Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
100


__ADS_3

Pada sore hari di kediaman keluarga Romania, saat itu heriyani baru saja bangun dari tidur siangnya ketika ponselnya yang diletakkan di atas nakas samping tempat tidur langsung berdering.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Heriani pun mengambil ponselnya dan melihat bahwa yang menelponnya adalah ide mertuanya sehingga perempuan itu menghela nafas dan merasa malas untuk mengangkat panggilan telepon itu.


Tetapi karena merasa penasaran apa yang akan dikatakan oleh perempuan itu, maka heriyani pun mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo," jawab heriani dengan nada suara yang datar.


"Kenapa Dito tidak bisa dihubungi?" Tanya Clarissa dengan suara yang tidak sabar.


"Aku tidak tahu, tadi pagi dia berangkat ke desa, dan aku tidak ikut bersamanya," jawab heriani yang kini merasa heran juga bahwa sepanjang hari itu suaminya belum menelponnya sehingga membuatnya khawatir bahwa ada sesuatu yang terjadi pada pria itu.


"Sial!! Lalu kenapa kau tidak ikut? Apakah karena kau sudah tinggal di kediaman utama keluarga Romania sehingga kau tidak mau lagi menemani suamimu yang pergi ke desa?!!" Bentak Clarissa dari seberang telepon.


"Ibu jangan marah-marah terus, nanti Ibu tidak lepas semua Aku tutup teleponnya sekarang," ucap heriyani menekan tombol reject pada layar ponselnya sebelum perempuan itu mencari kontak suaminya dan meneleponnya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Silakan tinggalkan pesan suara karena nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.


Heriani menggertakkan giginya, ia benar-benar khawatir pada suaminya hingga perempuan itu pun berjalan ke arah komputer dalam kamar lalu menyalahkan komputernya.


Beberapa saat kemudian, perempuan itu melakukan peretasan pada ponsel hp suaminya sendiri, namun dia tidak bisa melakukannya.


"Ahh,, hp-nya sedang lowbat, semoga saja hp-nya hanya lowbat biasa," ucap Heryani yang merasa cemas pada suaminya.


Sementara Clarissa yang ada di seberang telepon, dia yang mendengarkan nada panggilan telepon yang diputuskan secara sepihak oleh herianikama ia menggertakan giginya dan menarik ponselnya lalu menghempaskannya ke tempat tidur.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Dito tidak bisa dihubungi??" Kesal Clarissa langsung membuat kedua putrinya yang ada di sana menatap Clarissa.


"Bagaimana kalau langsung menghubungi ayah saja? Suruh Ayah untuk menemui asisten kakek dan menanyakan padanya di mana kita akan tinggal," ucap wasti yang selama beberapa waktu terakhir mereka sudah lelah menunggu informasi tentang tempat tinggal baru mereka.


Mereka sudah lelah terus menginap di rumah sakit, dan terlebih lagi, mereka tidak punya banyak persediaan pakaian sehingga membuat mereka sangat kesulitan.


Mereka tidak memiliki cukup uang untuk membeli pakaian baru setelah pakaian mereka terbakar bersama dengan rumah mereka.


"Benar Bu, biar ayah saja yang pergi berbicara, lagi pula mereka bisa bertemu di kantor," kata Keisya menimpali ucapan wasti.


"Hah,, baiklah," jawab Clarissa sembari mengambil kembali ponselnya lalu perempuan itu pun menekan-nekan layar ponselnya untuk menghubungi suaminya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Ada apa?" Tanya seorang pria dari seberang telepon.


"Kedua putrimu di sini sudah merengek sepanjang hari padaku, Mereka ingin segera pindah ke rumah yang baru!" Kata Clarissa dengan suara yang begitu ketus, dia juga sudah ingin keluar dari rumah sakit itu dan tinggal di rumah yang layak untuk mereka.


Dia kesal karena istrinya menelponnya hanya untuk sesuatu yang tidak berguna seperti itu, sementara beberapa detik saja bisa ia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi sekarang malah terbuang karena panggilan telepon dari istrinya.


"Jangan menggangguku, aku sedang sibuk, lagi pula kalian masih bisa tinggal di rumah sakit!!" Kesal Agus mematikan panggilan teleponnya lalu pria itu pun meletakkan ponselnya dan kembali menatap berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Pria itu menenggelamkan pikirannya pada pekerjaannya sampai ketika pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.


Tok tok tok....


