Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Aku tidak merestui mu dengan ibu ku


__ADS_3

Acara makan malam itu pun berlangsung damai tanpa hambatan. Duchess Eliana merasakan aneh dengan Duke Arland. Melihat matanya saja mengatakan. Dia sudah tertarik dengan Lilliana. Sakit, itu lah yang dia rasakan, tetapi ia tidak boleh egois. Lilliana berhak, karena secara hukum mereka belum bercerai hanya berpisah saja.


Dan setelah makan itu, Duchess Eliana meminta mengobrol berdua. Baroness Lilliana langsung menyetujuinya kini mereka berada di lantai atas menghadap ke kandang kuda dengan di hiasi ribuan bintang di langit.


"Lilli, sudah lama kita tidak seperti ini." Duchess Eliana mengingat kenangan indahnya bersama Lilliana. Saat malam mereka sering menghabisi malam bersama.


"Aku mengingatnya, tetapi sudah melupakannya."


Duchess Eliana memandangnya, "Apa kamu tidak merindukan rumah?"


"Rumah??" Lilliana menggeram. Kediaman Duke Arland bukan rumahnya layaknya surga yang bertaburan bunga mawar. Melainkan Neraka dengan kobaran api.


"Apa kakak tidak bisa membedakan mana rumah dan mana neraka. Lilliana sudah mati di rumah itu kak."


"Lilli," tangan kanannya hendak meraih kepalanya. Baginya Lilliana adalah Adiknya. Lilliana meraih tangan Duchess Eliana. "Jangan memaksa ku untuk ke rumah mu kak." Lilliana melirik sekilas orang yang datang tanpa di undang itu. "Aku ngantuk." Ujarnya dingin, lalu melewati laki-laki itu.


"Pulanglah,"


"Apa karena Vio? kamu berhak bertemu dengannya karena kamu Ayahnya, tapi untuk kembali ke rumah itu jika pun demi Vio. Maaf beribu maaf aku tidak berminat dan berniat sedikit pun." Rahangnya mengeras. Dia mendekik tajam dan melanjutkan langkah kakinya.


Ke esokan harinya.


Seorang wanita tengah sibuk membuat adonan roti. Sarung tangan berwarna pink itu melekat di tangannya. Adonan siap, ia memasukkan ke ovenan yang masih menggunakan api dengan tingkatan sedang. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke pinggir meja. Dia menjaga adonan itu agar tidak hangus.

__ADS_1


tap


tap


tap


Suara langkah kaki itu tak mengalihkannya sedikit pun. Ia masih sibuk menjaga api itu dengan jarak yang lumayan jauh.


"Pagi." Barones Lilliana melirik sekilas orang yang menyapanya. Tanpa ada jawaban apa pun dia kembali melihat adonannya. "Tidak baik, jika tidak menjawab sapaan orang." Ujarnya seraya meneguk air di dalam gelas yang berada di tangannya.


"Bagaimana tidur mu, nyenyak? O, iya setelah pulang nanti aku akan menyiapkan kamar untuk mu. Kamu akan tidur di ruang utama."


Rupanya kejadian tadi malam membuatnya tidak jera. Rasanya dia ingin melayangkan tangannya yang sudah merapatkan jarinya.


Lilliana berharap akan ada malaikat yang mencabutnya nyawanya sekarang juga. Dia benci perkataan yang keluar dari lidah kotornya.


"Aku rasa ... "


"Cukup !" Dia membalikkan badannya seraya menyilangkan kedua tangannya. "Telinga ku hampir meledak mendengarkan suara mu."


Seketika laki-laki itu tertawa. Ejekan Lilliana membuatnya geli. Entahlah, dia merasa perubahan Lilliana membuat ketertarikan pada dirinya. Lilliana memang cantik dari dulu. Ya, dulu seandainya saja dia bertemu Lilliana lebih dulu. Mungkin dia akan menjadikannya istri pertamanya. Ralat, sekarang nasi sudah jadi bubur Lilliana membencinya. Tidak bisa di pungkiri. Kenapa ketertarikan itu datang di waktu yang salah?


"Menggemaskan." Ucapnya.

__ADS_1


"Dasar, laki-laki gila." Lilliana mengambil adonan yang sudah mengembang itu. Dia menaruh adonan itu di piring putih di depannya. Laki-laki itu tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya. Dia memperhatikan Lilliana dan tidak pernah melepaskan rasa kagumnya. Wanita itu masih sama, suka membuat adonan dan membantu para pelayan di dapur.


"Pergi saja, kamu merusak mata ku dan hari baik ku."


Laki-laki itu menggenggam tangan Lilliana mencegahnya pergi. Kemudian menariknya ke dalam dekapannya. Rindu itu mungkin sudah terobati semenjak dia meninggalkan rumahnya.


"Lepas !" Lilliana mendorongnya. "Jangan macam-macam pada ku brengsek !"


"Apa aku salah merindukan istri ku?" Dia tidak bisa lagi menahan egonya, hatinya merasa puas menjatuhkan Lilliana ke dalam dekapannya walaupun dalam sedetik.


Menjijikkan


"Waw," Viola bersandar di pintu itu tanpa kedua orang itu ketahui. Dia bertepuk tangan dengan pertunjukan Duke Arland berikan. Bisa-bisanya laki-laki seperti dia masih memiliki muka di wajahnya.


"Vio,"


"Apa kamu tidak memiliki urat malu Yang Mulia Duke Arland?" pekik Viola dengan tatapan tak suka.


"Apa kamu tidak puas dengan satu orang istri?"


"Ibu mu, Istri ku." Jawab Duke Arland.


"Cih, sekalipun dia istri mu. Aku anak mu, tetap saja tidak akan mengubah keputusan ku. Aku tidak merestui mu dengan Ibu ku. Camkan itu," Ujar Viola menarik tangan Lilliana. Sesampainya di pintu, Viola dan Lilliana melihat Duchess Eliana disana. Mungkin dia sudah mendengarkan semuanya. Viola hanya melirik sekilas.

__ADS_1


Dia mendengarkan perkataan Viola artinya Duke Arland sudah menaruh hati pada Lilliana. Entah dia suka atau tidak suka. Tetapi dia bertekad akan menyatukan Duke Arland dengan Lilliana. Sebuah misteri belum terungkap sepenuhnya.


__ADS_2