Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Berpura-pura


__ADS_3

"Ayah,"


Duke Arland melepaskan pelukannya. Dia menoleh ke sumber suara itu. Melihat seorang gadis yang tergesa-gesa ke arahnya.


"Ibu, kenapa kalian ada di sini?" tanya Abella menatap Duchess Eliana. Matanya beralih ke samping kanan sang ibu, seorang laki-laki yang sedang menatap tajam ke arahnya.


"Ada apa ini?" tanya Abella merasakan hati yang tak enak.


"Ayah datang kesini hanya melihat adik mu." Ujar Duke Arland tersenyum lembut seraya mengelus kepala Viola.


"Maksud Ayah," Abella memundurkan langkah kakinya. "Jangan bilang Ayah menerimanya. Itu semua tidak mungkin." Abella menahan rasa sakit di hatinya. Semua orang menerimanya, bukankah itu lucu, sangat lucu. Jelas-jelas wanita di depannya bukanlah Viola ya asli.


"Jaga perkataan mu Abella." Bentak Ferland.


"Kakak." Abella mengkerutkan dahinya, ia juga tidak percaya pada sang Kakak yang jelas juga membenci Viola "Apa Kakak juga membelanya? aku adik mu kak, bukan dia."

__ADS_1


"Kalian bercanda kan," air matanya mulai menggenang. Ia menatap satu per satu ketiga orang di depannya itu.


"Kami sudah memikirkan matang-matang Abella. Bagaimanapun keadaannya dan kondisinya. Dia tetap adik mu, darah ku mengalir di dalam tubuhnya. Meskipun sekarang jiwanya berbeda. Aku tidak ingin mengulang kesalahan ke dua ku." Tutur Duke Arland dengan hati amat menyesal. Selama beberapa hari dia memang merenungi bersama sang istri dan putra pertamanya. Bahwa dia dan keluarganya, menerima Viola. Dia tidak akan membedakannya. Siapa pun yang berada dalam jiwa putrinya, ia berterimakasih karena sudah datang membangunkan tubuh Viola. Meski dia hanya mampu menatap putrinya dalam jiwa lain. Ia yakin, putrinya akan melihat ketulusannya dan memaafkannya.


"Tidak !" hatinya tidak menerima semua itu. Dengan mudahnya wanita asing ini merebut perhatian keluarganya.


"Abella, jaga sikap mu." Bentak Duchess Eliana.


"Kenapa Ibu malah membelanya, aku putri mu, Bu. Bukan dia."


"Sudahlah, kalian tidak perlu mengakui ku. Entah kalian, tulus atau tidak. Cukup kalian saja yang tau dan aku, Alana tidak mau ambil pusing." Viola memutar bola matanya, ia langsung bergegas pergi meninggalkan drama keluarga itu.


"Tunggu ! apa kamu puas? seharusnya kamu senang atau ini memang salah mu membuat Viola pergi. Dan setelah itu dengan mudahnya kamu menggunakan sihir." Abella terkekeh, ia tertawa mengejek. "Aku tau, kamu menggunakan sihir agar Duke Cristin mau dengan mu."


Viola mengepalkan tangannya, ia membalikkan badannya menatap tajam ke arah Abella. Penghinaan yang ia ucapkan serta tuduhan itu membuatnya ingin mengoyak-ngoyak wajahnya. Viola semakin mengepalkan tangannya. Bukannya dia tidak ingin melawan, tapi ia harus berfikir akal sehat. Dia memang ingin membalasnya, tapi bukan melalui kekerasan tentunya dengan menusuk hatinya.

__ADS_1


"Abella hentikan !" Duke Arland menuju ke arahnya, ia hendak menampar Abella. Namun tangannya tak sampai, ia masih mengingat Abella adalah putrinya.


"Mau menampar ku Ayah, ini tampar." Ucap Abella menunjuk ke arah pipinya.


"Abella," teriak Duchess Eliana, ia langsung melayangkan tangannya ke pipi kanan Abella setelah Duke Arland mengurungkan niatnya.


"Apa ibu pernah mengajarkan kamu seperti ini? Ibu kecewa pada mu Abella, dia." Duchess Eliana menunjuk ke arah Viola. "Seorang gadis yang tengah berada dalam tubuh Viola. Bukan kemauan dia Abella, tapi dengan adanya gadis itu, semua orang mengerti. Betapa berharganya kasih sayang. Ketika orang sudah berubah sebuah penyesalan datang. Jika bukan gadis asing itu, semua orang tidak akan sadar betapa berharganya kasih sayang." Ujar Duchess Eliana dengan penuh penekanan setiap perkataannya.


Viola melirik ke lantai atas, Duke Cristin muncul di atas anak tangga, sebisa mungkin ia akan memperlihatkan wanita yang teraniaya.


Kamu salah yang bermain dengan kucing liar seperti ku Abella.


"Maafkan aku Abella. Aku tidak bermaksud. Jika kamu mau, aku akan pergi dari kehidupan Yang Mulia dan keluarga mu. Aku tidak ... "


"Ada apa Duchess ?" tanya Duke Cristin berhenti di bawah anak tangga terakhir. Saat mendengarkan suara Duchess Eliana, ia langsung berlari, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Akan tetapi sesuatu itu, mungkin sudah terjadi melihat istrinya sedang menunduk dan menangis.

__ADS_1


__ADS_2