Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Kebenaran


__ADS_3

"Hah," Viola berdecak pinggang, ia melihat ke arah langit. "Sampai kapan kamu akan tetap seperti itu? apa tidak ada pekerjaan lain?" tanya Viola. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang kokoh bercat putih dengan ukiran warna biru di bagian tengahnya. Viola mengubah posisi tangannya dengan bersendekap.


"Sudahlah tidak ada lagi Viola, aku bukan Viola mu. Maksud ku, aku bukan istri mu yang asli.


Duke Cristin masih diam, ia mencerna perkataan Viola. Menurutnya tidak masuk akal. Ia hanya memasang telinganya dengan lebar-lebar.


"Duchess Viola. Aku Duke Cristin meminta maaf pada mu."


"Aku memaafkan mu, sekarang ikutlah dengan ku dan gantilah pakaian, lalu gunakan pakaian penghangat di tubuh mu. Aku tidak ingin merasa bersalah pada seseorang." Viola meninggalkan Duke Cristin, lalu di susul olehnya.


Viola duduk di sebuah kursi, di depannya ada api yang menyela. Entah nasibnya akan seperti apa setelah dia mengatakan yang sesungguhnya. Dia tidak ingin hidup dengan kebohongan.


"Vio, apa yang kamu katakan tidak benar kan? kamu tetap putri ku." Seorang wanita berdiri di sampingnya. Ia merasa perkataan Viola tidak masuk akal. Putrinya masih hidup.


"Duduklah, aku tidak akan mengatakannya dua kali."

__ADS_1


"Entah kalian percaya atau tidak." Viola menoleh, dia melihat Baroness Lilliana dengan mata yang mulai memerah. Sepertinya wanita di depannya di ambang percaya dan tidak percaya.


"Jangan katakan apa pun, Viola masih hidup. Jika kamu bukan Viola, lalu kamu siapa?" Duke Arland menuju ke arahnya dengan Ferland yang berada di sampingnya. Kedua laki-laki itu tidak percaya, seolah dirinya tadi mendongeng. Jika di lihat dari matanya, mereka di liputi rasa bersalah dan menolak kebenarannya.


"Aku memang bukanlah Viola yang asli." Viola bangkit ia menoleh ke asal suara yang berhenti melangkah seketika.


"Aku Alana, aku berasal dari dunia yang berbeda. Entahlah aku tidak bisa menjelaskannya. Mungkin kalian akan menganggap ku orang gila atau apa lah terserah kalian." Viola melangkah ke arah jendela, ia menatap butiran salju itu.


"Aku mati di tangan kekasih ku. Bodohnya aku mempercayai cinta. Kalian tentu menyadari perubahan sikap dan sifat ku. Apa kalian pernah membaca novel yang menurut kalian persis dengan cerita ku."


"Tidak asing dengan novel yang berjudul 'The Queen' di sana menceritakan seorang gadis yang mati di tangan kekasihnya lalu jiwa terdampar ke negeri asing." Dia mengingat pertama kalinya tidur di kamar Viola, pemilik tubuh aslinya memiliki hoby membaca dan yang di baca pun sebuah novel yang sama persis dengan dirinya saat ini. Ia hanya membaca sekilas saja dan tak berniat meneruskannya.


"Novel itu benar dan sudah menjadi nyata."


"Tidak mungkin, itu hanya sebuah novel dan tidak menjadi nyata. Itu hanyalah dunia khayalan."

__ADS_1


"Saat ini memang mengkhayal, tapi menjadi nyata dan aku tidak tau bagaimana cara kalian melihat Viola yang asli. Aku berkata jujur, itu terserah kalian menerimanya atau tidak. Yang jelas, aku tidak mengharapkan kasih sayang kalian seperti kalian menyayangi Viola. Menurut ku, aku tidak akan bahagia dengan kebohongan. Sekali lagi aku mengatakan yang sejujurnya, besok aku akan kembali ke Restaurant ku." Ujar Viola meninggalkan semua orang yang mematung.


"Duke Cristin, aku harap kamu tidak menyesal. Sebelum Viola pergi kamu tidak mengatakan perasaan mu. Dan untuk Duke Arland, kamu akan menyesal seumur hidup mu. Karena kamu lah yang membuatnya meninggal. Minta maaf lah pada Viola dengan tulus, aku yakin dia akan tenang di sana.


"Tidak mungkin." Duke Cristin menghampiri Viola. Dia merangkup kedua tangan Viola hingga tatapan mereka bertemu. "Kamu Viola ku, kamu akan tetap Viola."


"Jangan memaksa ku menjadi Viola mu. Aku berbeda sikap ku dan sifat ku. Jika kamu menyesalinya, bersujud lah di lukisannya. Minta maaf lah dengan tulus."


Duke Cristin melepaskan kedua tangannya, "Tidak mungkin." Ia tertawa seakan menangisi hidupnya. "Tidak mungkin, Viola ku masih hidup."


Viola merasa iba melihat kerapuhan Duke Cristin yang tidak menerima kenyataan itu. Laki-laki itu pun berlalu pergi. Ia berlari ke luar kediaman Baroness menebus hujan salju itu.


Sementara Baroness Lilliana, ia langsung berlari ke lantai atas dan menutup pintunya dengan keras, lalu menguncinya rapat-rapat. Menangis di balik pintu itu.


Sedangkan kedua laki-laki itu, terduduk lemas di lantai. Ferland mendonggakkan wajahnya ke arah Viola. Lalu memeluk sang Ayah yang berada di sampingnya.

__ADS_1


Dan sekarang dirinya tidak tau harus melakukan apa? pilihannya sekarang hanyalah kembali ke Restaurantnya.


__ADS_2