
Arcturus memantau situasi sekitar yang kacau karena cahaya aneh sebelumnya.
Meski sudah bergegas ke tempat ini namun dia tetap saja terlambat.
“Tidak disangka perubahannya sebesar ini.”
Padahal harusnya tidak seperti ini. Arcturus hanya melakukan sedikit perubahan terhadap alur ceritanya namun tidak disangka akan melenceng sejauh ini.
‘Apa mungkin karena Jomu tak segera mengamuk atau semacamnya menyebabkan ini semua terjadi?’
Itu adalah kemungkinan besar diantara banyaknya probabilitas yang ada.
“Makhluk macam apa ini? Terlihat menjijikkan sekali,” ujar Alda dengan wajah seperti orang yang melihat kotoran.
Arcturus menatap makhluk yang menyerupai Troll. Itu adalah Undead namun tampak tidak sempurna.
Meski Undead adalah makhluk kotor dari kegelapan dan menjijikan, namun yang ada di depannya bukan benar-benar Undead.
Di kehidupan sebelumnya Arcturus pernah melihat makhluk ini pada beberapa kesempatan. Melalui itu dia tahu siapa dalang sebenarnya dari semua ini.
“Sial! Black Parade sialan!” Arcturus mengumpat dan menarik rambutnya.
“Itu adalah Undead buatan.”
Untuk menjadi Undead, monster ataupun manusia yang mati membutuhkan proses yang sangatlah panjang hingga bisa memakan waktu lebih dari lima puluh tahun.
Tentu ada kasus di mana mereka muncul lebih cepat karena memiliki penyesalan di masa lalu ataupun terkena sihir tertentu. Namun kasus di depannya sangatlah berbeda.
“Undead buatan? Aku tidak pernah tahu apapun tentang itu,” ujar Alda dengan bingung selagi menatap bergantian antara Arcturus dengan Undead.
Arcturus menghampiri Gilbert dan mengeluarkan P3K dari cincinnya. Dia juga menjelaskan kepada Alda selagi memberikan pertolongan pertama.
“Mudahnya ada orang yang mengambil jiwa Troll dan memaksanya bertarung. Bisa dikatakan orang ini memenjarakan paksa jiwa Troll dan membuatnya bertarung.”
Itu adalah cara yang benar-benar keji karena jiwa yang tidak melalui proses alam tersebut akan mengalami penderitaan luar biasa. Di masa lalu, Black Parade menggunakan cara tersebut untuk membuat pasukan abadi.
“Mereka sangat rentan dengan elemen suci dan api.”
Mendengar itu alis Alda sedikit mengkerut, “... itu sulit. Aku yang sekarang tidak bisa melakukannya sama sekali.”
__ADS_1
Arcturus tahu betul bahwa Alda tidak bisa menggunakan kekuatannya sama sekali karena segel di tubuhnya. Sihir sama sekali tidak dimungkinkan untuk saat ini.
Namun Arcturus sama sekali tidak khawatir karena protagonis utama disebut demikian bukan tanpa alasan.
“Ada cara lain untuk mengalahkannya.”
Itu adalah cara yang terbilang mendekati mustahil untuk dilakukan. Lebih mudah menggunakan afinitas cahaya, api ataupun sesuatu yang memiliki atribut suci.
Namun saat ini dia sedang bersama protagonis, cara lain dapat dimungkinkan karena dia spesial.
“Cara macam apa?” tanya Alda.
Arcturus tersenyum kecil, “Itu adalah cara yang terbilang sulit. Kita membutuhkan sesuatu yang dapat menyerap energi.”
Jiwa bisa dikatakan adalah kumpulan energi. Atribut atau kekuatan yang memiliki kemampuan untuk menyerap energi.
Alda Carinea memiliki sesuatu seperti itu bersamanya.
“Menyerap energi? Apa sesuatu seperti itu berpengaruh?”
“Tentu saja! Atribut seperti itu sangatlah langka. Selain Artefak hanya sesuatu yang memiliki bagian dari naga saja yang bisa memiliki atribut semacam itu.”
Namun protagonis utama ini spesial. Tidak hanya mendapatkan pendidikan tingkat tinggi dari naga namun dia memiliki bagian dari naga itu sendiri.
“Jika seperti itu mungkin aku bisa mengatasinya.”
