
“Bajingan gila, kita tidak akan sempat!”
Arcturus mengumpat keras karena dia tidak bisa melakukan apapun. Banyak orang jelas akan mati karena ledakan meteor itu nantinya. Bahkan dengan kemampuan Alda saat ini mustahil menghentikannya.
Apa yang harus diperbuat? Arcturus tidak suka disuruh diam menunggu saat semua orang akan mati. Kemungkinan kematiannya semakin tinggi setiap detiknya saat Arcturus berdiam diri untuk berpikir.
‘Apa mungkin Alda bisa menebasnya dengan jarak ini? Tidak, tangannya tersegel itu tidak dimungkinkan.’
Seandainya Alda memiliki kedua tangannya bebas maka itu dimungkinkan menebas dari jarak yang sangat jauh. Namun saat ini dia tidak bisa mengharapkannya.
Segel di tangan maupun di jiwanya tidaklah mudah untuk ditangani. Arcturus memang sudah berencana melakukan sesuatu untuk itu meski memakan waktu.
“Sial!”
Arcturus mengumpat kesal, memejamkan mata dan mengatupkan gigi. Dia tidak mau melihat akhir dari Pelabuhan Timur beserta orang-orang di sana.
Apakah ada cara untuk membuat telinga terpejam? Jika ada Arcturus ingin melakukannya lantaran tidak ingin mendengar sorakan kehancuran yang akan datang.
“Mengapa kamu tampak putus asa ... .”
Rintihan yang lemah namun masih terdengar keras menyadarkan Arcturus. Dia melihat bahwa ular yang terkapar sekarat saat ini sudah melilitkan tubuhnya seakan-akan tidak terjadi apapun.
“Aku akan membantumu meski agak kasar,” ujar Jomu, perhatiannya tertuju kepada Alda. “Kamu wanita yang mengerikan jika tidak ada segel aneh itu. Namun kekuatanmu saat ini lebih dari cukup menghancurkannya.”
Alda menatap Jomu dan mencengkram erat gagang pedangnya, “Aku pasti akan melakukannya.”
Alda cukup pintar untuk memahami niat Jomu dan memberikan lampu hijau serta berbalik dan menatap meteor dengan tajam.
Jomu yang tampak menguatkan dirinya mulai mengeluarkan sinar dari kristal kuning di kepalanya.
“Nikmati perjalanan menyenangkannya.”
Segera angin kuat berhembus dan menerbangkan Alda dengan kecepatan yang gila. Arcturus yang menyaksikan itu bergidik ngeri.
Jika itu dirinya dan bukan Alda, Arcturus sepenuhnya yakin akan mengalami patah tulang yang luar biasa di tubuhnya.
Namun tidak perlu khawatir karena orang yang dihempaskan Jomungandr adalah protagonis utama. Hanya karena itu Alda, apa gunanya Arcturus khawatir?
Alda adalah wanita yang mampu membuat banyak pria luluh akan kecantikannya dan terlihat kecil karena kekuatannya.
“Itu benar-benar cara yang kasar,” gumamnya.
“Sekarang ... kita hanya berdua.” Jomu tampak semakin lemah, dia juga mulai berbaring di tubuhnya yang melingkar.
Arcturus memandanginya dengan simpatik. Sekalipun monster di depannya telah membunuh banyak orang, setidaknya dia berbuat baik kepada Arcturus. Bahkan, Jomungandr menghempaskan dengan tujuan agar Alda bisa menghancurkan meteor.
__ADS_1
Namun meski begitu Arcturus tahu bahwa tujuan Jomu adalah bicara empat mata dengannya.
“Sepertinya tidak ada cara bagimu untuk sembuh, ya?” ujar Arcturus, meski begitu dia tidak terlihat sedih. Tatapan dan ekspresinya dingin.
Meski begitu Jomu tidak tersinggung, dia malah lebih merasa nyaman. Baginya ditatap simpatik pada saat ini oleh manusia adalah penghinaan.
“Ada sedikit hal yang belum aku sampaikan padamu.”
“Apa tentang telur aneh itu?” Arcturus lekas menyela.
“Itu juga termasuk. Aku akan menceritakan bagian yang belum ku ceritakan padamu.”
Itu adalah tentang Deklarasi yang dibuat naga. Arcturus sudah tahu tentang itu dari kehidupan sebelumnya dan pengalaman membaca novel. Namun seperti yang diharapkan, ada beberapa penyimpangan.
Apa yang diceritakan Jomu sebelumnya memiliki beberapa informasi penting yang tidak ada pada kehidupan sebelumnya maupun novel.
“Entitas yang dikhawatirkan naga, sosok yang menjelajahi dunia itu sungguh ada. Hal itu bukanlah dongeng belaka ...” Jomungandr mulai sedikit terengah-engah napasnya.
“Kamu mungkin tidak akan pernah menyadari jika bertemu salah satu dari mereka.”
