
Sebuah hutan yang lebih gelap dari malam, lebih lembab dari sebuah lembah. Pepohonan tua dengan batang hitam besar dan teramat tinggi seakan-akan ingin menggapai langit.
Di tempat yang mengerikan itu Arcturus akhirnya tiba. Itu adalah pemberhentian yang dia tengah coba masuki.
“Ini tempat yang mengagumkan meski hanya ilusi belaka.”
Pada kenyataannya pohon yang menjulang ke langit dan teramat besar seakan-akan membuat barikade hanyalah ilusi semata. Tidak ada satupun di sini adalah kenyataan.
Umumnya orang-orang akan menghindari tempat semacam ini lantaran di mana ada ilusi skala besar, ada bahaya mengerikan menanti. Biasanya orang-orang yang memakai ilusi dalam skala ini adalah kelompok yang tidak mau diganggu.
Third Eye Ogre adalah salah satu dari kelompok tersebut. Mereka menyerah berhubungan dengan dunia luar dan memilih kehidupan damai mengasingkan diri.
“Bagaimana cara kita menembus ilusi ini, Tuan Muda?” Mary yang mengikuti di belakang Arcturus tampak khawatir.
Mereka telah meninggalkan pedati dan barang bawaannya sebelum memasuki kawasan ilusi ini. Tentu itu tindakan yang sangat ceroboh mengingat siapapun yang masuk ke hutan ilusi tidak akan keluar dengan mudah.
Mereka butuh sesuatu seperti perbekalan untuk bertahan selama beberapa hari. Namun sayangnya Arcturus meninggalkan itu semua dan memilih berjalan kaki.
“Jangan khawatir, orang lain akan membawakannya untuk kita. Lebih mudah melalui jalan ini tanpa barang bawaan apapun.”
Arcturus terus berjalan melewati akar besar dan bebatuan. Dia hanya menatap peta yang diberikan Leona untuk mencapai desa Third Eye Ogre.
Ada dua cara untuk orang asing memasuki tempat ini. Pertama adalah menerima undangan secara langsung seperti halnya Arcturus. Orang yang diundang akan mendapat peta dan tanduk untuk menembus hutan ilusi. Meskipun caranya terbilang cukup sulit namun ini opsi terbaik.
Lalu cara lainnya adalah masuk secara paksa. Arcturus sendiri sejak awal menghindari pilihan ini. Third Eye Ogre ditakuti bukan tanpa alasan. Di tempat semacam hutan ilusi ini adalah medan yang menguntungkan bagi mereka.
Tak ada ras yang lebih baik dalam serangan gerilya selain Third Eye Ogre.
“Kita hanya perlu terus mengikuti aliran sungai ini.”
Satu-satunya sungai yang terhubung ke desa. Sungai sama yang Arcturus menyuruh Makarov untuk meracuninya.
Terus berjalan sampai tiba di tempat yang kabutnya lebih tebal, Arcturus dan Mary segera terhenti.
“Siapa di sana?” tanya Mary, segera memposisikan diri di depan Arcturus.
Arcturus menatap ke cabang pohon di atasnya. Di sana terdapat dua sosok, seorang pemanah dan ahli sihir.
“Justru kamu yang harusnya bertanya ... siapa kalian?!”
__ADS_1
Arcturus melihat bahwa mereka menggunakan pakaian berwarna hitam gelap, dua tanduk mencuat di keningnya dengan kulit yang tampak seperti bersisik.
Itu ada mode bertempur unik dari ras tertentu, dan warna pakaian yang menandakan siap untuk pertumpahan darah. Mereka pastinya Third Eye Ogre. Jika Arcturus menemukan penjaga di sini maka tujuannya sudah dekat.
“Kami menerima undangan secara langsung.” Arcturus mengeluarkan tanduk yang diberikan Leona kepadanya.
Third Eye Ogre saling memandang satu sama lain sebelum menatap Arcturus semakin curiga.
“Dari mana kamu mencurinya? Apa kamu membunuh Ogre lain atau semacamnya?”
Cukup mengejutkan ketika mereka tak langsung menyambutnya namun Arcturus sudah menduganya. Hubungan Third Eye Ogre dengan manusia tidak begitu baik.
Bahkan jika itu Arcturus yang menerima undangan, bukan berarti mereka akan mengendur dengan mudah.
“Bagaimana bisa aku memiliki peta jika melakukan tindak seperti itu?”
“Lantas sangat mungkin kamu membunuh orang yang menerima undangan untuk memasuki rumah kami. Sebaiknya pergi sebelum kami berubah pikiran.”
Bahkan jika mereka menyuruhnya pergi juga tidak berguna. Akhir yang akan didapatkannya adalah kematian. Meski Third Eye Ogre melepaskannya, orang yang berkeliaran di hutan ini tidak akan bertahan.
