Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Kekesalan Abella


__ADS_3

Matahari telah memasuki jendela kaca. Sapaan angin di jendela itu menyapa sepasang kekasih yang semalam tengah beronda. Wanita itu pun merasakan kedinginan di dadanya. Ia membuka matanya. Angin itu keluar masuk di kamarnya. Gorden biru bermotif bunga mawar putih itu melambai ke kanan dan ke kiri mengikuti arahan angin yang menerpanya.


"Dingin !" Wanita itu pun semakin menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.


Emmm


"Kenapa? dingin," ujar suara serak dan berat itu. Viola mendonggakkan kepalanya.


Cup


Ia mencium pucuk kepala Viola. "Selamat pagi sayang, aku mencintai mu." Viola menggigit dagu mulus itu.


Au


"Kenapa menggigit ku?" Duke Cristin mengelus dagunya yang merasakan sakit.


"Aku juga mencintai mu," ujar Viola. Ia tidak tau, hatinya merasa senang menjahili Duke Cristin dan membuatnya marah.


"Aku tidak akan marah pada mu. Aku akan marah saat kamu berhenti mencintai ku. Saat itu aku akan mengurung mu di sangkar emas ku."


"Nyonya sarapan sudah siap," ujar seorang pelayan seraya mengetuk pintu.


"Iya," teriak Viola seraya bergegas menuju ke kamar mandi. Ia menarik selimutnya menutupi dadanya. "Sayang gendong," rengek Viola.

__ADS_1


Duke Cristin duduk, ia mencium pipi Viola yang begitu imut. Lalu menyingkapi selimutnya. Dengan tubuh telanjang, ia mendekati Viola.


"Sayang !" Mata Viola terkunci melihat junior Duke Cristin.


"Aku tidak perlu menutupinya, kamu sudah melihat ku begitu pun diri ku." Ujar Duke Cristin menarik selimut tebal yang membungkus badan istrinya. Membuangnya ke lantai begitu saja.


Duke Cristin berjongkok, melihat wajah istrinya yang memerah membuatnya ingin sekali menggodanya. "Tadi malam aku suka cara mu, sayang."


Viola memutar matanya, ia mengingat kejadian tadi malam. Dimana ia melahap junior itu seperti permen lolipop.


Tanpa berfikir panjang, Duke Cristin memegang pinggang Viola, lalu menariknya ke dalam gendongannya. "Sayang," ujar Viola terkejut.


"Lingkarkan kaki mu agar tidak terjatuh di lantai. Aku akan menggendong mu seperti ini." Ujar Duke Cristin. Viola melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Duke Cristin. Lalu menyandarkan kepalanya di bahunya itu. "Apa aku tidak berat?"


"Tidak, tubuh mu sangat ringan. Sepertinya aku harus menaikkan berat badan mu." Ujar Duke Cristin. Ia memilih duduk di sofa putih itu.


Duke Cristin mencium rakus bibir Viola, "Pelayan ! katakan pada yang lainnya, tidak usah menunggu kami." Teriak Duke Cristin.


"Baik tuan," ujar salah satu pelayan yang bertugas membantu Viola merias diri.


Duke Cristin tersenyum menggoda, ia menarik pinggang Viola ke atas. Hingga sesuatu itu memasuki rahimnya. Viola mendesah, kehangatan di dalam rahimnya membuatnya jiwanya melayang kembali.


"Aku menyukai seperti ini. Aku ingin setiap harinya seperti ini. Merasakan kenikmatan itu luar dan dalam." Ujar Duke Cristin mencium leher Viola, ia menjilat leher itu memberikan sebuah kecupan.

__ADS_1


"Sayang, apa perlu kita setiap hari seperti ini?" tanya Viola. Sepertinya apa jadinya setiap hari melayani Duke Cristin. Bisa-bisa ia tak berwujud manusia lagi.


"Tidak perlu melakukannya, hanya perlu memberikan kehangatannya saja. Entah dimana pun, itu kewajiban mu." Ujar Duke Cristin santai. "Dan aku akan memintanya lebih, karena tubuh istri ku, candu bagi ku." Ujar Duke Cristin memeluk erat tubuh Viola.


Sementara di meja makan.


Abella hanya mengaduk-ngaduk susu putih itu. Ia melihat ke arah dua kursi kosong di depannya. Hatinya semakin memanas, mengingat suara desahan itu.


Aku harus memisahkan kalian dengan cara apa pun


Abella melihat sang Baroness Lilliana dan ayahnya. Layaknya sepasang istri tanpa beban apa pun. Ia melihat ke arah sang Ibu, wajah pucat itu tersenyum hangat dengan kedekatan Baroness Lilliana dan Duke Arland. Ia muak melihat ibunya yang berpura-pura tegar, padahal hatinya hancur.


"Tidak biasanya Yang Mulia menambah," ujar Duchess Eliana. Ia merasa perbedaan dalam sekejap dalam diri Duke Arland. Biasanya dia hanya memakan sepotong roti yang di olesi selai keju. Akan tetapi sekarang, saat Baroness Lilliana melayaninya, laki-laki di depannya justru memintanya lagi. Memakannya dengan lahap. Tidak terasa sudah tiga kali Duke Cristin meminta tambahan pada istri keduanya itu.


"Benarkah," ujar Duke Arland yang tidak sadar.


Aku senang, akhirnya keluarga ini akan kembali harmonis.


"Ferland juga memakannya dengan lahap," ujar Duchess Eliana seraya melirik Ferland di samping Abella. Ferland pun hanya terkekeh dan kembali memakan rotinya dengan lahap.


"Biasa saja," ketus Abella.


"Abella !" bentak Duchess Eliana.

__ADS_1


"Kakak," Baroness Lilliana menggeleng yang hanya mendapat helaan nafas dari Duchess Eliana.


Abella bangkit, ia meninggalkan ruang makan itu dengan kekesalan setengah mati.


__ADS_2