"Masuk," ucap Agus tanpa menoleh ke arah pintu kamar, tetapi pria itu masih sibuk dengan pekerjaannya.


Clek!


Pintu pun terbuka, Agus sangat terkejut saat melihat bahwa yang masuk ke ruangannya ternyata adalah Dean, asisten dari asisten tuan besar Romania.


"Ada apa kau datang kemari?" Tanya Agus yang mana biasanya pria itu tak pernah menghampirinya, bahkan jika dia memberitahukan informasi padanya, maka Dean hanya melakukannya lewat panggilan telepon.

__ADS_1


Dean berjalan menghampiri Agus, lalu pria itu duduk di kursi yang ada di depan Agus sembari memperhatikan berkas yang terletak di atas meja Agus, sangat menumpuk sehingga dia tahu bahwa pria itu sedang sangat sibuk.


"Tuan Besar menyuruhku menemui Tuan dan menyerahkan ini," kata pria itu sembari menyerahkan sebuah map berwarna coklat hingga membuat Agus mengerutkan keningnya.


"Apa ini?" Ucap Agus mengambil map warna coklat itu sembari menatap Dean dengan tatapan bingungnya.


Bagaimanapun, Agus memiliki sedikit trauma terhadap map berwarna coklat yang berasal dari Tuan besar Romania, sebab terakhir kali ketika jabatannya diturunkan, ayahnya memberikan map berwarna coklat itu yang berisi perintah penurunan jabatan untuknya.


"Saya juga tidak tahu apa isinya, tetapi tuan besar Romania menyuruh saya untuk menyampaikannya secara langsung pada tuan. Sekarang saya harus pergi karena masih ada urusan lain," kata Dean kemudian menganggukkan kepalanya pada pria di depannya sebelum meninggalkan ruangan Agus.


Agus yang ditinggalkan pun mengerutkan keningnya, lalu tanpa sabar pria itu langsung membuka map berwarna coklat yang ada di tangannya.


Dia sangat terkejut ketika map berwarna coklat itu ternyata berisi sebuah sertifikat rumah.


"Ini,,," pria itu menarik full sertifikat itu dari dalam map coklat itu dan melihat sebuah kunci yang ikut tertarik dari sana.


Lalu ada juga sebuah surat yang dilipat di sana yang membuat Agus mengambil surat tersebut dan membaca isinya, *rumah ini ialah hadiah untuk Dito dan heriyani karena mereka sudah memajukan peternakan dan menyelesaikan masalah yang ada di sana. Berikan pada mereka.*


Setelah membaca tulisan itu, maka Agus pun kembali mengambil sertifikat yang ada di tangannya lalu dia terkejut mendapati bahwa Ternyata rumah gang diberikan rumah yang berada di perumahan AAA, sebuah rumah kelas menengah yang sangat nyaman untuk dihuni.


"Bagaimana bisa mereka berdua diberikan rumah?" Ucap Agus mengerutkan keningnya, lalu pria itu berpikir selama beberapa saat sampai akhirnya dia menyimpan berkas itu ke dalam laci meja kerjanya.


Setelah menyimpan berkas itu, Agus masih terdiam di tempatnya memikirkan masalah rumah yang diberikan pada Dito dan Heryani.


Jelas-jelas, keluarga merekalah yang membutuhkan rumah karena baru saja mengalami kebakaran dan sekarang tidak punya tempat tinggal, tetapi orang lain lah yang diberikan rumah.


'Aku harus memutuskannya dengan hati-hati, rumah ini diberikan pada Dito dan Heryani atau kugunakan untuk keluargaku saja?' ucap Agus dalam hati sembari mengerutkan keningnya, lalu pria itu kembali mengambil sertifikat yang ada di dalam laci dan melihat bahwa identitas pemilik Rumah itu belum ditetapkan di sana.


Hanya ada pemindahan nama, tetapi untuk mengurus nama yang tertera di sana masih harus dilakukan dengan mendatangi kantor kepemerintahan.


Tetapi ketika Agus memikirkannya lagi, pria itu menggelengkan kepalanya, "aku tidak boleh berbuat ceroboh, jangan sampai aku melakukan kesalahan yang membuat keluargaku semakin dikucilkan oleh ayah," ucap Agus segera menghilangkan pikiran buruknya untuk mengambil alih rumah itu lalu dia pun menyimpan berkas itu ke dalam laci.



Maaf ya, saat ini otor benar2 sibuk. nanti kalo gak terllau sibuk, babnya pasti di banyakin lagi.

__ADS_1


__ADS_2