Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Mengungkapkan


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Baroness Lilliana melihat ke arah Mira. Sejak ia tau, Duke Cristin duduk di luar di bawah salju yang semakin turun lebat hanya agar Viola memberikan maaf, ia mengkhawatirkan ke adaan tubuhnya. Ia sudah berusaha membujuk Duke Cristin tidak melakukan hal bodoh seperti itu. Masih ada cara lain meminta maaf, namun laki-laki bangsawan itu sangat keras kepala. Duke Arland dan Ferland sudah membujuknya sejak tadi, akan tetapi laki-laki itu justru menyuruh sang kesatria menyampaikannya jika ia tidak ingin di ganggu. Baroness Lilliana, Ferland dan Duke Arland hanya bisa melihatnya di balik jendela.


"Ini tidak bisa di biarkan, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?" Ujar Baroness Lilliana, ia ingin menemui Viola sekali lagi. Membujuknya agar Duke Cristin masuk ke dalam di tambah lagi salju semakin turun lebat. Bahkan tubuhnya kini hanya berada di ruang perapian, tidak mampu menahan dinginnya hujan salju tahun ini.


"Ibu biarkan aku saja." Ujar Ferland, ia tidak ingin melihat Viola memarahi wanita di depannya itu. Ia tidak bisa melihat wanita itu yang kini masih berstatus ibu angkatnya merasa sedih.


"Tidak perlu, kamu tunggu di sini. Demam mu belum turun." Ujar Baroness Lilliana seraya menyentuh dahi Ferland.


Ferland menggenggam tangannya yang menempel di dahinya. "Aku tidak apa-apa Ibu," Bahagia hanya karena perhatian kecil. Tidak ingin ia pulang, menjauh dari ibu angkatnya. Seandainya dulu dia memperlakukannya begitu baik, sudah pasti dia akan mendapatkan kasih sayang dari wanita di depannya. "Aku ingin selalu seperti ini, Bu. Seandainya dulu aku tidak ... "


"Sudah jangan mengatakan apa-apa lagi. Sekarang kamu istirahat saja. Ibu mengerti apa yang kamu khawatirkan, Viola tidak akan memarahi Ibu."


"Biarkan aku saja yang menemuinya." Sanggah Duke Arland. Ia ingin melihat kebahagiaan kecil di depannya tak ingin momen itu hilang. Dia yakin Ferland tidak ingin jauh dari ibu angkatnya. Lagi pula dia juga membutuhkan maaf dari Viola.


"Duchess." Kali ini Duke Arland memanggilnya dengan sebuah gelar bangsawan. Ia berharap dengan gelarnya itu, Viola mau mengakui suaminya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Viola melihat ke arahnya. "Apa Yang Mulia Duke datang kesini hanya ingin membujuk ku?"


"Sampai kapan kamu akan seperti ini dan mau mengakuinya. Maafkanlah dia Nak, semuanya salah Ayah."


Viola bangkit dari duduknya, pecahan gelas kaca itu sampai ke depan Duke Arland. Lantai yang tadinya putih kini merah karena Wine itu. "Iya ini semua salah mu, salah mu."


"Dia akan mati kedinginan di sana Vio."


"Jika bukan demi dirinya, setidaknya demi Ibu kamu melakukannya." Timpal Baroness Lilliana. Benar saja, Viola akan mengamuk seperti tadi.


"Dia semalaman duduk di sana. Tuhan saja memberikan kesempatan bagi hambanya. Laku kita sebagai manusia apa tidak bisa memberikan sebuah kesempatan. Seorang Ibu meskipun anaknya telah mati, dia akan memberikan kesempatan bagi orang yang telah mencelakainya. Berharap dengan kesempatan itu dia berubah menjadi orang yang baik. Dan anaknya bisa tenang di alam sana."


Viola menunduk, bagaimana jika anaknya yang sesungguhnya telah mati. Sebenarnya bukan Duke Cristin yang membunuhnya. Tapi pemilik tubuh asli ini jatuh ketika mengambil bunga di dekat tebing dan Duke Cristin mengabaikannya karena pemilik tubuh ini yang salah sendiri. Menyalahkan Duke Cristin hanya karena melimpahkan semua kesalahan padanya. Sebenarnya bukan Duke Cristin yang salah jika ia bisa menjabarkan kesalahannya dari awal. Laki-laki di depannyalah yang salah.


"Bagaimana jika seandainya aku mati, lalu seseorang menggantikan tubuhnya?" tanya Viola.

__ADS_1


"Apa maksud mu Vio? kamu itu putri ku."


Viola tertawa, "Aku tidak akan menjelaskannya alasan ku membencinya dan tentunya lebih membenci mu. Aku Viola, bukan Viola tetapi seorang gadis asing yang kini terperangkap di dalam tubuhnya. Aku hanyalah jiwa asing yang menggantikan tubuhnya. Aku bukanlah Viola yang asli, nama ku adalah Alana."


"Viola jangan mendongeng, apa Ibu akan percaya dengan semua kata-kata mu?"


"Flo, apa kamu masih ingat ketika aku jatuh? aku sudah mati saat itu Flo. Aku bukan majikan mu yang asli. Kenapa kalian tidak bisa merasakannya? apa Viola berubah sikap dan sifatnya. Aku Alana bukan Viola, bukan putri kalian entah kalian percaya atau tidak."


Flora memegangi sandaran kursi di depannya, ia mengingat kembali saat jatuh dari tebing itu. Seharusnya sang majikan memang mati karena jatuh dari tebing itu. Viola mendekati Flora, ia mengangkat dagunya, menatapnya. "Apa kamu bisa melihat di kedua bola mata ku Flo?"


"Kalian membujuk ku kan, maka aku dengan senang hati menjelaskannya siapa diriku. Dan semuanya terserah kalian menerima kehadiran ku atau tidak. Dan aku tidak suka di paksa." Viola melewati ketiga orang yang mematung begitu saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mungkin masih ada yang rindu ama anaknya Marquess dan Caroline😀

__ADS_1


Untuk kisah dari Anak Viscount dengan Caroline akan ada di novel sebelah dengan Judul "Istri Kontrak Kaisar Kejam." Di sana akan author gabungkan. Jadi kisahnya tentang Anak dari Caroline dan Viscount (Paman, Duke) dengan kisah Anak Putri Maya dan Duke Rachid (Istri Kontrak Kaisar Kejam).


Sampai ketemu di lapak novel sebelah "Istri Kontrak Kaisar Kejam."😊😊😊


__ADS_2