
Saat itu langit sedang menangis demi memberikan kehidupan bagi segala bentuk kehidupan di bumi. Fenomena yang disebut hujan ini berlangsung selama beberapa hari hingga menyebabkan genangan air setinggi mata kaki.
Celepuk! Celepuk!
Diantara hujan tersebut seorang pria berlari tergesa-gesa, membiarkan tubuhnya dimandikan air mata langit.
Berlari di gang sempit antara gedung-gedung tinggi, mengejar sesuatu yang menakuti bentuk kehidupan di bumi.
Crechs!
Radio kecil di telinganya berbunyi, pria itu segera menekan tombol untuk menerima panggilan yang datang.
“Hei, di mana posisimu? Sudah kubilang untuk memberikan laporan jika menemukan sesuatu, Evans!”
“Maaf, ketua! Saat ini aku sedang mengejar salah satu Number, dia lari menuju distrik 23!”
Evans Canopusius sedang mengejar seseorang atas perintah dari pimpinan organisasi. Dikarenakan sudah jadi kebiasaannya ketika fokus pada sesuatu dia akan lupa akan banyak hal.
“Bilang dari awal kalau begitu! Meski kamu memiliki kekuatan fisik namun berurusan dengan mereka bukan keahlianmu! Kamu lebih cocok bermain di belakang layar!”
Evans memiliki kekuatan fisik yang cukup besar karena hobi angkat beban namun kemampuannya dalam bertarung nol besar. Oleh karena itu ia lebih sering berperan sebagai otak di kelompoknya.
Namun dalam tugas kali ini dia justru terjun ke lapangan langsung.
“Berhati-hatilah Evans, aku mendapat kabar bahwa Alfabet sudah ditugaskan untuk melakukan penangkapan!”
Evans mendecakkan lidahnya dengan kesal. Alasan utama dirinya turun ke lapangan adalah untuk menangkap Number dengan usahanya sendiri tanpa melibatkan Alfabet.
“Mengapa mereka baru bergerak sekarang?”
Evans tahu betul bahwa bumi saat ini sedang kacau. Bukan hanya keberadaan Number yang saat ini ia kejar, tetapi juga dengan kehadiran Alfabet.
Sejak sepuluh tahun yang lalu berbagai negara mengumumkan kemunculan manusia dengan kekuatan super. Mereka adalah manusia unik dan beberapa memulai kekacauan.
Setiap negara berkoalisi untuk menangkapnya lantaran percaya mereka adalah ancaman. Toh, beberapa sudah menyebabkan bencana yang besar bagi bumi.
Untuk menangkap mereka negara tertentu membentuk sebuah kelompok yang dikenal dengan Alfabet demi menangkap para number.
“Tentu saja karena mereka ingin mendahului kita. Aku akan mendarat sebentar lagi jadi jangan gegabah—”
Suara panggilannya mulai berisik, seperti sesuatu sedang meledak karena tembakan sesuatu.
“—sial, apa yang terjadi?! Tidak, Evans—”
Panggilannya berakhir dengan menyisakan misteri.
“Ketua? Jawab ketua, apa yang terjadi?! Cih, sial!”
Evans yakin sesuatu yang buruk telah terjadi. Dari panggil tersebut dia mendengar suara ledakan, sangat mungkin seseorang menembak kendaraannya.
__ADS_1
Meski keadaan di pihaknya tidak baik namun dia tak berhenti mengejar Number.
Namun ketika itu juga dia menerima pukulan keras dari gang yang ia lewati.
Bang!
Evans terhempas dengan kuat ke dinding hingga menimbulkan retakan. Visinya mulai kabur, tetapi ia masih bertahan.
“Kamu kuat juga.”
Suara seorang pria yang tak ia kenali, Evans melihat wujudnya samar-samar.
“Kamu Alfabet ... apa yang kamu lakukan?”
“Menghajarmu bukankah sudah jelas?”
“Mengapa? Bukankah kita di sisi yang sama?”
“Jika itu menangkap Number, maka jawabannya iya. Namun dalam artian lain kita tidak sama. Hmm? Lemah sekali, kamu sekarat karena pukulan lemah.”
Evans tak bisa lagi menjaga kesadarannya dan pingsan.
...*****...
Arcturus membuka matanya, dia menyaksikan langit yang asing, tak pernah dirinya lihat selama kehidupannya di putaran kedua dunia novel ini.
“Apa yang terjadi—”
Di kehidupan kali ini, mungkin melawan Mad Dog adalah pertarungan kelas berat pertama yang membuatnya terluka sangat parah.
Padahal sewaktu berhadapan dengan Zegion situasinya tidak seperti ini. Bahkan ketika melawan Rentaro Reigen lukanya sangat minim.
Bahkan setelah semua itu Arcturus sangat yakin bahwa Mad Dog sudah pulih. Bajingan itu pastinya sudah bisa berdiri beberapa waktu setelah pertarungan.
