Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
229


__ADS_3

"Kalian sudah sampai, aku sudah mengirim tiket online ke ponsel wasti, jadi gunakan tiket itu untuk menyusul Ayah ke luar kota!" Tegas Dito.


🤫🤫🤫


"Apa?!"


"Apa?!" Wasti dan ibunya berteriak secara bersamaan.


"Ya, ayah bilang kalau kalian harus tinggal bersama dengannya karena di ibukota sudah tidak ada rumah untuk kalian, dan juga tidak ada yang menjaga kalian dengan baik di sini Sebab aku dan istriku sudah bekerja. Jadi kami tidak punya banyak waktu. Keretanya akan berangkat 30 menit lagi Jadi kalian harus bergegas masuk ke stasiun," Kata Dito sambil melirik ke arah stasiun.


"Tidak! Aku tidak mau! Siapa yang mau pergi ke kota kecil? Pokoknya aku mau tetap di sini!" Tegas wasti sambil menoleh ke arah Ibunya dan lanjut lagi berkata, "ibu, Ibu jangan mau, aku tidak mau tinggal di kota kecil, lagi pula saat ini aku masih kuliah, masak aku harus berhenti kuliah?"


Clarissa menganggukkan kepalanya karena dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh putrinya, tetapi Clarissa belum mengatakan apapun ketika Dito lebih dahulu berbicara.

__ADS_1


"Aku akan mengurus surat pindah kampus mu, jadi tidak perlu khawatir kau tidak akan kuliah di sana juga ada perguruan tinggi yang bisa kau tempati," ucap Dito sambil menatap adiknya lewat spion dalam mobil.


Wasti melotot, "tidak!! Siapa yang mau sekolah di tempat kecil dan di sekolah yang sangat buruk?!! Saat lulus kuliah nanti aku tidak akan mendapat pekerjaan Kalau orang-orang tahu ijazah ku berasal dari sekolah di kota kecil!!" Tegas Wasti yang merasa sangat kesal pada kakaknya.


"Wasti benar, lebih baik kami tinggal bersama kalian daripada harus pergi ke kota kecil itu!" Tegas Clarissa memperbaiki posisi duduknya hingga dia duduk dengan nyaman sebagai pertanda bahwa dia tidak akan mau turun dari mobil putranya.


Wasti pun melakukan hal yang sama, dia tidak melepaskan sabuk pengamannya dan malah mengatur posisi sandaran kursinya supaya dia bisa setengah berbaring sambil memejamkan matanya.


Saat itu, Dito langsung melihat tatapan istrinya yang memberinya ketenangan sehingga dia itu menghela nafas untuk meredakan amarahnya.


Heriani yang melihat suaminya mulai tenang, ia lalu berbalik menatap dua perempuan yang ada di belakang mereka.


Aku rasa apa yang dikatakan Ibu memang benar , untuk sementara ini biarkan mereka menginap di rumah kita, lagi pula di rumah kita ada dua kamar yang kosong, mereka bisa menggunakannya," kata haryani membuat wasti dan Clarissa kini kebingungan menatap perempuan itu.

__ADS_1


Tentu saja mereka terkejut dengan ucapan Heryani yang tiba-tiba saja membela mereka?


"Kenapa kau tiba-tiba bersikap baik pada kami?" Tanya Wasti penuh rasa curiga.


Heryani tersenyum, "Aku sedang hamil dan orang bilang kalau perempuan hamil tidak boleh bersikap buruk, apalagi pada ibu mertua dan pada saudara iparnya," ucap heriyani membuat 3 orang yang berada dalam mobil kini merasa heran dengan perempuan itu.


Tapi karena tidak mau membantah istrinya yang sedang hamil, maka Dito akhirnya berpasrah, "Baiklah, kalau begitu kita akan pulang ke rumah, tapi mereka hanya akan menginap beberapa waktu saja Lalu setelah itu harus pergi menyusul Ayah, karena kalau tidak, Ayah mungkin akan memarahi kita," kata Dito.


Meski awalnya wasti dan Clarissa merasa bingung dengan sikap Heryani yang tiba-tiba saja membela mereka, tetapi saat ini keduanya merasa lega mendengar ucapan Dito.


Apalagi saat Dito telah menjalankan mobil meninggalkan stasiun kereta api maka wasti dan Clarissa tak cemas lagi kalau mereka harus pergi menyusul Agus.


Dengan masalah yang sudah dibicarakan secara baik-baik dan mendapatkan penyelesaiannya, maka mobil pun menjadi tenang berjalan di jalanan yang masih ramai.

__ADS_1


__ADS_2