Im Not Main Character

Im Not Main Character
Wanita Yang Menarik


__ADS_3

Arcturus kembali menuju kediamannya selepas kakinya bisa digunakan kembali. Itu sedikit menyebalkan karena Arcturus hampir lupa caranya berjalan. Dia terlalu nyaman bersantai di kursi roda.


Alda dan Mary tentu saja bersamanya. Shin harusnya ikut namun dia masih memiliki banyak hal untuk dilakukan sebagai penguasa wilayah.


Meski begitu Shin sudah berjanji akan datang untuk membujuk orang tuanya agar Arcturus mendapatkan ijin menghadiri Perjamuan Bulan.


“Aku akan membutuhkan persiapan terlebih dahulu, kamu pulang saja duluan.”


Begitu yang dikatakan Shin. Arcturus tentu menerimanya dengan sepenuh hati karena tidak ingin terseret urusan wilayah. Sudah cukup baginya dicurigai Shin memiliki kontribusi menahan kerusakan.


Bahkan Alda mengaguminya karena Shin adalah orang yang tajam. Fakta bahwa Zegion sang Lich muncul dan Arcturus memiliki kontribusi kecil di pertarungannya tetap dirahasiakan dari Shin.


“Kita sudah sampai. Inilah rumahku, kediaman Religia.”


Alda menatap keluar jendela pedati dengan mata cerah. Dia tampak seperti anak kecil yang pertama kalinya melihat dunia asing.


Baginya benteng tinggi wilayah Religia cukup menakjubkan, juga mungkin ini pertama kalinya Alda melihat kota seindah ini.


Pelabuhan Timur adalah tempat yang indah namun Alda datang di waktu yang tidak tepat. Dia datang ketika monster menyerang sehingga tidak ada kesempatan mengagumi keindahannya.


“Jadi ini yang namanya kota. Ayah benar, manusia mampu membuat hal-hal luar biasa.”


Bangunan yang dibangun secara beraturan, aula indah dengan patung air mancur di tengahnya serta jalanan yang di aspal dengan bebatuan persegi panjang.


Sepanjang jalan bersih, meski ada pepohonan yang menjatuhkan daun namun warga secara sukarela merawat hingga membersihkan daun yang berserakan.


Alda mulai teringat perkataan ayahnya yaitu sang naga.


"Di balik banyaknya kekurangan yang dimilikinya manusia tetap luar biasa. Mereka mampu menciptakan hal-hal yang indah. Peradaban, budaya, bahkan hingga pemukiman yang indah. Kreativitas seperti itulah yang membedakan manusia dengan naga sekalipun."


Bahkan naga jauh berada di bawah manusia dalam hal itu. Naga sama sekali tidak peduli tentang budaya, peradaban bahkan mungkin pemukiman.


“Hey, Arc apa di tempat ini ada makanan yang luar biasa lezat?!” tanya Alda dengan semangat seperti anak kecil.


Arcturus tersenyum kecil melihat keceriaan yang kontradiktif dengan wajah cantiknya yang dewasa nian anggun.


“Tentu saja ada. Kamu bisa memakan apapun yang kamu inginkan. Namun sebelum itu aku ingin kamu menggunakan ini.”


Arcturus mengeluarkan topeng putih dengan ukiran bunga berwarna merah muda di sisi kirinya, tempat di mana Alda tidak membuka matanya.


Sebelum melakukan perjalanan kembali ke kediaman Religia, Arcturus sudah meminta Mary untuk mendapatkan topeng seperti itu. Topeng yang sengaja di desain untuk menutupi separuh wajah Alda dan membiarkan mulutnya tidak tertutupi topeng.


Mau bagaimanapun Arcturus tahu betul akan merepotkan jika wajah Alda diketahui semua orang. Tidak diragukan lagi akan menimbulkan perang besar-besaran untuk mendapatkannya!


“Mengapa aku harus menggunakannya?” Alda mengerutkan alisnya dengan tidak senang. “Aku lebih dari mampu menghempaskan ikan teri yang jatuh cinta padaku.”

__ADS_1


“Aku sama sekali tidak mengkhawatirkannya. Justru sebaliknya, aku khawatir pada ikan kecil malang yang mungkin kamu hempaskan.”


Arcturus bisa tidak tergila-gila kepada Alda karena mengenal baik yang namanya sadar diri. Selain itu Arcturus tahu betul konsekuensi terpincut pada Alda. Namun tidak dengan orang-orang bodoh yang mungkin melakukan hal-hal konyol.


Bahkan jika orang-orang beranggapan Alda adalah budak pemuas nafsu bajingan Arcturus, bukan berarti mereka akan menyerah begitu saja.


“Wajah jahatmu tidak seperti hatimu.” Alda terlihat enggan namun dia menurut dan memakai topengnya.


“Terima kasih atas pujiannya.”


“Aku tidak memuji.”


“Terserah.”


Mereka akhirnya tiba di kediaman Religia. Arcturus bisa melihat Ayah dan adik kecilnya, Spica berdiri di depan pintu mansion untuk menyambut kepulangannya.


Mary yang menjadi kusir segera memberikan hormat begitu turun dan membukakan pintu untuk Arcturus.


“Aku pulang, Ayah,” ujar Arcturus dengan senyuman lembut.