“Kamu sudah sadarkan diri! Wahai dewaku, aku tak tahu harus apa jika sesuatu terjadi kepadamu!”
Arcturus telat memperhatikan sekitarnya. Dalam setiap harapan di hidupnya tak pernah sekalipun Arcturus berharap Edward adalah wajah pertama yang ia lihat dalam situasi seperti ini.
“Bajingan apa yang kamu lakukan di sini? Biasanya wanita cantik akan ada di sisiku saat bangun tidur setelah melalui pertarungan berat.”
Itu adalah situasi klise yang akan terjadi di cerita fantasi manapun. Saat tokoh utama terbangun dari tidurnya maka wajah pertama adalah heroine cantik.
Namun sayangnya Arcturus Religia bukanlah tokoh utamanya, dia hanyalah NPC. Yah, bahkan dunia kejam ini tidak memiliki plot klise seperti itu kepada protagonisnya.
“Kamu tidak tahu seberapa khawatirnya aku padamu! Seandainya kamu mati maka cara untuk menyelamatkan Edward kecil ini akan pupus!”
Edward mengelus selangkangannya seakan-akan itu adalah hewan malang yang perlu disayangi. Melihatnya Arcturus ingin menghajar kepalanya namun tubuhnya tak bisa digerakkan.
• Bocah sialan ini akhirnya tersadar. Bajingan lemah yang bahkan butuh waktu lama untuk sekedar membuka matanya.
__ADS_1
Disaat tubuhnya sakit ia mendapatkan kecaman pedas dari kaisar.
• Aku senang bahwa kamu tak kehilangan nyawa.
Si pembunuh bahkan mulai berbicara.
‘Tolong berhenti bicara. Cukup badanku yang sakit, jangan tambah penderitaan di kepalaku.’
Arcturus ingin membenahi pikirannya yang kacau. Pertama-tama adalah kepentingan mengetahui situasi terkini.
“Berapa lama aku tak sadar? Apa yang terjadi selama waktu itu?”
Edward selesai menggosok sesuatu di celananya dan pergi menuangkan teh untuk Arcturus.
“Kamu tertidur hampir tiga hari, loh? Kami membawamu ke villa dan memberikan perawatan terbaik karena nyawamu terancam. Pada awalnya aku sendiri tak tahu harus apa karena bahkan nenek Mary juga sama.”
Mary mungkin paling menderita kedua setelah Arcturus. Dia kehilangan banyak darah dan bahkan lengan kirinya terputus.
“Pada akhirnya aku memutuskan untuk tak memberitahukan ini kepada keluargamu ... yang terbaik adalah mendengarnya langsung darimu.”
Jeda yang dia berikan mencurigakan namun Arcturus terkejut bahwa bajingan ini membuat pilihan yang tepat.
Tidak ada hal baik akan terjadi seandainya Alvalous tahu tentang kondisi dan penyebab Arcturus jadi seperti ini.
“Aku bersyukur untuk itu. Lalu bagaimana dengannya?”
Arcturus sadar bahwa sesuatu terjadi di tubuhnya, tetapi dia lebih tertarik dengan situasi Mad Dog.
“Jika kamu berbicara tentang Anjing Iblis itu maka jangan khawatir. Orang gila itu masih bisa berdiri di saat kamu pingsan dan bahkan memukul kepalaku. Namun dia tak gila lagi dan pergi pulang.”
Edward juga menjelaskan bahwa terkadang penyusup datang ke villa ini saat malam hari namun anehnya tidak ada apapun yang hilang maupun dicuri.
Kesimpulan yang diambil penyusup itu adalah Mad Dog yang mungkin memeriksa kondisi Arcturus. Tentu saja Edward tak punya cukup nyali untuk menghentikannya.
Meskipun begitu Arcturus lega bahwa Mad Dog mungkin mau mendengarkannya kali ini. Dia benar-benar membutuhkan kekuatannya untuk tujuan selanjutnya.
“Aku bersyukur bahwa rencana ini tak gagal.” Arcturus menghela napas dan tersenyum.
Namun di sisi lain Edward hanya terus mengaduk cangkirnya tanpa mau memandang Arcturus.
“Pak tua bernama Makarov dan sekretarisnya juga ada di sini. Mereka ingin tinggal dan menunggumu sadar.”
“Yah, aku sudah menduganya.”
Itu tak mengejutkan. Yang membuat Arcturus tertarik adalah sikap Edward yang seakan sedih juga ragu tentang sesuatu.
Mungkin itu adalah kondisi terkini tubuhnya, yang ia abaikan.
“Huh ... jadi ada apa dengan tubuhku sebenarnya? Aku sudah bisa menebaknya karena tak bisa merasakan kedua tanganku. Sepertinya aku benar-benar lumpuh kali ini, ya?”
__ADS_1
Risiko dari memaksakan diri dan menggunakan Ashura. Arcturus terus mendorong tubuhnya hingga sampai pada batasnya dan konsekuensinya adalah kelumpuhan ini.