
Dungeon memiliki aroma lembab yang khas dan membawa perasaan mengerikan. Itu adalah tempat yang dibuat dan dipertahankan dengan energi sihir besar untuk melestarikan monster juga Beast.
Saat ini Arcturus tengah menjelajahinya bersama Lifana yang menggunakan wujud terbesarnya saat ini.
Dalam waktu singkat ular kecil itu sudah hampir seukuran piton dewasa. Padahal dalam perjalanan ini dia baru memakan satu Beast kecil berupa tikus.
“Papa aku tak mau lagi makan monster mentah! Ini tak bagus untuk pencernaanku!”
Bahkan Beast juga bisa pilih-pilih makanan. Arcturus tidak tahu bagaimana tindakannya, memasak monster juga bukan pilihan. Pengolahannya tidak mudah dan akan membutuhkan banyak waktu.
“Memangnya rasanya seburuk itu?”
“Aku juga tidak mengerti. Yang aku rasakan hanya seperti menelan air dingin namun meninggalkan rasa tak sedap.”
Itu perumpamaan yang sulit dimengerti namun Arcturus memiliki banyak pengetahuan. Dia memiliki sebuah hipotesis yang cukup bagus.
“Mungkin sebenarnya kamu tak harus memakan mayat itu. Kesampingkan monster, biasanya Beast memiliki Core dalam tubuh mereka.”
Dalam tubuh Beast terdapat kristal yang berisikan esensi mana dan kekuatan dari Beast tersebut. Biasanya orang akan memburu Beast demi mendapatkan kristal itu. Entah untuk dijual maupun dijadikan senjata.
“Aku yakin kamu bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuh Beast. Terkadang ada Beast yang kristalnya bisa dilihat dari luar, bahkan ada yang tersembunyi dalam tubuhnya.”
Semakin kuat Beast, semakin langka dan tinggi keberadaannya maka kristalnya akan memberikan manfaat besar. Untuk alasan itulah identitas Lifana harus dirahasiakan.
Sekalipun orang tak berharap membuat kontrak dengannya, mereka masih akan mengharapkan Core miliknya.
“Kalau begitu apa punyaku ada di dalam tubuh, papa?”
Arcturus mengangguk, “Kamu tentu punya satu. Apa kamu tak merasakan adanya hal aneh di dalam tubuhmu?”
Lifana harusnya tahu secara alami jika Arcturus memancingnya. Seperti halnya Spica yang memancing Lifana untuk bisa mengecilkan tubuhnya.
“Ya aku merasakannya!”
“Maka jaga itu baik-baik. Kamu tak boleh menyerahkannya kepada siapapun termasuk aku. Core adalah penyokong utama kekuatan dan hidupmu.”
Mereka terus berjalan mengelilingi Dungeon sampai akhirnya bertemu Beast kecil dengan bentuk rubah.
Beast itu memiliki gerakan yang cepat dan mulai menyerang, tetapi Lifana dengan sigap maju dan menggigit lehernya. Gerakannya semakin cepat dan lihai seiring pertemuannya dengan monster.
“Aku merasakan sesuatu di kepalanya, papa!”
Jenius alami tentunya sangat mudah mempelajari sesuatu. Arcturus hanya tersenyum dan menyaksikan Lifana beraksi.
“Gunakan kekuatanmu untuk mengambil Core-nya.”
Lifana mengamati rubah itu beberapa waktu sebelum matanya mengeluarkan cahaya dan dia membuka mulutnya.
Asap kebiruan keluar dari mulutnya, menyelimuti tubuh rubah selama beberapa waktu sebelum menghilang.
__ADS_1
“Aku berhasil, papa! Ternyata ini lebih mudah daripada menelannya!”
Arcturus tak melihat adanya perbedaan apapun dari tubuh rubah yang sudah terbunuh. Untuk membuktikannya Arcturus coba membedahnya dan mencari Core milik rubah.
“... kamu hebat. Core-nya benar-benar berhasil kamu serap seutuhnya!”
Itu adalah prestasi yang mengagumkan. Tidak hanya Core, bahkan rubah itu tak memiliki darah sama sekali saat Arcturus membedahnya.
Darah Beast memiliki kandungan Mana. Sungguh luar biasa bahwa Lifana mampu menyerapnya hingga tak bersisa.
Mungkin persyaratan untuknya bisa melakukan itu adalah lawannya sudah terbunuh lebih dulu.
“Ini seperti game. Mari kita buat levelmu meningkat pesat, Lifana!”
“Ya, papa!”
****
Di tempat lain, protagonis utama yang Arcturus kerahkan menuju Kekaisaran Tengu sedang menghadapi kesulitan.
Kesulitan pertama adalah tentang Blodwyn yang menjadikannya boneka untuk menggunakan beberapa pakaian memalukan. Dia bahkan harus mendapati diri belajar hal-hal yang mungkin tidak perlu diketahuinya.
Lalu kesulitan lainnya adalah situasi di depannya.
“Sepertinya benar perkataan Tuan Muda Arcturus. Tidak mudah untuk memasuki Hutan Ellior.”
