Im Not Main Character

Im Not Main Character
Perbudakan


__ADS_3

Perbudakan adalah hal yang umum di dunia fantasi manapun. Novel dengan tema action fantasi tidak akan lengkap tanpa adanya perbudakan.


Kerajaan Knight tidak memiliki peraturan tentang larangan terhadap perbudakan. Mudahnya perbudakan adalah hal yang legal mengingat pemasukan pajaknya cukup besar.


Wilayah Religia adalah salah satu yang tidak menerapkan perbudakan karena memiliki penghasilan lain. Penghasilannya lebih dari cukup untuk tidak mengandalkan perbudakan.


Bagi Arcturus sendiri perbudakan adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada. Itu karena pada dasarnya budak tidak dianggap lagi sebagai manusia.


Di cerita aslinya, Arcturus Religia akan menjadi budak yang tidak dianggap manusia itu.


“Bagaimana bisa ... manusia menjadi sekejam ini?” Alda terbelalak dan mengepalkan tinjunya.


Arcturus hanya menutup matanya dan bersantai seperti sebelumnya. Mau marah sekarang tidak ada yang berubah.


“Memanusiakan manusia ... itu adalah langkah yang tidak mudah ketika akar yang tertanam sudah begitu dalam.”


Memandang kota yang memiliki banyak budak, Arcturus mengamatinya dengan seksama hal menyedihkan ini.


Anak-anak, pria, hingga wanita tidak terlepas dari perbudakan. Baik itu manusia, half bahkan juga monster.


Mereka begitu kotor dan hanya mengenakan kain lusuh untuk menutupi tubuhnya. Tubuh yang kurang nutrisi dan kerempeng menjadi poin utama menambahkan kesan menyedihkan.


“Apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu tentang itu?” tanya Alda dengan prihatin juga marah.


Kemarahan Alda membuat Arcturus merinding karena takut wanita ini akan menghancurkan sesuatu.


“Sayangnya menjadi budak adalah yang terbaik untuk mereka saat ini.”


Perkara kejam Arcturus membuat Alda tercengang. Segera dia menarik kerah Arcturus dan memberikan tatapan dingin.


“Aku pikir kamu tidak menyetujui perbudakan. Mereka manusia, sudah sepatutnya diperlakukan layaknya manusia.”


Arcturus sedikit batuk karena kerahnya ditarik. Tubuh ini masihlah lemah meski dia sudah melatihnya, ditambah yang menariknya adalah Alda Carinea.


“Tentu saja tidak. Perbudakan itu mengerikan dan sudah sepatutnya ditentang.”


“Lalu mengapa? Kamu tidak seharusnya menyetujui bahwa mereka layak menjadi budak!”


Alda mulai menaikkan suaranya, dia tidak memiliki tempat untuk melampiaskan kekesalannya sehingga Arcturus perlu jadi korban.


Seperti yang diharapkan dari protagonis, tentunya mereka tidak bisa mentolerir hal semacam ini.

__ADS_1


“Kalau begitu biar kutanyakan padamu. Seandainya seseorang membebaskan mereka maka apa yang terjadi setelahnya? Mereka adalah orang-orang yang mungkin tidak punya rumah ataupun keluarga.”


Alda menjadi diam dan mulai memikirkan jawabannya. Dia mungkin sudah menemukan maksud Arcturus namun usaha untuk memberikan penyangkalan tidaklah pudar.


”Mereka pada akhirnya terlantar. Meski aku berusaha menampungnya dengan identitas bangsawan pada akhirnya berapa lama akan bertahan?”


Sejatinya para budak sudah tidak memiliki kepercayaan pada siapapun selain sesama mereka. Kebenciannya tentu saja terpusat pada kerajaan dan bangsawan.


Saat terbebas dari perbudakan mereka akan berkeliaran mencari tempat untuk hidup, tetapi apa? Pada akhirnya mereka akan kembali ditangkap untuk menjadi budak.


Arcturus setuju perbudakan sewajibnya dikutuk dunia, tetapi sulit memberikan suara untuk melepaskan mereka semua.


“Apa kamu tahu ada berapa banyak orang besar yang berpikiran sepertimu? Namun pada akhirnya tidak ada yang bertindak.” Arcturus memegang bahu Alda untuk menyuruhnya rileks dan melepaskan kerahnya.


Arcturus merapihkan kerahnya, tersenyum kecil selagi memandang Alda yang tampak seperti anak kecil menyadari dosa pertamanya.


“Mereka tahu kalau tidak ada solusi yang benar-benar tepat untuk perbudakan. Selain itu akan ada banyak pertentangan jika mereka bersuara untuk mengutuk perbudakan.”


