
Ada banyak hal menarik yang bisa ditemukan di desa Third Eye Ogre. Ini adalah desa di mana hanya ada orang berwajah bagus. Bahkan bocah berumur lima tahun saja sudah memiliki sinar wajah yang seakan mengatakan akan menjadi idola.
Dengan berkat seperti itu maka tidak heran banyak dari mereka menjadi budak. Di dunia ini ada banyak jenis orang yang bernafsu hanya karena tampilan dan mengabaikan perbedaan ras.
Arcturus Religia adalah seorang bangsawan. Orang sama yang sangat berjasa bagi desa Third Eye Ogre. Tidak hanya melepaskan tuan putri mereka, tetapi juga membantu membebaskan budak, serta menjatuhkan rezim Silverstone.
Dan, orang dengan banyak jasa itu hanya memiliki permintaan paling sederhana.
“... kamu tidak bercanda?” Leona bertanya seakan-akan Arcturus aneh.
Meski terdengar sombong namun desa Third Eye Ogre tidak kekurangan wanita cantik. Arcturus adalah seorang bangsawan. Leona yakin bahwa setiap dari mereka memiliki hobi mengoleksi gadis cantik.
“Mengapa seakan-akan aku orang anehnya di sini?” Arcturus terlihat mengerutkan alisnya kesal.
Leona menyaksikan perubahan itu. Semakin dia memperhatikannya, bangsawan yang satu ini sangat aneh.
“Maaf, aku sudah berharap kamu meminta beberapa selir atau mungkin harta. Aku tak berharap kamu hanya menginginkan memanjat.”
Itu seakan seperti seekor kera yang tidak peduli dengan pedang legendaris dan hanya tertarik berayun di pohon besar.
“Dengan wajahku ini, apa terlihat seperti akan ada kesulitan soal wanita?” Arcturus menyombongkan diri, Leona sedikit kesal denhan kepercayaan dirinya itu. “Kesampingkan wanita, aku sama sekali tidak keberatan kalian membuang semua uang dan permata kepadaku.”
Hanya di hadapan ras yang tidak tertarik dengan kekayaan, Arcturus dengan lapang dada sangat rela menjadi tempat pembuangan mereka. Meskipun Religia kaya, tetapi tidak ada salahnya memiliki uang pribadi sendiri.
“Aku ingin memanjat Pohon Adam dan kuharap kalian mengizinkannya. Apa itu hal yang sulit?”
Meski pohonnya sangat besar, sekalipun ketinggiannya luar biasa, Arcturus tetap ingin memanjatnya. Ada satu hal yang tidak diketahui Ogre terkait Pohon Adam.
Omong kosong jika dia bilang hanya ingin memanjat. Faktanya adalah dia ingin mengambil sesuatu yang penting di atas sana.
“Sama sekali tidak ada masalah tentang itu. Bahkan kami para Third Eye Ogre kerap melakukannya untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat.”
Ada perlombaan tertentu diantara Third Eye Ogre di desa ini. Itu adalah perlombaan di mana mereka memanjat Pohon Adam dan barang siapa yang berhasil mencapai tempat tertinggi, maka orang itu adalah yang terkuat di desa.
“Fufu, itu benar, Tuan Arcturus. Sejauh ini Putri Leona memiliki rekor tertinggi.” Claus menyampaikan dengan bangga.
Leona sedikit malu namun tidak menyangkalnya. Arcturus juga tidak menggali informasi yang kurang penting.
“Hutang kami kepadamu lebih besar dari ini. Silahkan katakan apa yang kamu butuhkan kepadaku nantinya. Jika kamu ingin tinggal beberapa waktu, akan ku siapkan tempat untukmu.”
Arcturus tidak menolak keramahtamahan Leona dan memutuskan untuk tinggal. Dengan pelayanan cepat tempat tinggal Mary dan Arcturus sudah disiapkan. Mereka memiliki rumah kecil di bawah akar yang berdekatan.
__ADS_1
Segera mendapatkan ruangannya Arcturus berbaring sepanjang waktu.
Tidak ada surga yang lebih baik dari tidak bekerja, dan tiada dunia terindah selain di atas kasur.
Ini adalah jenis kehidupan yang ingin dia capai jika bisa. Oleh karena itu dia berusaha mencegah kekacauan di masa depan.
“Ah, sial. Aku pasti menjadi tak berguna jika terus begini.”
Kelemahan terbesar manusia adalah menjadi tak berguna sesaat ada di kasur.
