Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Di bawah sana


__ADS_3

"Aku tidak akan membiarkan terjadi sesuatu pada mu." Ujar Duke Cristin seraya mengelus pipi Viola, lalu mencium keningnya. "Sekarang tidurlah, ini masih jam berapa."


"Aku haus Yang Mulia." Viola meraba tenggorokannya yang terasa sakit.


"Tunggu di sini, aku akan mengambilkan air minum untuk mu." Ujar Duke Cristin berlalu pergi.


Viola turun dari ranjangnya, ia melangkah ke arah jendela. Menyingkapi gorden berwarna putih itu. Bulan dan Bintang bersinar terang di langit. Seolah tersenyum padanya.


"Sayang." Viola tersenyum. Duke Cristin menghampirinya lalu membantunya meminum segelas air yang berada di tangannya itu.


"Sudah mendingan?" tanya Duke Cristin seraya menyelinapkan rambut Viola ke belakang telinganya.


"Ayo," Duke Cristin menuntun Viola ke arah ranjangnya. "Naiklah, kamu harus istirahat." Duke Cristin pun membantu Viola menyelimuti tubuhnya. Kemudian menyusul di samping Viola. Ia membuat sandaran, agar bisa mengelus kepalanya dan memandangnya.


"Yang Mulia kenapa seperti ini?" tanya Viola dengan degupan jantungnya. Ia melirik ke arah Duke Cristin dengan wajah memerah.


"Mulai sekarang biasakan seperti ini. Aku suami mu Vio." Ujar Duke Cristin mencium kening Viola.


"Tapi Yang Mulia aku," Viola menjeda. Sebenarnya dia tidak berharap banyak mendapatkan cinta dari Duke Cristin. Baginya, Duke Cristin tidak mungkin mencintainya. Meskipun Duke Cristin mengatakannya, entahlah dia masih merasa ragu.

__ADS_1


"Apa Yang Mulia mencintai ku sebagai Viola atau Alana?"


"Apa kamu ragu?" tanya Duke Cristin. Ia paham, Viola sangat ragu. Tidak mungkin baginya mencintainya dalam sekejap.


Viola hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Jangan meragukan ku Vio, aku berusaha mencintai mu sebagai Alana. Bukan sebagai Viola. Percayalah pada ku, aku akan membuktikannya." Ujar Duke Cristin.


"Bagaimana jika keluarga Duke Arland tidak menyukai ku? Sebenarnya aku tidak berharap cinta dari mereka." Ujar Viola.


"Terserah mereka, jika pun tidak di akui. Masih ada aku yang mengakui mu dan mencintai mu. Aku akan selalu mempercayai mu."


"Sudah ku duga." Ujar Viola membalikkan badannya. Ia merasa kecewa, baru saja dia mengatakan akan mempercayainya. Melihat raut wajahnya saja, Duke Cristin sudah meragukannya.


Duke Cristin mencium pipi Viola, "Aku bukan meragukan mu, tapi kapan dia berbuat seperti itu? apa tadi saat dahi mu terluka?" tanya Duke Cristin memastikan.


Viola kembali membalikkan badannya, menghadapnya dengan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa tidak bilang? saat itu juga aku akan menghukumnya. Jangan khawatir aku akan menghukumnya."

__ADS_1


"Hukuman apa yang ingin aku berikan padanya?" tanya Duke Cristin.


"Sebenarnya dia ingin Yang Mulia kembali padanya." Ujar Viola.


pletak


Duke Cristin menyentil dahi Viola. Sepertinya, perkataannya tidak akan membuat wanita di depannya percaya. Maka dia harus berusaha membuktikannya.


"Baiklah, aku akan membuktikannya dan jangan berpikir yang macam-macam. Alana ku." Viola tersenyum, hatinya di penuhi ribuan kupu-kupu. Entah keberanian dari mana, ia langsung memeluk Duke Cristin. "Terimakasih Yang Mulia."


"Besok, aku akan memberikan perhitungan padanya dan jangan memikirkan apa pun." Duke Cristin mengangkat dagu Viola. Ia mencium bibir kenyal itu, menyesapinya setiap inci bibir merah itu. Duke Cristin menatap Viola dengan nafas memburu. "Aku menginginkan mu Viola, tapi bukan sekarang karena kamu masih sakit. Jadi tidurlah, aku akan memintanya lain kali." Duke Cristin membaringkan kepalanya, menahan hasratnya sekuat-kuatnya. Mungkin malam ini, ia tidak akan bisa tidur.


Lain halnya dengan Viola, ia justru memeluk Duke Cristin. Memejamkan matanya. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Duke Cristin sudah berjanji tidak akan menyentuhnya. Biarkan dia merasakan sesak di bawah sana.


Dengan usilnya, Viola justru menyentuh benda yang mulai merasa sesak itu. Seketika Duke Cristin melihat ke arahnya dengan wajah memerah. "Vio."


"Maaf Yang Mulia, aku tidak sengaja." Ujar Viola dengan tatapan iba.


"Sudahlah, kamu tidur saja." Duke Cristin kembali menatap ke arah langit-langit, menahan nafsunya yang mulai menggebu-gebu.

__ADS_1


__ADS_2