Istri Idaman Para Suami

Istri Idaman Para Suami
281


__ADS_3

BAB 281. Istri idaman para suami


"Hoee...! Hoeeee..!"


"Hoee...! Hoeeee..!"


"Tante datang!!!' teriak Wasti berlari dari meja tempat menghangatkan asi menuju ke box bayi di mana kedua ponakannya sedang menangis bersama-sama karena merasa lapar.


Sementara heriani yang berada di dapur, perempuan itu baru selesai memasak makanan siang untuk mereka sehingga dia langsung pergi menuju kamar dan melihat Wasti sedang memberikan susu untuk Emil dan Eril.


"Biar aku yang menjaga mereka, pergilah makan siang terlebih dahulu. Satu jam lagi kau harus berangkat ke kampus," kata heriyani.


"Baik Kak," jawab Wasti sambil mengulurkan tangannya mencubit pelan pipi cabi kedua keponakannya


"Kalian baik-baik bersama ibu ya, Tante mau makan dulu," ucap Wasti sebelum dia pergi meninggalkan kamar keponakannya.


Maka setelah Wasti pergi, heriani memperhatikan kedua anaknya, dan terlihat mereka meminum susu dengan begitu lahap sehingga ia memilih mengambil pompa asi yang diletakkan di salah satu meja dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Heriyani kemudian duduk di samping box bayi sambil melakukan tugasnya sebagai ibu menyiapkan ASI untuk kedua anaknya.


Tak berapa lama kemudian Wasti datang menghampirinya, "kakak ipar sudah makan?" Tanya wasti yang saat ini sudah siap untuk berangkat kuliah.


"Ah, sebentar lagi baru makan, kau sudah mau berangkat?" Tanya heriani.


"Ya, masih ada 15 menit lagi sebelum berangkat, Bagaimana kalau kakak ipar makan dulu sambil Aku yang menjaga mereka berdua?" Tanya wasti sambil melirik ya dalam box bayi dan melihat kedua keponakannya sedang terlelap.


"Kau tidak perlu khawatir, mereka berdua sedang tidur, jadi kau boleh berangkat ke kampus," kata heriani membuat wasti menganggukan kepalanya sehingga perempuan itu segera meninggalkan apartemen.


Sementara Hariani yang tinggal, dia yang melihat kedua anaknya sedang tidur, ia langsung berjalan ke dapur untuk makan siang.


"Halo sayang," kata heriyani menjawab panggilan telepon tersebut.


"Apa kau sudah makan siang?" Tanya Dito dari seberang telepon yang mana pria itu selalu cemas akan jadwal makan istrinya, karena sejak mereka memiliki anak, istrinya begitu sibuk di rumah, Tetapi istrinya tidak mau memanggil baby sitter ataupun pembantu.


"Ah,, Sekarang aku sedang makan, untuknya anak-anak sedang tidur jadi aku bisa memanfaatkan waktu untuk makan," kata heriyani mengambil sesuap nasi untuk ia makan ketika tiba-tiba saja suara tangisan dari dalam kamar langsung membuat heriani meletakkan makanannya lalu berlari ke dalam kamar.

__ADS_1


Sambil berlari ke kamar anak-anaknya, heriani berkata, "sayang, mereka bangun lagi, nanti ku telepon ulang."


Setelah berbicara pada suaminya, heriani meletakkan ponselnya secara sembarangan lalu dia pun menghampiri box bayi lalu menggendong Emil dari dalam box bayi tersebut.


Setelah itu, heriani menjauhi box bayi supaya Eril yang masih terlelap tidak terganggu dengan suara Emil.


"Aduh sayang,,, Ibu di sini, Jangan menangis lagi," ucap heriyani menenangkan Emil sambil mencium kening Emil.


Cup cup cup....


Setelah ciuman beruntung itu, maka Emil kembali menjadi tenang, tetapi sesuai kebiasaannya, harus menunggu beberapa menit lagi sebelum mengembalikannya ke dalam box bayi atau kalau tidak Emil akan kembali terbangun.


Sementara Dito yang baru saja menekan tombol reject pada layar ponselnya, pria itu menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya lalu mengambil jasnya dan pergi meninggalkan kantor.


"Tuan mau ke mana?" Tanya asisten Dito yang saat itu hendak mengatakan pada Dito bahwa mereka memiliki meeting.


"Aku harus pulang ke rumah, istriku belum makan dan anak-anak sedang rewel, Kalau ada masalah telepon saja aku," ucap Dito langsung berlari menuju lift meninggalkan asistennya yang kini membeku di tempatnya.

__ADS_1


'ini meeting yang sangat penting!!!' ucap sang asisten dalam hati meratapi nasibnya yang sungguh sial.


__ADS_2