
Setelah cukup lama menunggu dan merasa cukup bosan dengan acara ulang tahun tuan besar Romania, akhirnya heriani melihat anak pertama keluarga Romania telah berdiri dan berjalan ke arah tuan besar Romania bersama-sama dengan istrinya.
Seorang pria mengikutinya sembari membawa sebuah hadiah yang hendak diberikan pada tuan besar Romania.
Perhatian semua orang tertuju pada hadiah itu, Sebab mereka tentunya penasaran Apa isi kotak tersebut yang akan diberikan pada tuan besar Romania.
Sementara Dito yang duduk di samping heriyani, dia menoleh ke arah istrinya sambil berkata, "Sayang, Bagaimana dengan hadiah kita?"
Heriyani tersenyum sembari mempererat genggamannya pada tangan suaminya, "jangan khawatir, seseorang akan membawanya kemari sebentar lagi, kita bisa memberikannya pada kakek nanti," ucap heriani langsung membuat Dito mengangguk senang.
Niko yang kebetulan mendengarkan percakapan kedua orang itu langsung tersenyum mencibir sambil berkata, "tidak perlu membawa hadiah kalian ke mari karena kakek justru akan malu saat kalian memberikan hadiah pada nya!"
Andika yang mendengarkan ucapan adiknya juga ikut mengganggukan kepalanya, "benar, hanya sebuah barang murahan dari desa, kalian pikir kakek akan senang menerimanya? Justru malah mempermalukan keluarga Romania saat ada anggota keluarga Romania yang memberikan hadiah murahan pada pemimpin keluarga Romania!!" Cibir Andika yang saat itu berusaha melepaskan kecemasannya tentang orang yang telah mengambil lukisan milik nyonya asmiati.
__ADS_1
Dia berharap bahwa tidak ada satupun orang diantara keluarganya yang mendapatkan lukisan itu, setidaknya lukisan itu mungkin telah diberikan pada orang lain atau nyonya asmiati sekedar membohonginya.
"Kami memberikan sebuah hadiah yang bernilai untuk kakek, meskipun tidak bernilai jika diukur dengan uang, tetapi kami memberikannya dengan tulus. Tidak segala sesuatunya bisa dinilai dengan uang tetapi ada juga yang mengukur nilai dari ketulusan hati dan niat yang baik," ucap Dito sangat mengejutkan heriyani karena dia tidak menyangka suaminya berani berbicara seperti itu di depan semua keluarga. Kemajuan yang sangat baik.
Namun ucapan suaminya malah mendapat respon negatif dari semua orang hingga membuat perempuan yang duduk di samping heriani mencibir ke arah Dito.
"Kalian keluarga yang miskin, keluarga buangan yang seharusnya tidak berada di sini, jadi sebaiknya Kalian tidak perlu berbicara di sini karena ucapan kalian sama seperti tong kosong yang tidak bernilai dan hanya membuat orang terganggu!!!" Tegas perempuan itu.
Dito masih ingin berbicara tetapi kemudian heriyani menenangkannya agar suaminya tetap diam.
Dito kemudian berbisik pada istrinya, "Apakah kau tahu apa benda yang ada di sana?" Tanya Dito yang tidak mengetahui benda apa yang diberikan oleh Paman pertamanya pada kakeknya.
"Ah,, itu bukan sekedar batu, itu adalah batu alam yang mahal. Kalau tidak salah menduga harganya sekitar 1 miliar lebih, selain itu, batu tersebut mungkin telah diberkati oleh pendeta dari kuil sehingga memiliki nilai yang jauh lebih tinggi lagi," ucap di heriani langsung membuat Dito menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudah kuduga kalian tidak akan mengetahuinya, batu itu tidak bernilai 1 miliar lebih, Tetapi lebih tepatnya 2,7 miliar!!!" Kata Andika dengan nada suara yang mencibir.
Ayah Andika yang duduk di kursinya pun menata putranya sambil berkata, "Kenapa kau membuang-buang waktu menjelaskan pada mereka? Mereka dari keluarga ketiga, tidak tahu apapun!!! Bahkan jika dijelaskan 1000 kali, mereka hanya akan memahaminya sesaat Lalu setelah itu tidak mengingat lagi apa yang baru saja mereka dengarkan. Otak mereka bergeser ke lutut!"
Niko pun menganggukkan kepalanya, "benar sekali, daripada mengurusi mereka, aku ingin tanya pada kakak, kau memberi hadiah apa untuk kakek?" Tanya Niko pada kakaknya.
Kata hadiah langsung membuat Andika merasa kesal karena sebenarnya hari ini dia akan mendapatkan perhatian Tuan besar, tetapi perkara lukisan itu membuatnya hanya bisa mengepal kuat tangannya.
"Hanya sebuah hadiah kecil," jawab Andika.
"Benarkah?" Niko sungguh tidak percaya dengan ucapan Andhika, Sebab Dia tahu pria itu biasanya merahasiakan segala sesuatunya termasuk merahasiakannya pada ayah dan ibunya.
"Ya, sekarang giliran keluarga kita untuk membawa hadiah, Ayo pergi," ucap Andika langsung membuat semua keluarga kedua pun berdiri lalu mereka pergi bersama-sama untuk memberikan hadiah pada Tuan besar Romania.
__ADS_1
Beberapa pelayan mengikuti mereka, sebab keempat orang itu masing-masing menyiapkan hadiah untuk tuan besar Romania.