcturus yang tidak bereaksi membuat Tifani sedikit takut. Belum lagi wajah Arcturus tampak seperti orang yang melihat hantu.
Tifani mengira dirinya melakukan kesalahan yang membuat Arcturus seperti itu. Namun nyatanya bukan demikian.
Arcturus lebih terkejut dengan hal lainnya. Dia tak pernah membayangkan ada orang lain yang akan mengetahuinya.
‘Evans Canopusius ....’
Itu bukan nama yang dimiliki oleh penduduk dunia ini. Bahkan mungkin tidak ada satupun orang yang akan mengenalinya kecuali Arcturus.
‘Dia tidak tahu aku menjalani tiga kehidupan dan datang untuk bertanya.’
Bajingan suara hanya mencurigainya dan membutuhkan kebenarannya, sebab itulah pertemuan ini bisa terjadi. Namun tetap saja Arcturus merasa keganjilan besar.
‘... bagaimana dia tahu namaku?’
Evans Canopusius, dia adalah pembaca novel yang mendiami tubuh Arcturus Religia, orang yang mengulangi dunia sekali lagi. Dan, orang yang menjalani hidupnya menyandang nama baru, Arcturus Religia.
Di dunia ini sama sekali tak ada satu orangpun yang dia beritahukan nama aslinya dari bumi.
‘Sungguh, ada apa dengan regresi ini?’
Panggilan yang dia terima namun tak pernah dirinya ketahui di kehidupan sebelumnya maupun novel. Itu adalah panggilan baru dari regresi ini, Putra Alam.
Entah bagaimana, Dewa Kematian sangat tertarik dengan dunia ini dan terus menyaksikan. Ada sesuatu tentang lentera atau semacamnya di dunia ini.
Percakapan antara Pembunuh dan Kaisar Hebat yang melakukan sesuatu, untuk menghentikan sesuatu. Bahkan Arcturus tidak tahu apa-apa namun itu patut dicurigai.
Pengelihatan The Apostle yang menyebutkan eksistensi seperti Pertapa Rigel.
Bajingan suara yang tahu hal-hal bersifat internal.
Arcturus tak yakin namun sepertinya ini bukan disebabkan oleh tindakannya mengubah masa depan. Jika disebabkan oleh tindakannya, maka hal-hal yang tidak dia ketahui, tidak mungkin ada sebanyak ini.
‘Sepertinya regresi ini sendiri berbeda dari yang aku bayangkan. Mungkinkah aku harus mengunjungi tempat itu lagi atau menemui orang yang memberitahunya padaku?’
__ADS_1
Mencapai tempat di mana Tears of God berada sama sekali tidak mudah. Namun bukan berarti orang yang memberitahunya juga mudah ditemui.
Meski begitu, Arcturus masih mempertimbangkan bertanya pada pria itu yang memiliki pengetahuan luas, Pertapa Rigel.