Im Not Main Character

Im Not Main Character
Akhir Pertarungan


__ADS_3

Alda bertarung sengit dengan Rentaro. Sekalipun dengan tangan kosong, dia masih bisa mengimbanginya.


Rentaro di sisi lain merasa terdesak. Jika bukan karena pedang yang menancap di lehernya maka membunuh Alda adalah hal mudah untuknya.


Pedang Alda terbuat dari taring naga dan material spesial lainnya. Bahkan tanpa sihir, pedang tersebut memiliki efek spesial yang cukup merusak.


Selain Ying dan Yang, ada sebuah afinitas tertentu yang kuat dan berbahaya. Itu adalah elemen kekacauan.


Elemen yang begitu merusak bahkan jika hanya sedikit. Berkat elemen itu kekuatan Rentaro tak bisa keluar secara maksimal. Baik itu sihir maupun fisiknya menjadi sulit dikendalikan dengan benar.


Tubuhnya terus digerogoti oleh elemen kekacauan.


“Mati!”


Alda mengaum dan memberikan pukulan kuat, tetapi Rentaro menahan dengan punggung goloknya.


“Ini belum selesai!”


Segera tendangan Alda tertuju diantara ************ Rentaro. Itu tendangan yang sangat kencang di tempat paling mematikan untuk pria.


Bahkan sekalipun itu Rentaro, dia tetap merasakan sakit luar biasa di bagian itu. Tendangan Alda jelas sangat kuat sampai Rentaro berlutut.


“Bwajingan ... kau— mencoreng bela diri!”


Alda yang penuh kemarahan segera menginjak kepala Rentaro, tidak hanya sekali namun berkali-kali seperti halnya dia menginjak-injak kecoa.


“Aku tak peduli dengan apapun itu! Bertarung hanya untuk menang meskipun caranya kotor!”


Mengapa memikirkan hal-hal semacam itu? Tujuan akhir dari pertarungan maupun peperangan adalah kemenangan. Alda diajarkan untuk tidak peduli dengan hal semacam itu. Lakukan segalanya untuk menang.


Namun orang yang mengajarkan itu meninggalkannya tanpa jejak, dan membuatnya semakin marah.


Kemarahan adalah emosi yang sama mengerikannya dengan kebencian. Rasionalitas menghilang sehingga Alda tak memperdulikan kejanggalan yang dia alami saat ini.


Alda terus menginjak kepala Rentaro hingga terpendam ke tanah.


“Apa hanya segini? Bukankah kamu ingin membunuhku?!”


Injakkan terakhir lebih kencang. Alda mencengkram rambut panjang Rentaro dan mengangkatnya sebelum meninju dengan kuat.


Dengan tatapan kejamnya Alda menyampaikan, “Sampah.”


Dia menebaskan pedangnya dan memenggal kepala Rentaro.


Alda berjalan pergi tanpa menoleh kembali ke mayatnya.

__ADS_1


Emosinya masih dalam keadaan memuncak dan dia berpikir untuk melampiaskannya sekali lagi.


“Semuanya benar-benar memuakkan!”


Dia kesal dengan segala hal, bahkan mungkin daun yang jatuh kearahnya akan membuatnya sangat marah.


“Apa tak ada bajingan lain—”


Alda merasakan bahaya dari belakangnya, menoleh dan dia menemukan tubuh Rentaro melesat ke arahnya dengan golok diacungkan.


Dia berhasil bereaksi, tetapi goloknya berhasil mengoyak pinggangnya cukup dalam. Beruntung organ vitalnya baik-baik saja, tetapi lukanya cukup besar dan mengerikan.


“Ah, keparat! Semuanya terasa sakit! Aku akan memastikan kamu mati dengan amat sangat menderita!”


Tubuh Rentaro yang tanpa kepala bergegas menjauh dari Alda.


Bahkan Alda tak percaya pemandangan di depannya. Bagaimana bisa itu terjadi? Kehilangan kepala harusnya adalah akhir dari manusia.


“B-bagaimana bisa?”


Tubuh Rentaro menuju kepalanya, meraihnya dan membawanya di pelukannya. Wajah Rentaro yang hancur berekspresi marah, jejak kesedihan tak lagi bisa terlihat.


“Apa kamu tidak pernah diajari kalau memotong kepala itu tidak sopan?! Bahkan ini lebih menyakitkan dari tendanganmu sebelumnya!”


“Tampaknya ... kamu juga Undead seperti ... bajingan Zegion.”


