
Setelah selesai menyusun barang-barangnya, Dito pun menghampiri heriyani yang masih sementara menikmati cemilan yang ia bawakan untuk perempuan itu.
"Aku mau membicarakan sesuatu denganmu," Kata Dito langsung membuat Heriani menatap suaminya lalu perempuan itu pun menghabiskan cemilan di tangannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Heryani ketika dia melihat wajah suaminya tampak tidak tenang untuk berbicara.
"Ini,, mungkin kau akan sangat marah dengan kabar yang kusampaikan, Tapi ini semua salahku jadi--"
"Memangnya ada apa? Coba ceritakan saja, nanti kalau ada masalah kita pikirkan jalan keluarnya bersama-sama," ucap heriani langsung membuat Dito menganggukkan kepalanya.
Dito pun mengulurkan tangannya memegang tangan istrinya dan mulai mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.
Beberapa saat kemudian Dito pun mulai membuka mulutnya, "ini mengenai rumah tempat tinggal ayah dan ibu. Rumah yang kau bicarakan sudah menjadi milik mereka." Ucap Dito sembari menelan air liurnya dan dia kesusahan untuk mengakui semuanya pada istrinya, Sebab Dia cemas perempuan itu akan marah terhadapnya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa dengan rumah itu?" Tanya heriani yang sudah berusaha menyelidiki tentang rumah itu, namun dia tidak berhasil mendapatkan jawaban mengenai alasan tuan besar Romania memberikan rumah itu pada keluarga ketiga.
"Itu,, Sebenarnya rumah itu diberikan untuk kita, tetapi ibu mencuri surat-suratnya dan dia pergi mengubah namanya. Ini semua salahku!" Dito berpindah duduk dari sofa ke lantai dan menatap istrinya yang masih duduk di sofa sembari lanjut berbicara, katanya, "aku minta maaf, ini salahku sehingga rumah yang harusnya menjadi milik kita kini diambil alih oleh ibu, padahal kita belum membicarakan masalah ini, Tapi--"
"Apakah kau yang memberi izin pada ibu untuk mengubah kepemilikan rumahnya?" Sheila heriani dengan emosi yang tertahan.
Dito yang tidak bisa berbohong pada istrinya pun berkata, "Tidak, aku juga terlambat mengetahuinya tapi--"
"Kau,, kau tidak apa-apa?" Tanya Dito.
"Ya, berdirilah cepat, kau membuatku terlihat seperti istri yang jahat menyuruhmu berlutut di hadapanku," kata heriani menarik pria itu hingga Dito pun kembali duduk di sofa dan Dito langsung memeluk heriani dengan erat.
"Maaf sayang, maaf,, aku benar-benar merasa kalau aku sudah gagal menjadi seorang suami yang seharusnya berkewajiban untuk bersikap terbuka padamu. Aku sudah mengetahui masalah ini beberapa hari yang lalu, tapi aku tidak berani mengatakannya ditelepon karena takut jika aku mengatakannya ditelepon kau mungkin akan marah dan melakukan sesuatu yang di luar kemampuanku untuk memperbaiki hubungan kita," ucap Dito yang merasa begitu lega sekaligus juga menyesal atas perbuatan ibunya yang sangat keterlaluan.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa." Ucap heriani melepaskan pelukan mereka lalu dia pun menatap Dito dengan tatapan tegasnya, "tapi aku hanya merasa khawatir pada mereka, Apakah mereka baik-baik saja? Tidak ada hal yang diperintahkan oleh kakek bukan?" Tanya heriani yang berpikir bahwa Tuan besar pasti sudah mengetahui hal tersebut dan dia pasti akan marah jika rumah yang seharusnya diberikan pada mereka malah diambil paksa oleh Clarissa.
Dito terdiam, dia tidak menduga bahwa istrinya langsung menebak ada sesuatu yang terjadi. Istrinya memang sangat pintar!
Meski begitu, Dito tetap memganggukkan kepalanya, "Kakek sangat marah atas apa yang dilakukan oleh ibu, dia malah menurunkan jabatan ayah dan memindahkan Ayah ke cabang perusahaan di kota m." Jawab Dito.
"Sudah ku duga, Apakah Ayah sudah pergi ke sana?" Tanya Heryani.
Dito menggelengkan kepalanya, "sepertinya besok baru Ayah berangkat, tapi aku belum tahu Apakah ibu dan kedua adik perempuan akan ikut atau tidak, aku belum berbicara jelas dengan ayah," ucap Dito yang merasa sedih untuk ayahnya bahwa segala sesuatu yang buruk yang menimpa keluarga mereka dan terlebih membebani ayahnya ialah disebabkan oleh ibunya dan kedua adik perempuannya.
"Kalau begitu, besok pagi kita pergi menemuinya sebelum malamnya kita pergi ke acara ulang tahun Kakek," ucap heriyani langsung diangguki oleh Dito dengan perasaan yang begitu lega.
__ADS_1