Tidak ada untungnya melakukan hal semulia itu, bahkan Alvalous yang menentang keras perbudakan hanya bisa diam menutup mata.


Mau bagaimanapun tidak ada manfaat menentangnya hanya berdasarkan kemanusiaan. Ada banyak keuntungan yang didapatkan melalui perbudakan salah satunya adalah tenaga kerja murah.


Arcturus tersenyum kecil. Seandainya saja Alda tahu bahwa akan ada masa depan luar biasa yang kelak akan terjadi.


‘Sekarang kamu perlu mengerti bahwa dunia penuh kegelapan. Namun apa kau tahu? Cahaya akan menyinari kegelapan. Kamu adalah cahaya yang suatu saat akan menghapuskan kegelapan itu.”


****


Arcturus diarahkan ke sebuah penginapan mewah yang telah disediakan oleh tuan rumah Perjamuan Bulan.


“Hei, sampah,” Evelyn datang dengan wajah sepat seperti biasanya. ”Aku akan menyapa tuan rumah sementara kamu cukup menjadi tidak berguna di sini.”


“Ya, aku begitu kelelahan sehingga perlu beristirahat untuk perjamuan yang akan datang. Terima kasih karena sudah memperdulikan adikmu ini, kak Evelyn.” Arcturus tersenyum senang.


Senyumnya yang cerah justru membuat Evelyn semakin kesal entah karena apa sebelum akhirnya dia pergi.


Arcturus hanya berbaring di tempat tidurnya sementara Mary mengantar Alda untuk menjarah makanan di semua toko karena nafsu makan besarnya.


“Uang saku yang diberikan Ayah hanya akan habis untuk makan Alda.” Arcturus menghela napas dengan lelah.


Uang saku Arcturus cukup untuk membeli rumah dan hidup sederhana selama beberapa bulan, tetapi uang itu menghilang dengan cepat ke perut Alda.

__ADS_1


“Tampaknya aku juga perlu mengenal beberapa orang bangsawan untuk diajak berbisnis. Aku juga butuh dana besar dalam waktu dekat nantinya.”


Membayangkan situasi di novel dan kehidupan sebelumnya tentang Perjamuan Bulan membuat Arcturus merasa lelah.


Akan terjadi sebuah insiden nantinya. Penting bagi Arcturus untuk mencegah hal merugikan terjadi atau segalanya akan jadi sama buruknya dengan putaran sebelumnya.


“Lima hari lagi Perjamuan Bulan dilaksanakan. Aku tidak punya waktu untuk istirahat.”


Saat Arcturus mulai memejamkan mata dan berpikir apa yang akan dia lakukan saat ini, sebuah suara yang lama tak terdengar kembali muncul.


• Bagian lain diriku ada di sini.


Suara Assassin yang berat dan lemah berkata di dalam kepalanya. Arcturus lekas membuka mata dan menatap langit-langit penginapan.


Bagian lain dari The Envy of Assassin, jika Arcturus ingat dengan benar ada dua bagian yang terpisah darinya.


“Apa itu pedangmu? Yah, bisa dimengerti karena mau bagaimanapun ini tempat penghasil pedang. Silverstone bukanlah sekedar nama belaka.”


Batu perak adalah istilah yang mengatakan tempat ini menjadi penghasil senjata tajam terbaik dikerjakan Knight. Wilayah ini merupakan harta mineral dan surganya senjata.


Saat Arcturus berpikir tentang itu si Assassin kembali berbicara.


• Kamu mungkin takkan mendapatkan kesempatan menemukan pedang.


Perkataannya cukup mengguncang Arcturus.


• Jubahku semestinya ada di sekitar tempat ini.


Ternyata bukan pedang, tetapi jubahnya. Arcturus penasaran bagaimana si Assassin ini menemukan barangnya yang mungkin sudah rusak parah.


“Tunggu, apa maksudmu aku tidak akan bisa menemukan pedangmu?” Arcturus lebih menaruh perhatiannya tentang pedang ketimbang jubah itu sendiri.


• Kamu takkan pernah cocok dengan pedang yang ditakdirkan melenyapkan kehidupan.


Pedang yang mampu menghancurkan kehidupan apapun. Arcturus pernah mendengarnya namun dia tidak berharap itu benar adanya. Yah, lagipula Arcturus memang tidak berencana melakukan pembunuhan yang tidak berguna.


“Yah, kupikir jubahmu lebih berguna bagiku. Apa kamu tahu lokasi pastinya?”


• ... Temukanlah sendiri.


“Kamu bajingan.”

__ADS_1


__ADS_2