“Apa boleh buat. Padahal aku datang untuk memenuhi keinginan Leona yang ingin berterima kasih padaku karena membebaskannya. Mary, kita pergi kalau begitu.”
Arcturus tanpa peduli melangkah pergi dan tidak berniat melakukan perlawanan apapun. Mary di sisi lain hanya akan patuh terhadap perkataannya.
Salah satu Ogre dengan panah melompat turun dan menghampirinya. Memang hebat, mereka sama sekali tidak menurunkan kewaspadaan. Arcturus bahkan tahu penyihir di atas pohon sudah merapal mantranya.
“Bisa aku melihat tanduknya?”
Arcturus menyerahkannya tanpa banyak bicara. Jika dia tidak bisa masuk maka Arcturus hanya perlu melalui jalan lainnya.
“Apa ada yang salah? Leona bilang aku bisa masuk dengan ini.”
Third Eye Ogre hanya melirik Arcturus sebentar, “Situasi kami dengan manusia tidak baik saat ini. Bahkan ketika kamu memiliki tanduk bukan berarti bisa masuk begitu saja.”
Arcturus tidak menyangka dampaknya lebih buruk dari yang dia harapkan. Harusnya racun yang dia berikan tidak sampai merenggut nyawa Third Eye Ogre.
“Ah, aku mendengar kabar Silverstone mencari keributan dengan Third Eye Ogre. Jadi rupanya itu benar.”
Ogre di depannya berkedut alisnya saat Arcturus menyebutkan Silverstone. Itu tentunya tepat sasaran.
__ADS_1
“Kamu harusnya tak perlu lagi khawatir. Aku yakin kamu sudah mendengar berita kehancurannya.”
“... ya. Namun bukan berarti itu semuanya.” Ogre itu membuka mata ketiganya dan menatap tanduk di tangannya. “Kamu tak berbohong rupanya.”
Segera dia memberikan kode dengan tangannya. Ogre yang mengamati di atas turun dan berdiri di sampingnya.
“Apa kamu Arcturus Religia?”
Mendengar itu Arcturus sedikit terkejut sebelum akhirnya menyadari siapa Ogre penyihir itu. Pria paruh baya usia awal kepala empat. Rambut abu-abunya yang khas dan raut wajah tampan nian lembut.
“Itu namaku. Siapa kamu?”
Ogre itu tersenyum penuh penghormatan, “Perkenalkan, namaku Beni, kepala prajurit desa Ogre. Tuan Putri sudah menceritakan tentangmu, jadi silahkan masuk.”
Arcturus merasakan nostalgia melalui pertemuannya ini. Di kehidupan sebelumnya pertemuannya cukup mengharukan. Ketika perang terjadi, Beni membantu mempertahankan wilayah Religia, sebagai ganti Arcturus menyerahkan Elixir untuknya.
Sekarang Arcturus berencana membalas budi sedikit. Hutang adalah sesuatu yang perlu dibayarkan kembali.
Arcturus dibimbing oleh Beni menuju desa Third Eye Ogre.
“Maaf atas kendala sebelumnya, Tuan Arcturus. Dikarenakan situasi kami sedang kritis jadi orang luar, terutamanya manusia tidak diperkenankan masuk.”
“Apa seburuk itu? Aku bisa datang lain kali jika memang waktunya tidak tepat.”
Beni buru-buru membenarkan, “Ah, tidak. Kamu sudah jauh-jauh sampai ke sini. Rasanya sungguh tidak sopan menyuruhmu kembali begitu saja. Belum lagi kamu orang yang berjasa untuk kami.”
Sepertinya rumor tentang Arcturus menyelamatkan Leona sudah tersebar dikalangan Third Eye Ogre.
Itu berita bagus untuk Arcturus. Jika hal itu sudah menyebar, maka rencana Arcturus akan berjalan baik.
Begitu Arcturus keluar dari kabut, cahaya matahari cukup membutakannya. Butuh beberapa detik untuknya menyesuaikan.
Arcturus menemukan pemandangan menarik dari desa Ogre. Rumah sederhana yang terbuat dari anyaman bambu. Ogre yang menggunakan pakaian putih seperti kimono, hidup damai dan penuh tawa.
Di tengah pemandangan desa yang damai tersebut, terdapat pemandangan spektakuler yang mengagumkan. Sebuah pohon beringin raksasa berdiri gagah di tengah desa.
Akar-akarnya tumbuh menjalar luas, beberapa bagian bahkan dijadikan rumah dan sejenisnya. Itu adalah ukuran pohon yang sangat besar, jangkauan akarnya mungkin hampir seluas kota Silverstone.
Pohonnya cukup tinggi, daunnya lebat membentang luas dan menutupi desa di bawahnya. Meski begitu sinar matahari masuk dengan indahnya.
__ADS_1
Jika ada kata yang tepat maka ini adalah tampilan dari tempat bernama surga.
“Kita sudah sampai. Selamat datang di desa Ogre.”