Jomungandr terus melanjutkan ceritanya. Sosok yang dikhawatirkan para dewa ini konon seperti manusia biasa pada umumnya, terkadang juga bisa menyerupai monster maupun hewan, bahkan tidak terkecuali tumbuhan.
Informasi yang masih abu-abu terungkap kepada Arcturus satu persatu. Itu membuatnya sakit kepala lantaran dikehidupan sebelumnya maupun novel tidak pernah mengungkapkannya.
Naga adalah ras terkuat yang dapat dikatakan dewa yang hidup di dunia ini mengatakan itu. Dapat disimpulkan bahwa langkah buruk memancing kemarahan entitas penjelajah dunia ini.
“Telur itu bukan milikku, tetapi sesuatu yang diwariskan padaku ... bantu dia menetas, maka kamu akan mendapatkan bantuan hebat.”
Jomu mulai melemah dan mendekati Arcturus. Matanya berada tepat di depan Arcturus, dengan gerakan kecil saja Arcturus bisa menyentuhnya.
Jomungandr, puncak evolusi dari spesies Serpent menatap Arcturus dengan seksama. Dia mulai berbicara melalui telepati dengan kekuatan terakhirnya.
“Banyak yang ingin aku sampaikan namun sedikit waktu yang aku memiliki. Yah ... aku yakin, jawabannya akan datang padamu. Sekali lihat aku tahu kamu bukan manusia biasa.”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud namun diriku sepenuhnya manusia.” Arcturus mengerutkan alisnya dan memberikan penyangkalan.
Jomu tertawa kecil dan memejamkan matanya, “Suatu hari ... jawabannya akan datang padamu. Seperti halnya gadis yang dipenuhi aura naga ... kamu akan mengetahuinya kelak.”
Jomu membuka matanya kecil guna melihat Arcturus dalam detik-detik terakhir hidupnya.
Dia tidak memiliki penyesalan apapun pada kesempatan terakhir yang luar biasa ini.
Jomungandr tidak menceritakan satu hal kepada Arcturus. Satu hal yang penting, dan alasan mengapa dia tertarik kepada Arcturus Religia.
‘Takdir kembali bergulir setelah beristirahat dalam waktu yang lama.’
__ADS_1
Takdir yang sudah ditentukan sejak lama kembali bergerak. Jomungandr sungguh puas karena mati ketika roda takdir mulai bergerak. Dimulai dari pemuda yang berdiri di depannya saat ini, dengan tatapan simpatik yang berusaha disembunyikannya sejak lama.
‘Gadis Surgawi, Anjing Gila, Anak Terkutuk, Mimpi Buruk Terakhir, dan Putra Alam.’
Naga yang dia temui banyak bercerita. Sebuah cerita yang bagaikan kisah dalam negeri dongeng namun anehnya Jomungandr yakin akan kejadian kisah itu.
Sebuah kisah panjang yang penuh dengan lika-liku dan tragedi. Kisah yang uniknya tidak memiliki tokoh tetap sebagai penggerak utama jalannya cerita.
‘Seperti apa masa depan? Siapa yang akan menggerakkan cerita? Aku ... penasaran. Bagaimana sang penulis menuliskan ... takdir ini.’
Satu-satunya penyesalan Jomungandr adalah dia tidak dapat menyaksikan bagaimana semuanya akan berakhir.
“Batuku ... berguna, untukmu.”
Napas terakhir dihembuskan bersamaan kalimat terakhir yang mampu disampaikan Jomungandr.
Puncak evolusi dari spesies Serpent menghembuskan napas terakhirnya tepat di hadapan Arcturus.
Namun Arcturus tidak bisa bersedih karena semua informasi yang baru di terimanya membuat sakit kepala.
“Aku tidak bisa bergantung pada isi novel maupun kehidupan sebelumnya.”
Semua itu tidak bisa lagi jadi pacuan utama. Arcturus harusnya sadar sejak dia mengulangi dunia ini.
“Batumu akan aku gunakan dengan baik. Segala bagian dari tubuhmu akan aku gunakan.”
Itu adalah janji Arcturus kepada sang jasad besar di depannya. Arcturus saat ini penuh dengan keyakinan kuat.
“Kali ini tidak akan gagal. Aku tidak akan melepaskannya.”
Dia sudah melepaskan dunia ini sebelumnya dan meresetnya kembali dari awal. Mungkin saat ini sudah tidak ada jalan mengulang lagi.
“Aku harus mengumpulkan semuanya lebih cepat.”
Arcturus akan mengumpulkan koleganya yang butuh untuk dicari dan ditemukan. Itu akan memakan banyak waktu namun lebih baik ketimbang tidak sama sekali.
“Aku akan membangun "Mimpiku" sekali lagi.”
Organisasi yang pernah dia bangun pada kehidupan sebelumnya. Untuk itu langkah pertama sudah ditentukan.
“Aku akan menghadiri Perjamuan Bulan.”
****
(Arc I) Prelude — Tokoh Utama (Protagonis I) — End.
__ADS_1