Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Apa yang kita lihat, belum tentu kenyataannya


__ADS_3

Burung pun telah berkicau di sertai angin yang menyeludup masuk ke jendela, gorden jendela itu pun melambai-lambai. Seakan dia ingin mengusik dua orang yang tengah tidur pulas. Terpaan itu pun membuat salah satu orang terusik. Hingga dia membuka kelopak matanya.


Emmm


Gadis itu menggerakkan kedua tangannya. Dia mengucek matanya hingga penglihatannya jelas. Keningnya pun berkerut saat melihat kamar asing. Dia mencoba mengingat, lalu melirik ke arah kiri. Terlihat seorang laki-laki yang masih tertidur pulas memeluk perutnya dengan erat.


Viola melihat ke arah langit-langit. Dia menoleh ke wajah laki-laki itu. Mengelus kepalanya, ada rasa senang di hatinya. Viola merasa heran, tidak mungkin hanya mengelus kepalanya saja membuatnya sesenang itu.


Dengan hati-hati Viola memindahkan tangan kekar itu. Dia sedikit bergeser, namun tangan kekar itu kembali melilit ke perutnya.


"Hih," Viola berdesis, perutnya tidak tahan lagi menahannya. Dia pun menepuk pelan pipi Duke Cristin.


"Yang Mulia Duke,"


Emmm


Duke Cristin membuka matanya. Dia tersenyum, sudah lama dia menginginkan saat pertama kalinya membuka matanya ketika bangun tidur. Hanya ada satu wanita yang pertama kalinya di lihat olehnya.


"Vio,"


"Bangunlah, lepaskan tangan mu. Aku harus ke kamar mandi." Ujar Viola memindahkan tangan kekar itu. Viola turun dari kasur empuknya menuju ke kamar mandi.


Sedangkan Duke Cristin beringsut duduk, ia merasakan kepalanya seakan pecah. Tadi malam ia menumpahkan perasaan dengan sebotol Wine. Duke Cristin melihat ke arah baskom. Tanpa sadar matanya melihat sebuah kain di depannya itu, lalu dia beralih ke tanganya. Seulas senyum muncul di bibirnya, ia yakin Viola yang menjaganya dan merawatnya semalaman.

__ADS_1


Seandainya seperti ini


Duke Cristin melihat tubuhnya, wajahnya mulai memerah menahan malu. "Apa dia yang melakukannya?" tanya Duke Cristin seraya mengusap wajahnya.


"Melakukan apa?" tanya Viola yang tanpa sengaja mendengarkan perkataan Duke Cristin.


Duke Cristin menunduk, sementara Viola hanya menggelengkan kepalanya dengan berdecak pinggang. "Jika bukan aku melakukannya, lalu siapa lagi?" Baru kali ini dia harus menahan malu. Bahkan seumur hidupnya. Menjatuhkan harga dirinya.


Viola mendekat, dia mengecek dahi Duke Cristin dengan tangan kanannya. "Sudah tidak panas."


"Lain kali kalau ada masalah jangan membuat ku susah." Ujar Viola kesal. "Kamu tau, semalaman aku harus menjaga mu. Seharusnya jika kamu ingin berbuat ulah, tunggu saja Kakak pulang."


Viola membalikkan badannya. Menurutnya tidak ada hal penting lagi. Apa lagi hari ini, peresmian tokonya yang akan di buka. Dan dia juga sudah memiliki janji dengan Marquess.


Viola menoleh, "Simpan saja rasa terimakasih mu." Ujar Viola melanjutkan langkah kakinya.


"Sebenci itu kah dirimu pada ku,"


"Dari dulu dirimu lah yang membuat ku benci." Ujar Viola tanpa membalikkan badannya.


"Apa kamu akan menikah dengannya?"


"Hais, jika memang iya kenapa? aku rasa tidak ada hubungannya dengan mu. Kamulah yang memisahkan diri ku dengannya."

__ADS_1


Duke Cristin memilih menunduk, yang di katakan Viola sangat benar. Bahkan tidak ada celah sedikit pun. Dulu dia lah yang membuat Viola membencinya. Semakin hari, semakin dia merasakan sakit, tetapi itu semua demi hatinya agar tidak pernah berharap lagi pada Viola.


Viola keluar dari kamar Duke Cristin, dia melirik ke arah sang Kesatria yang menunduk, lalu menatap lurus ke depan.


"Nyonya, bisakah nyonya sedikit lembut pada Tuan," ujar Armand dengan kepala menunduk.


"Apa kami sedang memohon?" Viola tersenyum mengejek. "Apa kamu tidak pernah merasakan penderitaan ku? aku harap kamu bisa merasakannya."


"Terkadang, apa yang kita lihat belum tentu kenyataannya Nyonya."


Viola mendekat, "Apa maksud mu?" tanya Viola. Otaknya di penuhi teka-teki. "Jawab !" Bentak Viola dengan suara meninggi.


"Armand !" teriak Duke Cristin. Seketika nyali Armand menciut. Dia tidak ingin Viola mengetahuinya. Untung saja dirinya langsung menemui Armand sebelum dia bertindak lebih jauh.


"Yang Mulia,"


Armand sudah pasrah menerima hukumannya. Tetapi sebelum itu, dia harus memberitaukan kebenarannya. Dia tidak ingin melihat majikannya terus terpuruk dalam kesedihan.


"Pergilah."


"Armand belum menjawab pertanyaan ku." Pekik Viola tak terima melihat kepergian Armand.


"Tidak ada yang perlu di jelaskan. Armand hanya mengada-ngada. Sebaiknya Duchess lakukan kemauan Duchess." Ujar Duke Cristin kembali ke kamarnya seraya menutup pintu dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2