Alda berpikir demikian namun ada yang terasa salah di sini. Rentaro tidak memiliki tubuh yang membusuk, dia jelas-jelas manusia.


Jika dibandingkan dengan Zegion akan terlihat jelas perbedaannya. Zegion tidak memiliki daging, darah dan bentuk tubuh yang jelas. Meski ada beberapa tubuhnya yang masih terselimuti daging namun itu adalah bagian yang sudah membusuk.


Rentaro tidak memiliki ciri itu sama sekali. Bahkan Alda yakin aura yang dia lihat dari Rentaro adalah milik manusia.


“Bukan hanya tidak sopan, bahkan kamu menyamakanku dengan tengkorak! Aku akan membunuhmu, kamu harus mati di sini!”


Rentaro sangat marah, tetapi Alda juga sama marahnya hingga mengatupkan giginya kuat.


“Bukan kamu yang memutuskannya!”


Alda mengibaskan pedangnya dan mengambil langkah kuat, tetapi sebelum dia bisa melesat, sesuatu muncul tepat di depannya dengan cepat entah dari mana datangnya.


Pria berambut hitam dengan jubah putih tiba-tiba muncul di depannya dan berlari ke arahnya.


“Jangan menghalangiku, Arc!”


Alda membentak marah, tetapi Arcturus sama sekali tidak mempedulikannya dan terus menuju ke arahnya. Dekat, dan semakin dekat.

__ADS_1


“Apa yang ingin kamu lakukan—”


Alda terkejut bukan main dan tak bisa berkata-kata ketika Arcturus mendorong bibirnya ke mulutnya.


Entah apa yang terjadi namun Arcturus menciumnya tanpa peringatan apapun. Ini pertama kalinya bagi Alda jadi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Tubuhnya terasa panas, jantungnya berdebar tidak karuan namun tampaknya itu cukup bagus untuk dia rasakan.


Bibir Arcturus terasa lembut seperti roti dan manis seperti madu. Bahkan tubuhnya begitu hangat ketika Arcturus mulai memeluknya.


Segera kedua bibirnya terpisah, ada rasa sedikit kesepian.


“Kamu sudah tenang?” tanya Arcturus dengan lembut.


Alda mengangguk dan masih terbelalak. Kepalanya terasa kosong karena kejutan sebelumnya. Segera rasa sakit menyerang seluruh tubuhnya bersama kembalinya rasionalitas.


“U-urgh ... A-ada apa denganku?”


Entah bagaimana Alda tidak tahu mengapa dia menjadi benar-benar marah, dan benar-benar sedih sebelumnya. Lalu, mengapa tubuhnya terasa sangat babak belur? Padahal luka terburuk hanya di pinggangnya.


Namun seluruh tubuhnya seakan-akan habis dipukuli dengan sangat kuat.


“Bajingan ini memiliki kekuatan untuk membagikan perasaan dan luka yang dia terima.”


Alda masih tidak mengerti, tetapi Arcturus sama sekali tidak berniat melanjutkan penjelasannya dan menatap Rentaro.


“Rentaro ... tidak. Saat ini pastinya kamu Reigen.”


Mendengar itu, wajah Rentaro terbelalak dengan sangat terkejut. Dia mulai memasang kembali kepalanya di tempat seharusnya. Perlahan semua lukanya mulai dipulihkan.


“Dari mana kamu tahu?”


Kemarahannya sama sekali tidak terasa. Seakan-akan semua yang terjadi sebelumnya hanyalah kepalsuan belaka.


“Tidak penting dari mana asalnya. Blood Queen akan lebih bahagia jika kamu membawakannya kepala dan darah Cyclops ketimbang bangsawan. Mungkin dia akan menarikmu ke kasurnya.” Arcturus tersenyum jahat.


Mendengar itu Rentaro— Reigen seakan-akan mendapatkan pencerahan dan tersenyum menjijikan. Segera dia pergi tanpa peduli lagi kepada Arcturus, Alda maupun tujuan awalnya memenggal bangsawan.


“Keheheh ... kehehehe.”


Reigen mulai cekikikan saat dia pergi. Arcturus hanya memandang kepergiannya dan menghela napas lega setelah beberapa menit bajingan gila itu pergi.


“A—Arc—” Alda memanggilnya, tetapi lukanya cukup parah dan dia mulai kehilangan kesadaran.


Arcturus menatap luka Alda yang cukup parah. Alda telah kehilangan cukup banyak darah, dia butuh pertolongan segera. Arcturus memutuskan membawa Alda untuk diberikan pengobatan.

__ADS_1


__ADS_2