
#Pengumuman ya, lok sekarang authornya masih bisa nulis gak tau tiga hari ke depan. Soalnya authornya punya kepentingan keluarga, tiga hari mungkin sibuk. lok ada waktu luang insyallah bisa nulis. lok gak ada waktu luang, mungkin hiatus selama tiga hari. Maaf banget yaaa😌
Sepanjang malam Duke Cristin menjaga Viola. Ia tidak berharap Viola mau menerimanya. Karena baginya, Viola saat ini tidak mungkin menerimanya yang masih berstatus istri nama wanita lain. Akan tetapi ia merasa penasaran dengan kehidupan gadis asing yang bersemayan di tubuh istrinya.
Alana, seperti apa sebenarnya dirimu. Aku sangat sulit menebak pikiran mu.
Duke Cristin kembali mengambil kain yang berlipatan kecil itu di dahi Viola. Ia mencelupkan kain itu ke baskom yang berisi air lalu memerasnya, menaruhnya di dahi Viola. Saat Dokter mengatakan jika Viola demam. Ia langsung mengambil alih kompres itu. Rasa khawatir yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.
Apa mungkin aku mencintainya, bukan mencintai Viola dulu. Tidak mungkin ! Duke Cristin menggelengkan kepalanya.
Duke Cristin menaikkan kedua alisnya, kemudian memijat pelipisnya. Rasa kantuk itu mulai terasa. Ia membuat tangannya menjadi bantalannya di samping Viola. Sekali lagi ia menguap dan rasa kantuk itu semakin tak bisa ia pertahankan lagi.
Jam pun terus berdetak hingga menunjukkan pukul 12.00. Viola terbangun dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering. Ia meraba dahinya, lalu melihat selembar kain di tangannya.
Matanya melirik ke arah kiri, ia tersenyum melihat seorang laki-laki yang mau merawatnya meskipun dia sudah tau, jika dirinya bukanlah yang asli.
__ADS_1
Viola beringsut duduk, ia menatap wajah teduh itu. Tanpa terasa, ia menggerakkan tangannya ke kepala Duke Cristin, mengelusnya dengan lembut. Semakin lembut sentuhan itu, semakin Duke Cristin tertidur nyama. kali ini ia sedang bermimpi bermain dengan Viola di sebuah ladang bunga tulip dan matahari. Melakukannya dengan kelembutan di bawah sinar matahari di iringi udara sejuk.
"Viola." Ujarnya.
Emmm
Viola yang mendengarkannya terkekeh, bisa-bisanya dia bermimpi tentang dirinya. Entah itu Viola asli atau pun dirinya, ia tidak memperdulikannya.
"Yang Mulia, apa kamu mimpi tentang diri ku atau tentang Viola sebelumnya." Gumam Viola menyandarkan kepalanya ke sandaran ranjangnya.
"Aku tidak tau, kamu memilih ku atau tidak. Yang jelas, aku tidak bisa diam saja saat diriku di hina. Meskipun dia wanita masa lalu mu. Aku tidak berharap banyak pada mu Yang Mulia." Lirih Viola. Ia tidak ingin berharap pada sesuatu yang belum jelas tentang hubungannya.
"Apa maksud mu Viola?" tanya Duke Cristin menatap Viola. Merasakan ada sesuatu yang lembut menyentuh kepalanya, ia langsung membuka matanya. Dan ternyata, tangan wanita itu yang membuatnya sangat nyaman.
"Ah, Yang Mulia." Ujar Viola.
__ADS_1
"Katakan Vio, apa yang kamu sembunyikan dari ku? kita suami istri, tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi." Ujar Duke Cristin dengan wajah serius.
Viola merasa terharu, namun air mata itu tak harus terjatuh. Ia tidak mau semakin ia terharu akan sikap Duke Cristin, semakin dia berharap yang tentu jelas bukan miliknya."Aku tidak tau kamu percaya apa tidak Yang Mulia. Tadi Abella datang pada ku. Dia meminta ku menjauh dari mu. Aku paham, aku bukan Viola yang asli. Aku bukan Viola mereka dan bukan Viola yang kamu cintai. Dia boleh meminta ku berpisah dengan mu, tetapi jangan menghina ku. Aku masih memiliki harga diri."
"Tetapi aku tidak akan mengabulkan permintaan Abella, Alana." Duke Cristin meraih kedua tangan Viola. "Aku tidak tau siapa kamu, benar. Kamu bukan Viola ku. Aku kehilangannya karena aku lalai dalam menjalankan seorang suami. Tapi kini, siapa pun kamu. Entah kamu Viola atau bukan. Kamu akan tetap selamanya menjadi istri ku. Berkat dirimu juga, Alana. Aku sadar, aku salah terhadap Viola. Dan untuk itu, aku tidak ingin menyianyiakan wanita yang kini berada di depan ku. Aku tidak ingin kehilangannya lagi. Selama ini kamu lah yang memberikan kehangatan itu."
"Yang Mulia masih mencintai Viola." Ujar Viola yang merasa tak yakin pada perkataan Duke Cristin. Ia ragu masalah cinta. Ia tidak mau sakit kedua kalinya.
"Aku memang mencintainya, tapi aku akan mencintai mu sebagai Alana. Aku akan berusaha membuat mu bahagia, mencintai mu sebagai Alana bukan sebagai Viola. Selama ini kamu lah yang memberikan ku arti kehangatan. Kamu harus percaya pada ku."
"Abella menginginkan mu, aku tidak ingin ..."
Duke Cristin menutup mulut Viola dengan jari telunjuknya. "Ijinkan aku mencintai mu, bukan sebagai Viola tapi sebagai Alana. Aku tidak akan membiarkan orang menyakiti mu. Aku akan melindungi mu. Aku akan berusaha memulai dari awal, memulai hidup bersama Alana. Aku akan berusaha mencintai mu, mempercayai mu. Karena aku yakin, Alana si gadis bar-bar adalah wanita ku."
"Dan untuk masalah Abella. Aku akan membuat perhitungan padanya."
__ADS_1