Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
135


__ADS_3

Niko yang meninggalkan meja makan dengan perasaan kesal langsung pergi ke kamarnya dan mengambil laptopnya.


Dengan perasaan tak karuan, pria itu pun menunggu laptopnya menyala dengan sempurna sebelum dia akhirnya membuka situs untuk melihat nilai saham miliknya.


Namun ketika dia mengetahui nilai sahamnya, Niko langsung membatu di tempatnya melihat nilai sahamnya sudah tidak seberapa lagi. Anjlok!!


"Bagaimana bisa hanya dalam hitungan malam ada kejadian seperti ini? Apa yang terjadi?" Ucap Niko yang benar-benar tak percaya bahwa ternyata apa yang dikatakan Heriani itu memang menjadi kenyataan.


Karena masih belum percaya, maka Dito pun membuka salah satu situs saham yang memperlihatkan nilai saham yang pernah direkomendasikan oleh heriyani.


Niko pun semakin terkejut lagi saat ia melihat bahwa nilai saham itu memang mengalami kenaikan.


"Sial!!!" Umpat Niko merasa geram, pria itu berada dalam suasana hati yang buruk, namun saat itu ponselnya sudah berdering yang merupakan panggilan telepon dari asistennya.


'Aku harus ke kantor,' kata Niko sembari keluar dari kamar untuk pergi ke kantor.


Sepanjang perjalanan Niko yang duduk dalam mobil dan terus melihat layar laptopnya, 'Apa yang harus kulakukan sekarang?' ucap Niko dalam hati yang kebingungan harus melakukan apa, haruskah ia menarik nilai sahamnya yang masih ada di sana ataukah membiarkannya berada di sana dan menunggu terjadinya kenaikan nilai saham?


Sampai tiba di kantor, Niko belum berhasil memutuskan Apa yang harus dilakukan, lalu pria itu pun keluar dari mobil dan memasuki perusahaan.


Saat ia berdiri dalam lift, dua orang laki-laki juga memasuki lift tersebut. Kedua orang itu tampak terburu-buru sehingga mereka tidak memperhatikan Siapa yang ada di dalam dan Mereka berdiri sambil berbincang-bincang.


"Hei,, Aku baru saja mendengar gosip kalau Pak Andika ternyata Sudah dipecat dari jabatannya dan dipindahkan ke desa untuk bekerja di peternakan keluarga Romania," ucap salah seorang pria langsung membuat Niko menyipitkan matanya menatap pria yang baru saja berbicara.

__ADS_1


Sementara pria lain yang ada di lift itu, dia juga sangat terkejut sambil berkata, "apa?! Bagaimana bisa orang berbakat seperti Pak Andika malah dipindahkan ke desa?!"


"Entahlah, aku juga tidak mengerti, tetapi tadi ketika aku pergi ke ruangannya, dia memang sudah tidak ada di sana. Bahkan papan namanya juga sudah dilepas oleh salah seorang pekerja yang ada di sana dan dari dialah aku mengetahui bahwa posisi Pak Andika telah digantikan oleh seseorang yang sampai saat ini belum diketahui identitasnya. Katanya ini putusan langsung dari Tuan besar Romania," kata pria itu semakin mengejutkan dua orang yang ada di sana, terutama Niko yang tak percaya bahwa ternyata kakaknya akan dipindahkan ke desa.


Niko pun langsung teringat akan ucapan heriyani di meja makan, 'sial! Jadi ini maksud ucapan haryani, Karena dia sudah mengetahui kalau Andika akan dipindahkan ke desa tempat suaminya bekerja. Tapi jangan-jangan Andika ditukar posisi dengan Dito?' ucap Niko dalam hati yang semakin tercengang di tempatnya.


Dia merasa bahwa akhir-akhir ini keluarga ketiga mendapat banyak sekali hal baik, sementara keluarga mereka tampaknya malah mengalami kebalikannya.


Maka ketika Niko tiba di rumahnya, pria itu meminta waktu 10 menit pada asistennya untuk menelpon kakaknya.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


"Kau ada di mana?" Tanya Niko yang merasa penasaran Apakah kakaknya telah mengetahui berita itu ataukah masih belum mengetahuinya.


"Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor, tapi ada apa kau tiba-tiba menanyakannya?" Tanya balik Andika.


"Ah, tidak apa-apa," ucap Andika segera mematikan panggilan teleponnya lalu pria itu pun duduk sambil melihat layar komputernya.


"Semuanya sesuai dengan yang dikatakan oleh heriyani, saham-saham ini,,," Niko menggertakkan giginya dan dia masih merasa dilema untuk melakukan sesuatu terhadap saham-saham miliknya.


Saat pria itu sedang dilema, saat ponsel nya tiba-tiba saja berdering.

__ADS_1


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


"Halo?" Jawab Niko pada salah seorang pria yang ikut menanam saham bersama-sama dengannya.


"Apa kau sudah mengecek nilai saham?" Tanya pria dari seberang telepon.


"Ya, sahamnya anjlok. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Niko sembari menggerak-gerakkan pena yang ada di tangannya.


"Aku mendengar informasi bahwa nilainya akan naik dalam 3 hari lagi, jadi aku belum menarik sahamku dan sekarang aku malah melakukan penanaman saham berikutnya," kata Sang pria dari seberang telepon.


"Apakah kau yakin dengan informanmu?" Tanya Niko yang saat ini masih ragu-ragu sekali, sebab Ia melihat apa yang dikatakan oleh heriani benar-benar terjadi sehingga sangat mempengaruhinya.


Bagaimana kalau nanti nilai sahamnya malah semakin merosot?


"Tentu saja! Kau ingat bagaimana tiga bulan yang lalu? Katanya hal itu akan terjadi lagi hari ini, tapi kalau kau ragu kau bisa melakukan apapun yang kau yakini," ucap sang pria diikuti nada panggilan telepon yang diakhiri secara sepihak.


Tut tut tut...


Setelah panggilan telepon itu berakhir, maka Niko pun duduk dalam perasaan dilemanya sebelum memutuskan untuk membeli lebih banyak saham.


'Aku tidak bisa tertipu oleh Heryani hingga melewatkan kesempatan yang ada di depan mataku!!' ucap Niko dalam hati sembari menekan mouse miliknya.

__ADS_1


__ADS_2