
"Nyonya," Viola semakin mengeratkan genggamannya saat Duke Cristin memanggil Baroness Lilliana.
Viola melirik Duke Cristin yang hanya di angguki dengan senyuman. Ia tidak tau harus memulainya dari mana. Duke Cristin memundurkan langkahnya, memberikan jarak dirinya agar Viola lebih leluasa berbicara dengan Baroness Lilliana
Baroness Lilliana mendekat, ia memeluk Viola. Menangis dalam pelukannya. Seharusnya ia bersyukur, masih ada jiwa asing yang mau menempati tubuh putrinya, sehingga ia bisa melihat putrinya kapan saja yang ia mau.
Semenjak ia merenung diri, putrinya muncul dalam mimpinya dengan senyuman bahagia. Kini ia mengerti, putrinya justru terlihat bahagia.
"Ibu, aku mengerti apa yang di pikirkan Ibu." Tutur Viola dalam mimpinya. Gadis itu menggenggam tangan sang Ibu.
"Vio," Baroness Liliana mendekatinya, memeluknya. "Aku ingin ibu menerimanya seperti diriku yang menerimanya. Semuanya sudah takdir ibu." Ujar Viola.
Baroness Lilliana semakin terisak, "Maafkan Ibu, Vio. Seharusnya ibu menerima mu, siapa pun dirimu. Entah kamu jiwa asing atau bukan, darah mu mengalir darah ibu." Baroness Lilliana melepaskan pelukannya. "Dan terima kasih karena kamu mau menetap di dalam tubuhnya. Aku tidak tau siapa kamu, tapi aku sangat berterima kasih. Kamu mau menjaga tubuh putri ku dengan baik." Sambungnya dengan tersenyum.
Begitu pun Viola, ia semakin menangis dan kembali memeluknya. Ia kira, Baroness Lilliana akan mencacinya, menghinanya sedemikian buruk. Hingga ia sudah menyiapkan mental yang kuat.
"Bolehkah, aku memanggil mu ibu."
"Tentu sayang, kamu tetap putri ku. Siapa pun kamu."
__ADS_1
"Nyonya," ujar Mira dan Flora. "Maafkan kami." Tutur mereka serempak seraya menghapus air matanya.
"Seharusnya aku yang lebih minta maaf, aku tidak bisa menjaga nyonya dengan baik dan kali ini aku berjanji akan menjaga nyonya dengan baik." Ujar Flora. Ia merasa menyesal, dalam hidupnya ia sangat menyesal tidak menjaga majikannya dengan baik. Seandainya majikannya tidak terjatuh dari atas tebing, mungkin tidak akan terjadi. Tetapi sekarang ia tidak perlu menyesalinya lagi, mungkin itu adalah takdir majikannya. Lagi pula ia juga sudah bertemu dengan majikannya dalam mimpinya.
Viola menoleh ke arah Duke Cristin, ia berlari memeluknya. "Kamu bahagia," Duke Cristin mencium pucuk kepalanya. "Iya," sahut Viola.
"Baiklah, kamu habiskan waktu mu dengan mereka. Aku akan ke ruang kerja, jika ada sesuatu hubungi aku." Ujar Duke Cristin kemudian mencium kening Viola. Ia juga bahagia, Baroness Lilliana mau menerima Viola. Seandainya Baroness Lilliana tidak menerima istrinya, ia sudah menyiapkan berbagai hukuman jika terjadi sesuatu pada istrinya.
"Vio, apa keluarga Duke menerima mu?" tanya Baroness Lilliana seraya menyeruput tehnya.
"Hanya Abella yang tidak mau menerima ku. Bahkan ia terang-terangan membenci ku."
"Ah, aku hampir lupa. Aku tidak lagi mengeceknya." Ujat Viola menghela nafas. Ia harus melupakan bisnisnya hanya karena bersenang-senang dengan Duke Cristin.
"Baiklah, bagaimana jika kita kesana."
Viola mengangguk dengan antusias, ia berjalan dengan buru-buru ke lantai atas.
"Yang Mulia." Seru Viola. Langkah kakinya membuat Duke Cristin menuju ke arahnya. Ia takut Violanya akan terjatuh.
__ADS_1
"Sayang, kamu harus hati-hati." Ujar Duke Cristin dengan kesal dan ketakutan setengah mati.
"Emm, maaf." Cicit Viola memainkan jarinya. "Aku datang kesini hanya meminta ijin keluar mengecek bisnis ku."
"Oh, bisnis." Duke Cristin menarik tangan Viola. Ia duduk di sofa itu, lalu menarik Viola ke pangkuannya. "Aku sudah membangun beberapa cabang untuk Restaurant mu. Kapan-kapan melihatnya dan Restaurant itu atas nama mu." Jelas Duke Cristin.
"Benarkah," Viola tidak bisa membayangkan betapa kayanya dirinya mendapatkan uang dengan cepat. Bisa-bisa ia tidur di atas uangnya.
"Iya, aku akan mengajak mu lain kali."
"Terima kasih," Viola memeluk Duke Cristin.
"Rasa terima kasih mu tidak hanya harus di ucapkan sayang."
"Maksudnya," Viola mengkerutkan dahinya.
"Dengan cara seperti ini," Duke Cristin menarik dagu Viola. ia mencium bibir sexy itu, menyesapinya dengan lembut. "Dan di sini," Duke Cristin membuka kancing gaun Viola, ia mencium dua buah benda kenyal itu.
"Yang Mulia," seru Viola terkejut.
__ADS_1
"Aku hanya memintanya dan tidak akan lebih." Ujar Duke Cristin langsung melahap salah satu buah kenyal itu. Membuat Viola menggigit bibir bawahnya seraya memeluk erat leher Duke Cristin.