
Setelah beberapa saat terus menunggu, akhirnya Agus memasuki kamar rawat inap Clarissa.
"Ayah!!" Seru Wasti langsung menghampiri ayahnya lalu memeluk lengan pria itu dengan perasaan bahagia yang meluap-luap.
"Ada apa kau sesenang ini?" Tanya Agus sembari mengulurkan tangannya mengusap pelan kepala putrinya.
"Hehe,,,, tentu saja ku senang, kita sudah memiliki rumah baru!!" Ucap CWasti langsung membuat Agus mengerutkan keningnya karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putrinya.
Rumah?
"Apa maksudmu kita punya rumah?" Tanya Agus sembari duduk di sofa.
"Tentu saja ini!!" Jawab Clarissa sembari memperlihatkan surat di tangannya.
Agus yang melihat itu langsung mendekati istrinya, "Kenapa kalian membongkar tasku?!" Tanya Agus dengan nada suara marah.
"Apa maksudmu? Aku tidak boleh menyentuh tas suamiku sendiri?!!" Bentak Clarissa melihat Agus yang sudah menyimpan berkas di map coklat ke dalam tas kerjanya.
Wasti pun menatap Ayahnya, "benar, lagi pula kami tidak mengambil apa pun, kami hanya mencari gunting kuku dan melihat berkas itu!" Kesal Wasti yang merasa tidak mengerti kenapa ayahnya begitu marah.
__ADS_1
"Rumah ini bukan milik kita, ini milik Dito dan Heryani, jadi kalian tidak boleh menyentuhnya!" Tegas Agus pun menyimpan tasnya di sebuah lemari dalam ruangan.
Clarissa memperhatikan suaminya, "tapi kita bisa mengubah nya menjadi rumah kita sendiri, di sana 'kan tidak ada nama yang pasti kalau rumah itu di berikan pada Dito dan Heryani!" Tegas Wasti.
"Diam!" Bentak Agus, "sudah cukup sekali kita membuat kesalahan, kalau sekarang ada hal buruk lagi yang kita lakukan, maka kita tidak akan bisa lagi hidup dengan nama keluarga Romania di belakang nama kita!!!" Tegas Agus.
"Tapi ayah, Dito 'kan juga belum tahu tentang rumah itu, nanti kita katakan saja pada kakek kalau rumah itu atas nama kakak, cuma kita tinggal di sana untuk sementara waktu!" Tegas Wasti.
Agus menatap putrinya, "tidak! Kita tidak akan menyentuh rumah itu!! Mulai sekarang, jangan pernah membahasnya, besok pagi ayah akan memberitahukannya pada Dito!" Tegas Agus.
Clarissa dan Wasti yang mendengarkan ucapan Agus kini menjadi sangat kesal, mereka memperlihatkan wajah tak suka mereka pada Agus.
Tetapi Agus hanya mengabaikannya, pria itu memilih menyiram mi instan untuk merendahkan rasa laparnya.
"Hu hu!! Hisk,,, entah bagaimana nasib keluarga kami sekarang, kami sudah tidak memiliki rumah dan tidak ada yang memberikan kami tempat tinggal, bahkan sudah ada rumah yang bisa kami tempati, tetapi suamiku malah tidak mau memberikannya! Huhu.... Betapa malangnya nasib kami dan betapa malangnya Aku menikah dengan seorang pria yang tidak mendahulukan kepentingan keluarganya hiks hiks,,," Isak Clarisa sembari memukul-mukul dirinya sendiri membuat wasti yang ada di sana pun segera mendekati ibunya.
Wasti memeluk ibunya sambil berkata, "ibu tenanglah, ibu sedang sakit, penyakit ibu akan menjadi parah jika ibu seperti ini. Ibu ingat 'kan kata dokter? Tidak boleh memikirkan banyak hal supaya cepat sembuh."
"Hu,, hu,, bagaimana bisa ibu tidak memikirkan apa pun? Kalian akan tinggal di mana jika kita tak punya rumah? Hiks,, hiks,, tak masalah dengan ibu, tapi kau dan Kesya, ibu tidak bisa membawa kalian ke jalanan hikss hiks,,," Clarissa terus menangis tanpa bisa menahan diri hingga membuat Agus menghela nafas.
__ADS_1
Saat itu Agus akan menghampiri istrinya untuk meyakinkan perempuan itu ketika pintu tiba-tiba saja di ketuk dari luar.
Clek!
Pintu akhirnya terbuka memperlihatkan seorang perawat yang masuk ke ruangan, "ada apa ini?" Tanya Perawat itu.
"Melihat perawat yang datang, maka Clarissa semakin menjadi-jadi, dia memperkeras tangisannya.
Agus menggertakkan giginya menatap sang perawat, "maaf, dia baru saja mendapat kabar buruk, jadi dia masih syok, saya kan menenangkan nya," ucap Agus.
"Kalian ini, seharusnya kalian menahan dulu untuk tidak memberitahukannya kabar buruk, pasien akan semakin lama sembuh jika dia seperti itu," kata perawat itu segera keluar dari ruang kamar.
Agus kembali menatap istrinya, saat itu Clarissa masih menangis di pelukan Wasti.
"Jangan coba-coba membuat masalah!" Tegas pria itu lalu keluar dari kamar istrinya sambil membawa tasnya.
Clarissa langsung menghentikan tangisannya, "pria jahat!" Gerutu Clarissa merasa sangat kesal.
Wasti yang ada di sana pun melepaskan pelukannya pada ibunya, "Ayah benar-benar tidak terpengaruh!" Kesal Wasti
__ADS_1
makasih doanya ya... sekarang sakit nya udh mendingan kok jadi udh bisa lama2 natap layar dan ngetik cerita. semoga kalian juga selalu sehat ya,, AMIN