Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Lilli


__ADS_3

"Nona, tunggu."


Seketika wanita itu menghentikan langkah kakinya. Badannya gemetar, dia tidak sanggup bertatap muka dengan mereka yang sudah sekian lama menghilang. Wanita itu menarik jubah kepalanya. Sampai Armand yang melihatnya merasakan aneh sekaligus Mira yang meraskan ada sesuatu pada wanita di depannya itu.


"Biar saya saja yang mengantarkan Nona?" tawar Armand.


"Ti-tidak perlu." jawabnya dengan gugup, lalu bergegas pergi. Armand berbalik, dia melaporkan pada Duke Cristin. Sementara Mira menaikkan alisnya, melihat sebuah sapu tangan yang jatuh. Mira pun mengambil sapu tangan yang hanya berjarak beberapa langkah itu. Dia hendak memanggil kembali, namun wanita di depannya itu sudah menghilang.


"Sudahlah, nanti aku kembalikan saja jika bertemu lagi." Gumam Mira memasukkan sapu tangan itu di sakunya.


Sedangkan di sisi lain.


Baroness Lilliana melihat pertengkaran putrinya dengan Duke Cristin dari lantai dua. Awalnya dia hanya ingin melihat keramaian Ibu Kota itu. Hanya saja ia merasa janggal dengan wanita di depannya itu. Namun dia hanya merasa wanita di depannya hanya takut saja.


Baroness Liliana melangkah keluar dari butiknya, tak lupa dia menggunakan kipasnya sebagai penutup wajahnya. Dia tidak ingin ceroboh, takut ada orang yang mengenalinya.

__ADS_1


Baroness Liliana pun di ikuti pelayannya melihat-lihat pemandangan orang yang berlalu lalang itu. Ada rasa rindu di hatinya. Dulu, dia sering berbelanja sendiri tanpa di temani oleh pelayan. Para pelayan kediaman Duke pun menganggap remeh keberadaannya. Tidak ada yang mau melayaninya kecuali Flora yang pada saat itu masih muda dan polos. Namun hanya beberapa bulan saja, dia sudah menitipkan Viola kecil padanya.


Mengingat semua perjalanan hidupnya, hatinya begitu sakit. Ingin rasanya dia membalas dendam pada Pamannya. Namun mengingat usahanya kedua orang tuanya yang sekarang di kelolah oleh Pamannya. Dia hanya pasrah dan tidak ingin terlibat lagi. Pada saat itu, dia tidak bisa menyalahkan Pamannya. Inilah pernikahan politik, pernikahan yang hanya sebatas saling menguntungkan.


Baroness Liliana menahan air matanya. Dia tidak ingin larut dalam masa lalu. Semakin dia mengingat, semakin dia merasakan sesak. Dia mengingat kebaikan Eliana. Wanita itu tidak pernah memarahinya atau pun balas dendam. Dia selalu mengatakan kesabaran menghadapi kejamnya Duke Arland dan putranya itu.


"Cih, memuakkan. Sungguh aku membenci laki-laki itu."


brak


"Maaf aku tidak sengaja." Ujar wanita itu. Reflek Baroness Liliana membuka kipasnya. Dia membantu wanita itu mengambil beberapa tomat yang jatuh.


"Lilli." Lirih wanita itu.


Baroness Liliana memundurkan langkah kakinya.

__ADS_1


Dia belum bisa berhadapan langsung dengan wanita di depannya. Dia berbalik dan lari tergesa-gesa.


"Lilli," teriaknya seraya menyusul langkah kaki Baroness Lilliana. Sesekali Baroness Lilliana menoleh ke belakang dan tanpa sadar dia menabrak seseorang.


brak


"Aduh," Lilliana sedikit terhuyung ke belakang. Dia memegang dahinya yang berdenyut. Dia kira bukan menabrak orang, tapi malah dinding. Merasakan sakitnya, betapa kuat tubuhnya itu.


"Bisa lihat tidak, apa kamu tidak bisa melihat dengan jelas? ini manusia bukan patung." Cerocosnya kesal. Dia mendonggakkan wajahnya.


"Astagah !" Dan lagi dia harus di hadapkan dengan orang yang salah dalam hidupnya. Baru beberapa menit yang lalu dia berpapasan dengan istri dan sekarang dia harus berpapasan dengan suaminya. Dan lebih tepatnya juga termasuk suaminya. Nafasnya memburu, cinta itu dulu, tetapi sekarang hanyalah api di dalam hatinya. Dia menatap tajam ke arah laki-laki itu. Mengepalkan tangannya dan langsung membalikkan badannya ke kiri.


"Lilli." Baroness Lilliana memejamkan matanya. Cukup, tidak ada pelarian lagi. Dia harus menyelesaikan masalahnya. Dia membalikkan badannya.


"Maaf Kakak, aku tidak waktu berbicara dengan mu." Ujar Baroness Lilliana, ia ingin melanjutkan langkah kakinya lagi. Namun suara berat itu menghentikannya.

__ADS_1


"Tunggu,"


"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Dan ya, aku dengan putri ku Viola sudah sepakat akan pergi dari hidup kalian. Aku akan membawanya pergi dan Anggap saja pertemuan kali ini tidak ada." Ujar Lilliana dengan nada dingin.


__ADS_2