Hutan Ellior terdiri dari banyaknya pohon setinggi puluhan meter yang seakan-akan membarikade hutan. Di dalamnya terdapat kabut putih tipis dan sesuatu seperti penghalang sihir.
Blodwyn bergumam dan tersenyum kecut saat melihat banyaknya cabang pohon yang bergerak mencegah mereka memasuki hutan.
“Pergilah selagi aku bicara baik-baik padamu.”
Suara yang serak dan terkesan tua berkata dari dalam hutan.
Alda menyipitkan matanya dan melihat sesuatu bergerak keluar dari dalam hutan. Itu adalah monster pohon raksasa yang terlihat mengerikan.
‘Dia kuat, sangat kuat.’
Tak diragukan lagi bahwa monster itu tak mudah untuk dihadapi. Bahkan Alda merasakan monster itu memiliki kekuatan aneh yang dia tidak ketahui.
“Itu ... Penjaga hutan, Elderwood! Dia seorang peri-!”
Blodwyn tercengang dengan keberadaan peri besar seperti itu. Elderwood adalah keberadaan yang biasanya muncul di dalam dongeng tentang peri.
“Wahai Guardian, tolong izinkan kami memasuki hutan. Kami ingin bertemu Ratu Peri dan membicarakan sesuatu yang penting!”
Blodwyn mencoba bernegosiasi, dia ingat perkataan Arcturus untuk tak mencoba menerobos. Namun meski mereka tak melakukannya, hutan mulai menyerang mereka setiap kali berkunjung.
“Manusia yang keras kepala. Jawabanku tetap sama, aku takkan mengizinkan siapapun masuk. Pergilah dan jangan pernah dekati hutan!”
__ADS_1
Elderwood menghentakkan kakinya. Segera akar pepohonan mulai bergerak dengan mengancam.
Melihat hal itu Alda mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk menyerang. Meski Arcturus melarangnya, Alda tak berpikir akan salah jika dia bertarung untuk melindungi diri.
“Mengapa kamu begitu keras melarang kami memasuki hutan?” Blodwyn tampak menyerah bernegosiasi. Oleh karena itu, dia perlu alasan di balik Elderwood melarangnya.
“Kami tak menyukai manusia yang merusak hutan. Bahkan jika Yang Mulia Ratu membiarkan kalian atas alasan mutualisme, namun aku tetap tak menyukai kalian. Banyak saudaraku yang kalian bunuh untuk membangun rumah dan berbagai hal lainnya.”
Manusia adalah ras yang merusak dunia untuk kenyamanan mereka. Sekalipun Blodwyn mengerti hal itu, tetapi harusnya Ratu Peri lebih bijak dari ini.
“Selain itu, wanita itu berbahaya. Aku takkan membiarkanmu masuk dan membuat kekacauan!” Elderwood menunjuk tepat ke arah Alda.
Blodwyn melihat Alda dengan bingung dan penasaran. Dia tahu Alda mungkin sangat kuat, tetapi bahkan dia takkan melakukan hal nekat apapun.
“Dia hanya melindungi diri karena kamu menyerang! Kami takkan merusak apapun jadi tolong.”
Elderwood hanya meludah dan mengejek pernyataan Blodwyn.
“Apanya yang tak merusak saat dia memiliki kekuatan yang mampu mengintimidasi kehidupan? Hutan ini memiliki banyak peri kecil. Keberadaannya akan menjadi mimpi buruk!”
Blodwyn melirik Alda dan tatapannya bertemu dengannya. Blodwyn seakan-akan meminta konfirmasi tentang perkataan Elderwood.
“Mungkin dia berbicara tentang mata kiriku.” Alda berbicara dengan tenang selagi memandang Elderwood dan Blodwyn bergantian.
“Ada apa dengan mata kirimu? Bukankah itu terluka dan tak bisa melihat lagi atau semacamnya?”
Blodwyn yakin tentang itu jadi tak pernah mempertanyakannya. Namun rupanya kebenaran menyimpang dari imajinasinya.
“Lihat, kan? Meski itu hanya peninggalan dari Altera si naga bajingan. Namun pastinya ada kekuatan mengerikan.
“Apa? Naga?!” Blodwyn terkejut mendengarnya dan melihat Alda.
Mendengar perkataan Elderwood, Alda tercengang dan mulai melangkah maju.
“... kamu mengenal ayahku, kan?”
Alda terus melangkah maju dan tampak berniat memasuki hutan sekalipun harus menerobos paksa.
“Aku sudah memperingatkan, jangan melangkah lebih jauh atau aku akan menundukkanmu.
Mendengar hal itu Alda hanya tersenyum dan pertama kali sejak sekian lamanya dia mengungkapkan mata kirinya kepada dunia. Mata keemasan yang tampak seperti reptil dan cukup mengerikan.
Alda kemudian mengambil ancang-ancang untuk bertarung.
“Apa kamu memilikinya?”
Elderwood tercengang saat melihat mata yang bersinar dalam warna keemasan. Seakan-akan dia melihat fatamorgana, kehadiran naga mengerikan menyelimuti wanita ini.
“Apa kamu memiliki kekuatan untuk menundukkanku?”
__ADS_1