Arcturus segera bangkit sebelum dirinya semakin tenggelam dan memanggil beberapa Ogre untuk disiapkan makan.
**
Sore tiba dengan cepat dan matahari terbenam sepenuhnya. Pohon Adam tampak lebih cantik dengan sinar rembulan menembus dedaunannya. Arcturus tidak akan terkejut jika ada orang yang menyembahnya.
Bersama dengan pemandangan indah ini, Arcturus berdiri di depannya. Dia melakukan peregangan tubuh untuk melemaskan ototnya.
“Kamu harus berhati-hati. Rintangan terbesar mendaki Pohon Adam adalah kuatnya angin yang berhembus di atas dan semakin tinggi kamu, semakin sedikit udaranya.”
Bermodalkan fisik saja tidak cukup untuk mendaki Pohon Adam. Dibutuhkan mental yang kuat dan ketahanan luar biasa.
Leona hanya tersenyum masam dengan reaksi datar Arcturus. Dia kemudian menatap Pohon Adam.
“Semakin tinggi kamu mendaki, tingkat kematian juga meningkat. Ogre memiliki tubuh sekeras baja. Namun jatuh dari setengah ketinggian tempat ini nyaris membunuhku. Ogre yang sangat tahan banting bisa sekarat jika jatuh.”
‘Apa katanya? “Membunuhku?” Jadi itu pengalaman pribadi.’
Jika Third Eye Ogre yang sangat tahan banting nyaris mati hanya karena jatuh, maka Arcturus yang manusia biasa akan menjadi bubur.
“Apa anda yakin tidak perlu ditemani, Tuan Muda?” Mary terlihat sangat khawatir. “Kemungkinan terburuk jika anda jatuh dan saya bisa menangkapnya, itu tetap tidak akan meninggalkan cidera ringan.”
“Mengapa kalian terus berpikir aku akan jatuh?”
Arcturus paling tahu sejauh mana kekuatannya sendiri. Meski adanya Ancient Determination, dia tetap takkan mencapai puncaknya dengan kekuatan fisiknya yang sampah saat ini.
Dia juga paham betul untuk tidak pernah meremehkan kekuatan gravitasi.
“Aku takkan jatuh, dan takkan mati. Di dunia ini nyawaku adalah harta yang takkan ku serahkan begitu saja.”
Mary tampak mengerti, tetapi tidak menghilangkan semua kekhawatirannya.
__ADS_1
Segera Arcturus meminta tolong Leona dan beberapa Third Eye Ogre untuk melafalkan sihir angin.
Cara terbaik mendaki tinggi dengan cepat adalah menghempaskannya jauh ke udara.
“Kamu siap?” tanya Leona ketika memegang tangan kanan Arcturus.
Arcturus mengangguk. Dia sendiri cukup takut dengan rencana ini.
“Ini akan cukup menyakitkan, Tuan. Persiapkan dirimu! Dalam hitungan ketiga!” Claus memperingati dan memberi aba-aba selagi memegang tangan kiri Arcturus.
Satu.
Arcturus merasakan jantungnya berdebar-debar. Mau bagaimana lagi? Ini kali pertama dia melakukannya.
Dua.
Kekuatan kuat mulai berputar di sekitar tubuhnya. Itu adalah angin segar dari sihir Leona dan Claus.
Arcturus bisa merasakan keduanya menggenggam tangannya dengan erat, kemudian mengambil beberapa langkah besar ke depan dan—
Tiga!
— Arcturus dilemparkan jauh ke udara.
‘Sial! Ini lebih menyakitkan dari yang kuharap!’
Kedua tangannya serasa mau copot dan seluruh tubuhnya seakan-akan menghantam dinding angin. Namun itu bisa ditahan meski menyakitkan.
Sekejap mata Arcturus mencapai tempat yang tinggi, daratan tak lagi terlihat.
“Aku telah menemukan jubahmu. Maka harusnya aku sudah bisa mengeluarkan kekuatan penuhmu, pembunuh!”
Arcturus berteriak pada kekuatan di dalam dirinya.
• Pedangku belum ditemukan. Namun, selain kekuatan yang terkait penyerangan, kamu bisa menggunakannya.
Arcturus tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya ke Pohon Adam yang tak bercabang.
Dia menatap tangannya, dan bayangan yang dibuatnya. Segera Arcturus meraihnya. Tangannya masuk ke dalam bayangan beserta seluruh tubuhnya.
“Ini kekuatan yang bagus.”
__ADS_1