
"Tunggu," teriak seseorang. Laki-laki itu berjalan menghampiri Duke Cristin dengan aura mematikan. Kedua orang itu pun bertatap muka sambil menatap tajam. Sama halnya dengan sang Kesatria yang berada di sampingnya. Saling beradu mata.
"Aku rasa, Marquess harus menjaga jarak dengan Duchess."
"Dulu aku bodoh, membiarkannya menikah dengan Yang Mulia Duke, tetapi aku salah. Viola tidak bahagia bersama dengan Yang Mulia Duke."
"Jaga ucapan mu, Marquess. Dia seorang Duchess jadi jaga kesopanan mu." Duke Cristin tidak terima Marquess mengucapkan nama itu begitu santai. Duke Cristin kembali mengingat tentang hubungan mereka. Dan sekarang Marquess blak-blakan mengadakan peperangan dengannya.
"Selamanya dia akan menjadi Duchess,"
"Jangan egois, Yang Mulia Duke. Bagaimana jika suatu saat nona Abella kembali? apa Yang Mulia Duke tetap akan memintanya menjadi seorang Duchess? jangan memberikan dia penderitaan."
Duke Cristin mengabaikan perkataan Marquess Ramon. Dia hanya menganggap angin lalu. Urusannya tidak ada sangkut pautnya dengannya. Jadi dia akan menentukan sendiri.
Sial ! dia mengabaikan ku begitu saja.
Kereta itu pun berhenti di kediamannya. Dia masuk ke dalam kamarnya seraya menjatuhkan dirinya ke kasur empuk itu. Bayangan kedua wanita itu kini berada di depannya. Duke Cristin terhenyak, dia tidak bisa memilih di antara mereka. Baginya Viola adalah nyawanya sedangkan janjinya adalah tanggung jawabnya.
Seberapa dalam pun pemikirannya. Tidak akan mendapatkan jawabannya sampai mata indah itu tak kuat lagi membuka dan hanyut ke dalam dunia mimpi.
Sedangkan di kediaman Duke Arland. Duchess Eliana tengah menangis saat melihat luka di lengan putranya. Dia tidak bisa membayangkan jika ada sesuatu pada putra pertamanya itu. Abella telah pergi, kini hanya tinggal putranya seorang.
"Ibu, sudahlah jangan menangis. Aku tidak apa-apa." Ujar Ferland merasa sakit hati melihat Duchess Eliana menangis.
__ADS_1
"Ferland, lain kali kamu harus berhati-hati. Ayah tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada mu." Timpal Duke Arland menghela nafas dalam.
"Hemz.."
Setelah di periksa oleh Dokter, Duchess Eliana dan Duke Arland keluar dari kamarnya membiarkan Ferland untuk beristirahat. Mereka akan menanyakan hal apa saja yang perlu di perhatikan dengan luka Ferland.
Ferland pun membaringkan tubuhnya, dia teringat seorang gadis yang langsung merobek gaunnya dan membalut lukanya itu. Ferland pun melirik ke arah sobekan gaun di atas nakas itu sebelum pelayan membuangnya. Hatinya tak menentu, dia tersenyum membayangkan Viola yang tersenyum padanya. Seketika Ferland menggelengkan kepalanya. Otaknya pasti gila memikirkan sebuah duri di keluarganya, lalu memejamkan matanya.
Ke esokan harinya....
Viola yang masih tertidur pulas di kasurnya dan memperdalam mimpi indahnya. Tiba-tiba di kejutkan oleh tangan seseorang yang menepuk pipinya dengan pelan. Viola membuka matanya, samar-samar dia melihat bayangan wajah Duke Cristin.
"Huh, dia masih saja suka mengganggu ku. Tidak membiarkan ku hidup tenang." Viola membalikkan badannya lalu menarik selimutnya.
"Bangun, kita harus bersiap-siap ke istana." Ujar Duke Cristin. Karena tidak ada suara, Duke Cristin menarik selimutnya sehingga membuat sang empu meringkuk kedinginan.
"Heh, aku masih ngantuk Flo." Teriak Viola kembali meraba selimut dan menariknya, menutupi tubuhnya kembali.
Duke Cristin menatap ke arah Flora, dia meminta penjelasan semuanya.
"Seperti itulah kesehariannya sekarang tuan." Ujar Flora.
Duke Cristin berdiri, dia langsung membuka selimut di depannya dan membantu Viola duduk.
__ADS_1
Tak ingin membuang waktu, Duke Cristin menggendong tubuh Viola sampai ke kamar mandi dan menjatuhkan dirinya ke bathub yang berisi air hangat itu.
"Hey," Viola tersadar, tadinya dia kira terbang ke awan. Tidak taunya malah di lempar ke bathub.
"Cepatlah jangan membuang waktu ku." Ujar Duke Cristin yang tak ingin mendengarkan ocehan Viola.
Setelah Viola mengeluarka amarahnya, berdumel mulai Duke Cristin membuangnya ke bathub dan sampai ke istana. Duke Cristin tidak pernah menanggapinya. Justru dia hanya terkekeh geli. Viola sangatlah berbeda. Justru perbedaan itu lah yang membuatnya enggan melepaskannya sekarang.
Viola mengeluarkan wajah sungutnya. Dia tidak puas memaki Duke Cristin yang hanya mendapatkan balasan senyuman, tertawa lepas. Ingin rasanya dia menyumpat mulutnya dengan sepatu.
"Mari Yang Mulia Duke." Ujar ketua pelayan istana yang sudah menunggu kedatangannya sejak tadi.
Mereka pun menuju ke sebuah taman. Di tengah taman itu terdapat sebuah rumah kaca di kelilingi bunga mawar merah. Di atas meja itu sudah ada hidangan kue Vilvet, biskuit dan teh hitam.
"Duchess dan Yang Mulia Duke." Ujar wanita paruh baya tersenyum.
Viola pun mengeluarkan senyuman termanisnya seraya melirik Duke dengan kesal.
Dia memberikan hormat pada wanita itu mengikuti Duke Cristin. Dia yakin, wanita di depannya adalah seorang Permaisuri jika di lihat mahkota yang menghiasi kepalanya.
Beberapa menit kemudian Duke Cristin ijin pamit saat seorang Kesatria memanggilnya dengan alasan di panggil oleh Baginda Kaisar. Duke Cristin pun ijin pamit. Dia menatap Permaisuri Briana agar tidak mengatakan apa pun tentangnya.
Permaisuri Briana mengangguk. Sesaat kemudian tubuh Duke Cristin menghilang. Dia melihat ke arah Viola dia iringi senyum ramahnya.
__ADS_1
"Duchess, apa yang kamu lihat dan kamu dengar belum tentu kebenaranya. Hidup ini memiliki sebuah misteri yang tak mampu semua orang katakan." Ujar Permaisuri Briana membuat Viola kebingungan.