
Setelah selesai berteleponan dengan anaknya, maka Nyonya asmiati pun keluar dari ruangan tempat ia berteleponan dan hendak kembali ke ruang makan.
Tetapi dia menghentikan langkahnya ketika dia melihat paper bag yang diletakkan di atas meja sehingga dia menghampiri paper bag tersebut dan membuka isinya.
"Apakah ini hadiah yang dibawa oleh heriyani?" Tanya Nyonya asmiati pada wilayah yang ada bersamanya.
"Benar sekali nyonya," jawab pelayan itu langsung membuat nyonya asmiati menahan nafasnya selama beberapa saat sebelum menyimpan kembali hadiah tersebut.
Sebuah tas yang selama ini diincar olehnya Namun karena harganya mencapai 48 juta, maka dia masih tidak rela untuk mengeluarkan uangnya.
Dia lebih senang mengumpulkan uangnya untuk mengoleksi lukisan.
__ADS_1
Tapi sekarang, tas itu telah berada di tangannya, di bawakan oleh seorang perempuan muda yang baru berkenalan dengannya selama satu minggu lebih.
"Pergi ambilkan tiga botol anggur yang tersimpan di ruang bawah tanah, ambil anggur dengan kualitas terbaik," perintah Nyonya asmiati pada pelayan yang bersama-sama dengannya.
"Baik Nyonya," jawab sang pelayan sebelum pergi meninggalkan nyonya asmiati.
Setelah pelayannya pergi, maka Nyonya asmayati kembali ke meja makan, "aku minta maaf sudah meninggalkanmu beberapa saat," kata nyonya asmiati.
"Ahh,, tidak perlu risau, lagi pula saya tidak terburu-buru," jawab heriani.
Kedua orang itu pun makan bersama-sama sampai setelah makan Nyonya asmiati dengan antusias membawa heryani ke lantai 3 rumahnya untuk memperlihatkan koleksi lukisannya yang ia letakkan di lantai tersebut.
__ADS_1
Sembari menaiki tangga, Nyonya asmiati dengan serius berkata, "Aku memiliki lebih dari 50 koleksi lukisan meski beberapa diantaranya tidak berharap nilai terlalu tinggi, Tetapi semua itu adalah lukisan-lukisan yang mengandung sejarah." Cerita Nyonya asmiati dengan perasaan begitu gembira.
"Ada banyak sekali lukisan, sudah cukup untuk membuat sebuah pergelaran pameran," kata heriani.
"Ha ha ha... Dari dulu aku memang berencana melakukannya, tetapi entah kenapa seolah aku tidak mau membawa semua lukisan itu keluar dari rumah itu sebabnya semuanya hanya dipajang di rumah ini saja. Entah bagaimana nanti kalau aku meninggal dunia, Aku tidak yakin anak-anakku dan cucu-cucuku akan mengurus lukisannya dengan baik, karena sekarang saja mereka tidak mau tinggal di rumah ini, mereka lebih suka tinggal di apartemen," kata Nyonya asmiati sembari menghela nafas mengingat semua anak-anaknya dan cucu-cucunya tinggal di apartemen.
Bahkan, mereka sangat jarang datang menemuinya di rumah tersebut kecuali pada hari ulang tahunnya, atau hari-hari besar lainnya yang dirayakan secara nasional.
"Mereka pasti akan merawatnya dengan baik, atau kalau Nyonya merasa tidak tenang, bisa memberikannya pada seseorang yang bisa merawatnya dengan baik, atau menyumbangkannya juga ke museum," ucap Heriyani.
"Ahh,,, itu benar, aku sudah berpikir untuk menulis semuanya itu di surat wasiatku. Entah bagaimana pemikiranmu sangat baik dan lebih bijak daripada anak muda lainnya, bahkan Putraku sendiri seringkali bertengkar denganku karena kami tidak satu pemahaman, tapi kau sangat berbeda, kau memahami apa yang ada di pikiranku enggak aku merasa kau mungkin seumuran denganku," ucap Nyonya Asmiati benar-benar membuat heriyani tersenyum dengan perempuan di hadapannya.
__ADS_1
"Aku merasa tersanjung mendengar ucapan Nyonya asmiati, tapi sebenarnya aku tidak terlalu bijak seperti yang Nyonya asmiati katakan. Kalau tidak begitu, Mana mungkin ibu mertua dan iparku tidak menyukaiku??" Kata heryani.
Nyonya asmiati mengulurkan tangannya menepuk pundak heryani sembari berkata, "Ahh,, aku rasa ada yang salah dengan mertua dan iparmu itu, tapi tidak usah diperdulikan, lagi pula sekarang kau sudah tinggal bersama dengan suamimu itu, jauh lebih baik daripada bersama dengan orang yang tidak menyukaimu."