
"Kartu identitas yang kalian perlukan juga kutitipkan ke satpam di stasiun kereta api sementara barang-barang kalian akan kukirimkan besok pagi." Ucap Dito dari seberang telepon membuat wasti dan Clarissa semakin marah.
🌼🌼🌼
Clarissa langsung berteriak marah, "anak kurang ajar! Begini caramu memperlakukan Ibu kandungmu?! Bisa-bisanya kau termakan oleh hasutan istrimu hingga menelantarkan ibu dan adikmu seperti ini?!!"
Wasti tak mau kalah, dia juga ikut berteriak pada kakaknya, "Ibu benar! Aku membencimu dan tidak akan pernah lagi memanggilmu dengan panggilan kakak! Mulai sekarang kita berdua adalah orang asing!!"
Setelah selesai berteriak, Wasti dan Clarissa langsung mendengar nada sambungan telepon yang diputuskan secara sepihak hingga membuat kedua perempuan yang ada di sana sangat terkejut dengan kelakuan Dito.
"Ini!! Bagaimana bisa kakak melakukan ini?!!" Teriak wasti hendak melemparkan ponselnya ke tanah ketika dia teringat bahwa ponsel itu ialah ponsel baru yang dibelikan oleh Kesya.
"Kakakmu benar-benar sangat keterlaluan, dia mengirimi kita berapa banyak uang?" Tanya Clarissa membuat Wasti menghela nafas lalu dia pun cepat-cepat memeriksa uang yang masuk ke rekeningnya.
"Hanya 300.000 saja," ucap Wasti yang merasa bahwa uang itu terlalu sedikit untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Apakah kau tahu alamat rumah Dito?" Tanya Clarissa yang merasa Bahwa sebaiknya Mereka pergi ke rumah Dito daripada menggunakan uang itu untuk makan lalu pergi ke stasiun kereta api.
Namun Clarissa harus kecewa saat ia melihat wasti menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, mereka tidak pernah mengatakannya dan tidak pernah memposting apapun di internet," ucap wasti.
"Kalau begitu kita makan saja dulu, nanti baru menelpon kakakmu lagi," ucap Clarissa hingga kedua perempuan itu kembali memasuki restoran dan mereka makan sampai kenyang sebelum meninggalkan restoran tersebut.
Saat mereka tiba di stasiun kereta api untuk mengambil kartu identitas mereka, keduanya sangat terkejut Ketika sang petugas malah berkata, "Anda harus masuk dulu ke stasiun kereta api baru bisa mengambil barang yang dititipkan, silakan scan tiket kalian di sebelah sana."
Ucap sang petugas membuat Clarissa dan wasti saling bertatapan satu sama lain.
Ucapan putrinya benar-benar membuat Clarisa merasa frustasi karena mereka sangat tidak ingin pergi menemui Agus.
Tetapi saat itu, ponsel wasti tiba-tiba saja berdering yang mana panggilan telepon berasal dari ayahnya.
"Ayah menelponku," ucap wasti.
__ADS_1
"Matikan saja!" Perintah Clarissa yang masih ngotot bahwa mereka tidak mau pergi ke kota tempat suaminya berada.
Begitu ponselnya di reject, maka sebuah pesan langsung masuk ke ponsel wasti yang berkata, *kalau tidak datang kemari malam ini, ibumu akan kuceraikan!*
"I,, ibu," wasti memperlihatkan pesan tersebut pada ibunya hingga membuat Clarisa menggertakkan giginya.
'pria sialan itu, kalau dia menceraikanku maka dia itu pasti tidak akan perduli lagi padaku. Lalu siapa yang akan membiayai hidupku?' ucap Clarissa dalam hati yang tidak mau bercerai dengan suaminya.
Maka mau tidak mau, Clarissa akhirnya berkata, "kita harus pergi menemui ayahmu,."
"A,, apa?!" Teriak wasti Tak percaya bahwa ibunya menyerah begitu saja kok mas namun dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti ibunya karena Ibunya sudah merampas ponsel dari tangannya lalu perempuan itu berjalan ke arah tempat untuk memverifikasi tiket mereka yang dibeli secara online.
Begitu masuk ke stasiun kereta api, keduanya menunggu kereta api dengan perasaan tidak tenang.
Terutama wasti yang kini harus menerima nasibnya bahwa dia akan tinggal di kota kecil dan bersekolah di sekolah yang tidak bagus.
__ADS_1