
Viola membuka matanya, ia langsung melirik ke arah kanan seraya mengumpulkan nyawanya. Ia mengingat kembali kejadian tadi malam, Duke Cristin seperti singa kelaparan sama halnya dengan dirinya seperti singa kelaparan, tak berhentinya dia mendesah dan melakukan berbagai macam gaya. Tepat pukul 07.00 malam Duke Cristin menghentikan aksinya, ia memilih mengambilkan air minum dan mengatakannya beristirahat lalu di susul olehnya. Dan sekarang pinggangnya seakan patah, hingga ia tidak ingin menggerakkannya sama sekali. Makan malam pun ia sudah melewatinya dengan di gantikan makan malam dari sebuah kecebong.
Bergeser pun ia sangat kesusahan, ia merasakan benda panjang itu berada di atas perutnya. Benda itu yang membuatnya pinggangnya terasa sakit dan lebih lagi di bawah rahimnya yang merasakan perih. Viola membuka selimutnya, ia mengintip di bawah sana dan kembali menutup selimutnya. Kaki Duke Cristin melingkar di atas pahanya, sedangkan tangannya melingkar di atas dadanya. Jangan lupakan di bawah sana, yang tidur di atas perutnya. Bahkan ia melihat dengan jelas benjolan kecil di antara pedang Duke Cristin.
Viola berniat menggeser kembali badannya. Namun Duke Cristin justru semakin mempererat pelukannya. Dengan hati-hati Viola memindahkan tangan Duke Cristin, ia beringsut membuka selimutnya. Menelan ludahnya susah payah, tadi malam ia merasakan benda mengeras itu bermain di dalam mulutnya. Hingga Duke Cristin memintanya lagi dan lagi bahkan setelah ia mengulum pedang itu, Duke Cristin memasukkannya ke dalam goanya. Viola memejamkan matanya, ia memindahkan kaki Duke Cristin dengan wajahnya memerah.
Aku sudah menjatuhkan harga diri ku batinnya.
"Sayang." Duke Cristin mengucek matanya. Lalu melihat ke arah Viola. "Mau kemana?" tanya Duke Cristin beringsut duduk. Ia memeluk Viola, menjatuhkan kepalanya di bahu Viola.
"Aku mau mandi," tutur Viola melirik ke wajah Duke Cristin. Bulu matanya yang lentik dan hidung mancungnya serta bibirnya, tadi malam ia sudah menciumnya dengan lembut. Viola menyentuh pucuk kepala Duke Cristin dan mengelusnya dengan lembut.
__ADS_1
Duke Cristin mendonggakkan wajahnya dan tersenyum, ia beralih ke dada Viola menyesap salah satu benda kenyal itu.
"Sayang," ujar Viola. Tadi malam mereka sudah meresmikan panggilan sayang sesuai permintaan Duke Cristin. Sebenarnya dia merasa risih, namun melihat Duke Cristin seperti anak anjing, ia tidak tega.
"Aku tidak meminta di sini." Tangan Duke Cristin menyentuh milik Viola. Membuatnya membulatkan matanya. "Aku hanya ingin ini," rengeknya seperti anak kecil.
Viola pasrah, ia menjatuhkan tubuhnya dengan hati-hati seraya memeluk kepala Duke Cristin.
"Sayang, mulai hari ini aku ingin menyesapinya setiap pagi." Tutur Duke Cristin. Entah apa yang terjadi dengan mulutnya, ia ketagihan dengan gunung kembar milik Viola, rasanya sangat pas di mulutnya. Rasa manis yang tak pernah ada duanya itu.
"Hah," Kini ia mengerti maksud Duke Cristin. Jadi jika bukan di rumahnya, Duke Cristin akan hanya memintanya menyesapnya saja.
__ADS_1
"Aku akan membuat khusus gaun mu dan hanya menggunakan kancing di depan dada mu."
"Sayang kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Viola yang tak habis pikir.
"Aku tidak tau, aku tidak mau jauh dari mu." Duke Cristin beralih ke salah satu gundukan Viola, menyesapinya seperti sebelumnya.
"Sayang aku mau lagi." Dengan senyuman menggoda, secepat kilat i membalikkan tubuh Viola sehingga posisinya tengkurap. Menarik pinggulnya ke atas. Lalu memasukkan pedangnya.
Viola mendesah, ia tidak sadar Duke Cristin tengah memasukkannya lagi, membuatnya terhipnotis. Otaknya menolak tetapi tubuhnya tidak bisa menolak kehangatan Duke Cristin.
Duke Cristin memeluknya dari belakang, ia meremas kedua gundukan itu. Mencium bahu Viola dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Sayang." Viola menoleh. Duke Cristin mencium sekilas bibirnya. Cukup lama ia berciuman dan akhirnya melepaskannya. Dan kini saatnya ia menghentakkannya lagi dalam posisi seperti itu. Dan yang ia rasakan lebih kenikmatannya.
Nafas yang saling bersahutan, tubuh yang saling memberikan kehangatan luar dan dalam. Duke Cristin terus melajukannya tanpa jeda sampai tubuh itu tak lagi terdapat sisa energinya.