
"Sayang," laki-laki itu menyingkapi selimutnya. Membaringkan kepalanya di belahan dada istrinya.
"Apa Hanzel sudah tidur?" tanya Viola seraya mengelus kepalanya. Setiap malam suaminya akan melihat Hanzel dan menidurkannya, terkadang ia tidak berperan sebagai seorang ibu. Suaminya lah yang selalu menjaga Hansel, meluangkan waktunya bermain dengannya, menidurkannya, menggendongnya, membantunya makan dan segala yang di butuhkan Hansel. Bukan karena dia malas menjaga Hansel, hanya saja Duke Cristin selalu mengatakan untuk beristirahat dan memintanya yang menjaga Hansel meskipun sudah ada ibu asuh untuk Hansel.
"Sudah," sahut Duke Cristin seraya memainkan ujung rambut Viola. "Sayang," lirih Duke Cristin dengan wajah memerah. Ia membuka gaun tidur Viola yang berwarna merah itu, meremas kedua buah dada yang kenyal itu. Sudah lama ia mengalah demi anaknya.
Ia melahap benda kecil dan kenyal itu, menyodotnya secara rakus. Ia rindu dengan buah yang indah di dada istrinya.
Viola memejamkan matanya, ia menahan hawa panas yang menjalar di tubuhnya. Viola membuka matanya, ia tidak tahan lagi dengan sentuhan yang bukan pertama kali untuknya.
Dia pun mendorong tubuh Duke Cristin hingga kini tubuhnya yang berada di atasnya. Ia duduk di atas junior paha Duke Cristin.
"Kamu menggoda ku, Yang Mulia. Maka kamu harus bertanggung jawab, Yang Mulia." Duke Cristin tersenyum, ia sangat menginginkan keliaran istrinya.
Viola membuka kancing putih itu dengan cepat. Dalam sekejap ia mencium, menyesapi bibir merah dan kenyal itu secara lembut di setiap bagiannya. Ciuman itu pun turun ke lehernya, menjilatnya dengan rakus dan meninggalkan jejak di leher kanan dan kirinya.
Sementara Duke Cristin ia mengelus pinggul Viola, merasakan di setiap sel tubuhnya memanas. Apalagi saat Viola menyesapi kedua benda kenyal di dadanya. Bagaikan aliran listrik otaknya berhenti bekerja. Ia ingin meminta lebih dan lebih saat Viola menggoyangkan pinggulnya. Menggesakkan miliknya dengan juniornya.
"Vio,"
__ADS_1
Viola tersenyum dengan jahilnya, ia menggoyangkan pinggulnya membuat Duke Cristin mendesah. "Aku mohon Vio, aku tidak bisa menahannya."
Viola menghentikan goyangannya, ia mencium singkat bibir Duke Cristin. Secepat kilat ia membuka resleting celananya. Mengeluarkan benda yang panjang itu. Viola pun mengelusnya membuat sang empu mengeluarkan suara merdunya.
"Ah,"
Tak hanya itu, ia menggunakan tangannya. Setelahnya ia menunduk, memainkannya di dalam mulutnya. Desahan dan desahan pun tak bisa di hindari. Tangan Duke Cristin menggenggam erat seprai itu. Dadanya naik turun menahan gejolak dari buah zakarnya.
Dengan nafas yang memburu, Viola memasukkan miliknya ke dalam miliknya, mendiamkannya sejenak. Duke Cristin tersenyum, ia bangun dari tidurnya menatap manik istrinya. "Sayang jangan menyiksa ku." Ujar Duke Cristin dengan nafas yang semakin memburu.
Viola pun mencium keningnya dengan penuh cinta, "Aku mencintai mu." Viola memejamkan matanya, ia melajukan pinggulnya naik turun. Semakin ia pelan, semakin Duke Cristin merasakan kenikmatannya. "Sayang lebih cepat." Ujar Duke Cristin memeluk tubuh mungil di depannya membuat Viola berhenti. "Sayang, lebih cepat. Aku mohon," Duke Cristin melepaskan pelukannya, ia menyandarkan kedua tangannya di samping.
"Oh sayang, argh iya. oh, ah."
"Aku bisa gila di buat mu, sayang. Seperti itu, ah cepat. Oh iya,"
Rancaun itu terus keluar dari mulutnya sampai ia merasakan sesuatu akan keluar dari miliknya. Secepat kilat ia memeluk Viola. "Ah sayang, mau keluar."
"Argh !!!"
__ADS_1
Cairan kental berwarna putih itu pun keluar di dalam rahim Viola di iringi desahan dari mulut keduanya. Tubuh Duke Cristin dan Viola seakan layu, kedua tubuh orang itu jatuh ke kasurnya tanpa melepaskan ikatan cinta dan rasa sayang di bawah sana. Duke Cristin mencium pucuk kepala Viola dan mengelus surai hitamnya.
Viola mendonggakkan wajahnya, ia bisa melihat Duke Cristin yang sudah lemah. Tetapi ia yakin, hanya beberapa menit saja. Benda di dalam rahimnya akan mengeras kembali. Ia melepaskan benda itu dan berbaring di samping Duke Cristin. Ia melirik milik Duke Cristin yang sudah tertidur.
"Hah," Viola menatap langit-langit kamarnya. Entah semenjak kapan, Kini Duke Cristin sudah berada di atas tubuhnya.
"Sayang, aku menginginkannya lagi. Aku ingin posisi itu."
Viola tersenyum, ia memposisikan tubuhnya tengkurap dan menyunggingkan pinggulnya. Duke Cristin pun menyambutnya, sebelum memasukkannya, ia mengelus area itu. Lalu menancapkan miliknya memasukinya dengan lembut. Duke Cristin melajukannya dengan lambat, lambat dan lambat. Lalu ia mempercepatnya, tubuhnya semakin meledak memanas, ia semakin mempercepat lajuan itu. Mulutnya tak bisa ia kunci, ia mengeluarkan desahan itu bersamaan dengan suara merdu milik Viola. Desahan istrinya selalu membuatnya semangat dan selalu menginginkan lebih. Tangannya meremas dua buah yang semakin terguncang itu. Sementara kedua tangan Viola meremas seprai di bawahnya.
"Oh, sayang,"
Tubuh Viola yang bagaikan candu untuknya, ia selalu memintanya di mana pun mereka berada. Bahkan mereka pernah melakukan di ruang kerja milik Duke Cristin. Viola hanya perlu memainkannya dari atas. Sedangkan dirinya hanya duduk di kursinya.
Semakin ia melajukannya tanpa henti, semakin pula kedua orang itu mendesah. Viola tak meragukan kejantanan milik Duke Cristin. Kadang mereka menghabiskan berkali-kali dalam semalam. Jika siang hari mereka hanya bisa menghabiskan waktu berjam-jam.
Sama halnya dengan malam ini. Ia yakin, Duke Cristin akan memintanya dengan berbagai macam gaya.
"Argh !" Viola menyandarkan dahinya ke seprai itu. Akhirnya cairan kental itu juga keluar. Duke Cristin melepaskannya. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuknya bersamaan dengan tubuh Viola.
__ADS_1
Dan benar saja hanya butuh beberapa menit, Duke Cristin kembali meminta dengan posisi yang berbeda.