“Kak Arc! Selamat datang!” Spica segera berlari dan melompat ke pelukan Arcturus.


Arcturus tersenyum dan mengelus lembut kepala adik kecilnya, “Aku pulang, Spica.”


Alda hanya menganggukkan kepala dan memberikan salam kecil, “Halo.”


Alvalous segera mengerutkan alisnya, “Siapa wanita ini, Arcturus?”


Bukan hanya karena sikapnya yang tidak sopan namun Alvalous bisa merasakan getaran aneh di sekitar Alda. Getaran aneh yang membuat dadanya berdebar-debar, terutama dengan rambut hitam yang sama dengan Arcturus.


“Ah, ini temanku, Alda Carinea. Dialah yang menyelamatkanku dari krisis di Pelabuhan Timur. Maaf atas sikapnya, dia tidak memahami tata krama maupun tahu caranya bersikap.”


Alvalous segera menghilangkan kerutan di wajahnya dan mulai tersenyum lembut.


“Jadi begitu. Aku berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan putraku. Namaku Alvalous Religia, pemilik wilayah ini. Terima kasih telah menyelamatkan Arcturus, silahkan beristirahat dan anggap sebagai rumahmu sendiri.”


Alda menatap Alvalous dengan tatapan menyelidiki. Dia mungkin menyadari sesuatu namun tidak memilih mengatakan apapun.


“... Ya, terima kasih atas kenyamanannya.”


“Kalau begitu Mary tolong antar Alda. Buat dia mandi dan berganti pakaian. Ah, jangan lupa bawa benda itu langsung ke kamarku.”


“Dimengerti, Tuan Muda. Kalau begitu saya izin undur diri.” Mary segera membawa pedati untuk meletakkannya di gudang dan Alda lekas mengikutinya.


Dia memandang Alvalous sebentar sebelum beranjak pergi.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu Alda pergi, akhirnya Alvalous angkat bicara.


“Kamu menemukan wanita yang menarik, Arcturus.”


Arcturus berusaha mengelak, “Apa maksud ayah aku akan bermain-main dengannya? Bahkan isi kepalaku tidak semuanya tentang wanita, Ayah.”


“Itu memang benar bahwa dia mungkin gadis dengan tampilan menarik meski menutupi wajahnya. Namun yang ayah maksud bukan tentang itu.”


Alvalous mengeluarkan dua kalung. Satu dengan tali perak dan liontin kecil yang memiliki permata biru muda terang di tengahnya. Sementara kalung satunya lagi adalah sebuah cincin karatan dengan tali berwarna hitam.


“Tampaknya dia menemukan bahwa ayah memiliki sesuatu yang menarik. Itu sudah cukup untuk menunjukkan dia memiliki kemampuan.”


Arcturus memandang dua kalung yang dikeluarkan Alvalous. Tentu saja Arcturus tahu betul identitas kedua kalung tersebut.


Kalung dengan cincin karatan adalah sesuatu yang sudah diwariskan turun-temurun di keluarga Religia sejak awal berdirinya rumah tangga ini. Lalu kalung lainnya yang merupakan liontin—


“Bukankah itu kalung pemberian Ibunda yang sering kau ceritakan, Ayah?” tanya Arcturus. “Memangnya ada apa dengan kalung itu?”


Arcturus tahu tentang kalung itu dan dia juga tahu betul untuk tidak perlu bertanya.


“Ini belum waktunya kamu untuk tahu, putraku. Saat waktunya tiba nanti akan ku ceritakan semuanya.” Alvalous hanya tersenyum dan mulai berjalan menuju kediamannya.


Arcturus tidak pernah mendapatkan jawabannya sejak kehidupan sebelumnya. Yah, dia hanya bertanya dua kali dan tak mendapat jawaban. Bahkan dalam novelnya belum dijelaskan tentang hal itu. Arcturus kala itu baru membaca novel saat dunia mulai jatuh dan mengungkapkan beberapa hal.


Salah satunya adalah tentang bagaimana rumah tangga Religia menjadi bangsawan paling kuno di benua ini.


“Lalu kapan waktu bagiku untuk tahu, Ayah? Bahkan aku juga ingin tahu tentang ibu kandungku.”


Alvalous berhenti berjalan saat tangannya membuka pintu. Itu keheningan yang singkat namun begitu berarti.


“Yang jelas sekarang bukan waktunya. Dan, ayah berharap untuk membawa rahasia ini sampai mati. Meski menyakitkan untukmu mendengarnya—”


Alvalous berjalan masuk tanpa pernah berbalik sehingga Arcturus tidak tahu wajah seperti apa yang dibuat ayahnya.


“—aku berharap hari ketika aku menceritakannya padamu tidak akan pernah datang.”


Alvalous meninggalkan Arcturus dengan kalimat yang membingungkan.


Diam-diam Arcturus mengumpat dan mengerutkan alisnya.


‘Sial, aku bukan protagonis utama namun mengapa memiliki banyak sekali misteri yang berkaitan denganku?!’


Pada cerita aslinya, Arcturus Religia hanyalah bocah menyedihkan yang harus menjadi budak protagonis utama karena kebiadabannya. Mengapa orang yang tidak diperlakukan seperti manusia ini memiliki hal-hal membingungkan seperti ini?


“Aku perlu istirahat.”

__ADS_1


__ADS_2