Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
102


__ADS_3

Saat itu, Kesya yang mengambil tas ayahnya langsung masuk ke dalam kamar meletakkan tas ayahnya di tempat yang biasa ditempati Agus meletakkan tas tersebut sebelum keluar untuk berbelanja.


Wasti yang ada di sana pun sibuk bermain HP, sementara Clarissa duduk di ranjang sembari menatap tas yang baru saja dibawa oleh putrinya.


"Kenapa ayahmu tidak langsung masuk dan malam memberikan tasnya pada kesya?" Ucap Clarissa sembari menatap putrinya.


Wasti yang bermain ponsel pun tidak menoleh ke arah Ibunya dan perempuan itu hanya berkata, "Mana ku tahu, memangnya aku yang pergi keluar mendapatkan tasnya?"


Clarissa merasa kesal dengan jawaban putrinya,, "hah,, kau ini, selalu saja berbicara seperti itu, sekarang carikan gunting kuku untuk ibu!" Perintah Clarissa langsung membuat wasti berdecak kesal lalu dia meletakkan ponselnya dan perempuan itu pun mencari gunting kuku.


Wasti membuka laci-laci yang ada di kamar tersebut, juga kotak-kotak kecil yang ada di sana sebelum dia mengerutkan keningnya, "Kenapa tidak ada di tempat-tempat ini? Memangnya terakhir kali Ibu menaruhnya di mana?" Tanya Wasti sembari menatap kesal ke arah ibunya.


Clarissa mengerutkan keningnya, "Mana ada ibu mengambilnya! Bukankah kemarin ayahmu yang menggunakannya? Coba periksa tasnya!" Perintah Clarissa pada putrinya.


"Oh," ucap Wasti kini berjalan ke arah tas Agus. Dia membuka tas itu dan mencari gunting kukunya, tapi dia kesulitan menemukan nya hingga ia membongkar semua barang yang ada di dalam.

__ADS_1


Ketika ia menyentuh sesuatu yang menonjol pada map coklatnya, maka Wasti mengerutkan keningnya lalu membuka map coklat itu.


Dia pun mengeryit saat melihat sebuah kunci, disana ada gantungan kunci yang bertuliskan, *rumah 142*


Maka Wasti langsung menatap ibunya, "Bu! Coba lihat ini!!" Seru Wasti menyerahkan kunci pada Clarissa.


Clarissa pun menerima kunci itu dan dia memgeryit saat membaca tulisannya, "kenapa di tas ayahmu ada kunci rumah?" Tanya Clarissa.


Wasti mengangkat kedua bahunya, "entahlah," kata Wasti sembari menarik dokumen dari dalam map coklat.


Clarissa pun membaca tulisan pada kertas itu, ia menggertakan giginya, "kenapa kakekmu memberikan rumah pada mereka?!! Padahal di sini kitalah yang membutuhkan sebuah tempat tinggal." Ucap Clarissa benar-benar tak terima.


"Benar!" Timpal Wasti sembari membuka dokumen di tangannya, ia membaca beberapa saat, "di sini belum tertulis nama siap pun, mungkinkan Kakak belum tahu menahu tentang rumah ini?" Ucap Wasti berbalik menatap ibunya.


"Hm, sepertinya begitu, coba berikan suratnya pada ibu," ucap Clarissa langsung membuat Wasti menyerahkan surat di tangannya pada Clarissa.

__ADS_1


Clarissa membaca satu persatu kalimat yang tertera di sana, setelah itu, dia berkata, "benar, belum ada nama yang tertera di sini, mungkin kita bisa mengganti namanya."


"Benarkah Bu?!" Hanya wasti dengan mata berbinar-binar menatap ibunya.


"Ya, nanti kita berbicara dengan ayahmu!" Tegas Clarissa langsung membuat Wasti menganggukkan kepalanya dengan senang.


"Bagus sekali, tapi Bu Di mana rumah ini? Apakah rumahnya sebesar kediaman utama keluarga Romania?" Tanya wasti dengan sebuah senyum mengembang di wajahnya.


"Tidak sebesar kediaman keluarga Romania tapi rumah itu hampir sama besarnya dengan kediaman utama," jawab Clarissa langsung membuat wasti merasa sangat senang.


Daripada menumpang di kediaman utama keluarga Romania, memiliki sebuah rumah sendiri sepertinya jauh lebih baik karena tidak ada yang mengatur-atur.


Maka Wasti dan Clarissa berada dalam suasana hati yang baik sembari menunggu Agus memasuki rumah untuk berbicara pada pria itu.


__ADS_1


sebenarnya sekarang otor gak sibuk lagi, tapi sekarang malah badannya yang sakit, jadi gak bisa fokus ngetik. harus istirahat dulu. tapi nanti kalo otor dah sembuh, pasti diusahakan crazy up lagi. terima kasih udah setia menunggu novel ini, love u all.


__ADS_2