
Abella melihat ke arah Viola dengan sinis. Lalu matanya beralih melihat Duke Cristin dengan seulas senyuman. Namun Duke Cristin hanya menatapnya jengah dan lebih memfokuskan pada Viola.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu."
"Benar, Duchess. Sebaiknya istirahat dulu." Timpal Duke Arland. Viola dan Duke Cristin saling menatap.
"Baiklah, Ibu. Aku akan istirahat lebih dulu." Ujar Viola. Ia mencium pipi kiri Duchess Eliana.
Terimakasih Tuhan, engkau sudah memberikan peri kecil untuk ku.
"Pelayan, antarkan Duke dan Duchess ke kamarnya." Perintah Duke Arland.
Secepat mungkin Abella menanggapi perkataan Ayahnya. "Ayah biar aku saja yang mengantarkan Duke." Ujar Abella.
"Maaf nona Abella tidak perlu, sudah ada pelayan." Ujar Duke Cristin. Ia merangkul pinggang Viola melewatinya begitu saja. Tatapannya beralih pada Liera. Ada rasa tidak suka di hatinya, ia takut gadis di samping Abella itu akan berbuat macam-macam pada istri yang ia cintai.
__ADS_1
"Sayang." Viola duduk di tepi kasur empuk itu. Ia menatap langit-langit. Dulu ia hanya tidur di belakang kastil. Seperti apa kamar utama ia tidak tau. Jadi seperti ini, kamarnya sangat luas dan rapi. Satu lemari, tempat tidur, tempat untuk merias diri, dua kursi sofa yang berukuran sedang dan satu kamar mandi. Padahal dulu ia sangat ingin, tidur di ruang utama bersama sang ibu.
"Sayang," Viola menatap Duke Cristin yang menaiki tubuhnya. Lalu duduk di atas pahanya. Duke Cristin pun menciumi bibir Viola dengan lembut dan sensual. Ciuman itu turun ke lehernya, tangan itu meraba dan meremas kedua gunung milik Viola.
"Sayang," lirih Viola. Sebisa mungkin ia menahan nafsunya, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Sebentar lagi matahari akan terbenam dan makan malam.
Viola menahan tangan Duke Cristin, akan tetapi Duke Cristin menepisnya. Ia terus meremas dua bongkah kenyal itu. Hingga kancing gaun itu terlepas.
Duke Cristin pun menghujami satu bongkah kenyal itu. Menyesapinya, lidahnya ia mainkan di balik benda kenyal menghitam itu.
Duke Cristin menghentikan aktifitasnya, ia menatap nafsu pada Viola. Wajahnya memanas dan dadanya naik turun.
"Aku ingin." Satu kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Ia melanjutkan aktifitasnya, menghujami Viola dengan ciuman. Tangan kanannya meraba ke kaki putih itu. Hingga rok gaun itu berada di atas perut sang istri. Kini ia bisa melihat sesuatu yang indah dengan sebuah rangkain berwarna hitam.
Duke Cristin membuka celananya, adiknya semakin menegang dan sesak. Ia membuka lebar kedua kaki Viola, satu hentakan itu menerobos masuk ke dalam arenya.
__ADS_1
"Oh, sayang !" Duke Cristin melajukan pedangnya dengan lembut. Ia menarik tubuh Viola kedalam dekapannya, menciuminya bibir mungil itu dengan rakus, lalu turun ke benda kenyal itu. Sedangkan Viola, ia hanya pasrah. Setiap sentuhan dari Duke Cristin membuatnya tak bisa menolak. Ia bagaikan terbang di langit, kehangatannya membuat darahnya semakin memanas. Ia ingin dan ingin, tak ingin menghentikannya.
"Yah, lebih cepat sayang !" rancau Viola. Sesekali ia memejamkan matanya, merasakan sesuatu yang menguasai rahimnya.
"Terus sayang !" Dengan senang hati Duke Cristin melajukannya.
"Akh !" Keluarlah satu desahan itu. Cairan kental menghiasi rahim sang istri. Satu pelepasan, ia biarkan keluar di dalam. Berharap akan ada Duke kecil. Ia tidak sabar menjadi seorang ayah.
Duke Cristin mendekap tubuh mungil Viola. Ia biarkan Viola duduk di pangkuannya tanpa melepaskannya. Membiarkan junior itu tidur di dalam rahim sang istri.
"Aku mencintai mu." Duke Cristin semakin mempererat pelukannya. Setiap usai melakukannya dan setiap bangun tidur ia akan mengatakannya sampai bibir itu tertutup rapat dan mata terpenjam. Ia ingin Viola tau, bahwa dirinya sangat mencintainya.
Viola tersenyum di wajah letih di penuhi keringat itu. Ia mencium kening Duke Cristin. "Aku juga mencintai mu."
Sementara di depan pintu. Terlihat seorang wanita dengan wajah memerah, menahan nafas panasnya begitu pun hatinya.
__ADS_1
"Sialan ! jadi mereka sudah sering melakukannya. Jangan berharap kamu bisa memberikan Duke kecil padanya." Ujar Abella. Padahal niatnya tadi ingin mengganggu kebersamaan mereka. Dan mencari celah untuk merayu Duke Cristin.