Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
jadilah seperti dulu


__ADS_3

Duke Cristin menatap tajam ke arah Ferland. Entah karna sihir mana, ia tidak terima perkataan Ferland begitu saja.


"Jaga ucapan anda Tuan Ferland. Viola tetaplah seorang Duchess di rumah ini." ujar Duke Cristine mengeluarkan aura tiraninya.


Ferland membeku, ia melirik ke arah Duke Cristin. Tidak mungkin perkataannya salah. Bukankah Duke Cristin tidak pernah ikut campur dalam urusan perkataannya pada Viola. Tetapi hari ini hatinya merasa tidak enak. Ia menepis rasa itu, tidak mungkin Duke Cristin menyukai Viola. Lalu bagaimana dengan adiknya. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi. Viola sudah merasakan nikmatnya, tidur di kasur empuk, makan dengan enak. Lalu bagaimana dengan adiknya di luar sana.


"Maaf Duke, apa ada yang salah? Viola dengan enaknya hidup di bawah atap lalu bagaimana dengan adik saya?" Ferland kini menekan dengan kata-kata sang adik.


Deg


Hati Duke Cristin mencolos diam seribu bahasa, ia bingung harus menjawab apa. Tetapi mendengarkan perkataan Ferland ia kembali mengingat Abella. Bagaimana kehidupan kekasihnya di luar sana?


"Diam Ferland, Viola tetap saudara mu."


Ferland bungkam, ia tidak mau bertengkar dengan Ibunya lagi hanya karna masalah Viola. Ia kembali melanjutkan acara memakan rotinya itu.


Ketiga orang itu pun kemudian kalut dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


Sementara di dapur.


Para pelayan di kejutkan dengan kedatangan Duke. Mereka berdiri di depan meja itu, dengan kepala menunduk seraya melirik ke arah Viola yang tidak memperdulikan kedatangannya.


Viola menaruh sendoknya, menyiapkan mental agar darahnya pagi-pagi tidak naik. Itulah alasannya tidak bergabung dengan yang lainnya. Membuat selera makannya menghilang, apa lagi ada Ferland.


"Kenapa kamu makan di sini? ikutlah bergabung di ruang makan. Sikap mu seperti ini tidak mencerminkan sebagai wanita bangsawan." ujar Duke Arland melembut.


"Pura-pura tidak usah peduli. Cepat atau lambat, aku juga akan keluar dari kediaman Duke. Sudah sepatutnya aku belajar seperti mereka." ujar Viola membungkuk hormat dan berlalu pergi. Ia lelah tidak ingin berdebat dengan laki-laki di depannya itu.


"Kamu seorang Duchess jaga sikap mu Viola."


"Tenang saja aku tidak akan membuat keluarga Duke malu. Dan tolong, jadilah seperti Duke yang dulu. Jadilah seperti dulu bersikap dingin dan kejam. Aku lebih suka itu, tidak mengenal satu sama lainnya."


Duke Arland menatap tubuh itu, yang menghilang di balik pintu. Dulu ia tidak pernah melihat ke arahnya. Namun sekarang ia ingin di lihat, hatinya tiba-tiba rindu dengan sebutan ayah yang keluar dari mulutnya. Telinganya panas ingin mendengarkan ucapan itu.


"Kalian antarkan nasi goreng itu ke kamarnya." ujar Duke Arland yang melihat Viola tidak menghabiskan makanannya.

__ADS_1


Sesampainya di kamarnya. Viola menghentikan langkahnya di depan sofa merah itu. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa itu. Memijat pelipisnya yang terasa pening.


"Flo, siapkan kereta kuda aku ingin keluar ke peternakan kuda. Aku ingin membelinya,"


Flora tersenyum, "Apa nyonya akan belajar menunggangi kuda?" tanya Flora dengan antusiasnnya. Hatinya tidak sabar melihat sang majikan berada di atas kuda hitam.


"Hah, iya." ujar Viola dengan nada malas. Percuma saja ia menjelaskannya, jika dirinya bisa menunggangi kuda. Wanita di depannya tidak akan percaya. Viola yang asli tidak tau menunggangi kuda.


15 menit kemudian..


Viola dan Flora telah keluar dari halaman kediaman Duke dengan kereta yang di tumpanginya.


Viola mengambil camilan di keranjang itu. Ia juga menawarkan pada Flora yang berada di depannya. Namun Flora malah menolaknya dengan alasan kenyang. Tanpa mereka sadari dari arah berlawanan terlihat kereta kuda yang lumayan mewah. kereta kuda itu berhenti tepat di kediaman Duke. Seorang wanita memberikan hormat pada majikannya.


"Jaga putri ku dengan baik. Apa pun yang terjadi laporkan pada ku." perintahnya dengan tegas. Ia menyingkap gorden jendela kereta itu, menatap tajam ke arah kediaman Duke.


Jika di lihat dari luar rumah itu seperti bak istana. Namun jika aku masuk ke dalam., bukan keindahan yang aku dapatkan melainkan kepahitan. Tunggulah Putri ku, Ibu akan membawa mu pergi secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2