Alda memegang gagang pedangnya yang tampak seperti tongkat besi hitam. Dia berjalan menuju Undead Troll dengan santai dan hanya satu tangan.
“Apa kamu sungguh tidak apa-apa bertarung dengan tangan seperti itu? Aku tahu kamu kuat namun makhluk itu juga tidak lemah.”
Arcturus tahu betul situasi yang dialami oleh Alda namun tentunya dia bertanya. Alasannya sederhana, Arcturus ingin melepaskan segel di tangan kanan Alda tanpa menimbulkan banyak pertanyaan.
“Tenang saja. Bahkan dengan tangan kananku yang tak bisa digunakan ini aku masih bisa bertarung dengan baik,” ujar Alda, terdengar seperti membanggakan diri.
‘Aku tahu betul hal itu. Kamu bahkan bisa menampar Wyvern sampai menangis.’
Itu bukanlah kiasan belaka namun sungguh-sungguh terjadi di kehidupan sebelumnya. Arcturus ingat betul tentang hal itu seperti baru saja terjadi kemarin.
“Tak bisa digunakan? Yah, mari bicarakan nanti. Maaf karena aku tak pandai bertarung jadi tak bisa memberikan dukungan berarti.”
__ADS_1
“Tidak diperlukan,” ujar Alda dengan penuh percaya diri.
Undead Troll berteriak, lebih tepatnya mungkin kesakitan karena dipaksa menjadi Undead.
“Kamu terlihat menyedihkan. Mari aku bantu meringankan rasa sakitmu dengan mengirimmu ke alam sana.”
Alda mencengkram gagang pedangnya dengan kuat selagi tetap berjalan santai. Otot tangannya yang sebelumnya tidak terlihat mulai muncul serta urat samar.
Undead Troll memukul-mukul dadanya seperti gorila dan berlari menuju Alda sekuat tenaga. Dia berlari liar seakan-akan hilang akal.
Bayangan hitam di sekitarnya meluap-luap seakan-akan tahu bahwa akan terjadi pertempuran besar.
Meski begitu Alda tetap santai karena baginya monster itu bukan masalah sama sekali.
“Kamu terlihat menyedihkan dan menjijikan dengan penampilanmu. Sejak dulu aku tidak suka monster semacam ini.”
Langkah Alda kian lama semakin cepat dan berbobot. Dia menarik napas panjang, tampak terlihat asap putih masuk ke paru-parunya karena banyaknya udara yang dihirup.
Troll melompat saat berada tepat di depannya. Alda mengambil satu langkah kiri ke depan dan memejamkan matanya.
“Satu serangan sudah cukup.”
Clang!
Suara bilah pedang yang tercabut dari sarungnya. Bilah perak bersih dan mengkilap ditunjukkan kepada dunia. Dengan gerakan yang secepat kilat bilah tersebut memotong tubuh Undead Troll menjadi dua bagian.
Namun tidak sampai di situ, tebasannya membentuk bilah angin dan menebas bangunan di arah lintasannya sejauh beberapa meter. Potongannya begitu rapih dengan presisi yang amat sempurna.
Arcturus, Gilbert dan petualang lain yang mulai merawat lukanya sendiri memandang dengan tak percaya.
Bukan karena Alda menghabisinya dalam sekali serangan, bukan juga karena bangunan yang terpotong begitu presisi. Pandangan mereka lebih terfokus kepada awan hujan di langit.
Awan tersebut ikut terpotong karena ulah pedangnya. Itu bukannya tidak bisa dilakukan oleh orang-orang namun membutuhkan usaha keras melakukannya.
Namun Alda melakukannya semudah memotong tahu, bagaimana orang tidak terkejut tentang itu. Arcturus yang sudah tahu tentang itu tetap saja merinding karenanya.
“Ini hanya sebagian kecil dari kekuatannya saja.”
Serangannya itu belum sepenuh kekuatannya. Seandainya saja Alda tidak memiliki segel di tangan dan jiwanya, akan seberapa mengerikan wanita ini?
__ADS_1
Protagonis utama disebut demikian karena suatu alasan. Melihat kekuatan Alda membuat Arcturus benar-benar ingin melepaskan segelnya. Meski segel jiwa mungkin masih sulit namun lain ceritanya jika itu tangan kanan.