Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Mengurung


__ADS_3

Dengan sisa tenaga, Abella berdiri di bantu Ferland. Tubuhnya bergetar, "Jika kehadiran Kakak membuat mu ingin meninggalkan kediaman ini. Lebih baik Kakak yang pergi." Ujar Abella seraya menuju ke arah Viola. Dia menarik tangan Viola ke lantai atas.


"Kakak," panggil Viola. Dia tidak tau apa yang akan di lakukan oleh Abella.


"Abella," pekik Baroness Lilliana. Ia mengikuti langkah kedua wanita itu menaiki anak tangga satu persatu.


"Abella," teriak Duke Cristin geram, ia tidak suka sikap kasar Abella yang menyeret Viola di susul oleh Ferland, Duke Arland dan Duchess Eliana.


Pintu kamar Viola terbuka. Abella mendorong tubuh Viola memasuki kamar itu. Dan pintu kokoh itu langsung tertutup rapat dengan kasar.


"Kakak." Teriak Viola menggedor-gedor pintu. "Jangan mengurung Vio di sini." Teriak Viola dengan marah. Dia menggedor pintu dan membuka hendle pintu itu. "Kakak jangan paksa Vio di sini,"


"Abella, lepaskan Viola." Baroness Lilliana memegang lengan Abella yang berusaha menahan pintu itu dengan memegang handle berwarna kuning itu.


Abella tidak memperdulikan kemarahan Baroness Lilliana, tanpa sadar dia mendorong Baroness Lilliana sampai terhuyung ke belakang. Secepat kilat Duke Arland meraih tubuh Baroness Lilliana. "Abella jaga sopan santun mu." Bentak Duke Arland.


"Lepaskan Viola ! apa yang kamu lakukan?" tegas Duke Cristin hendak memaksa Abella melepaskan pegangannya.


"Apa kalian ingin Viola pergi?" teriak Abella mempertajam bola matanya. Melihat mereka satu per satu.

__ADS_1


"Biarkan dia pergi, kamu tidak memiliki hak mengurungnya."


"Maaf Baroness Lilliana, aku memiliki hak pada Viola, dia Adik ku. Nyonya meninggalkannya, nyonya tidak pernah tau tangisannya, ke bahgiannya dan ke sakitannya." Abella menunjuk pada dirinya. "Aku lah yang merawatnya saat dia butuh kasih sayang Nyonya, saat dia sakit. Nyonya hanya datang dalam sekejap dan membawanya pergi. Apa hak Nyonya membawanya pergi." Teriak Abella.


"Aku, aku dan aku yang menangis saat dia tak sadarkan diri. Aku yang mempertaruhkan nyawa dan kebahagiaan ku untuknya." Teriak Abella membuat Baroness Lilliana terdiam.


"Sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur Lilliana, kamu tidak memiliki hak membawanya." Sanggah Duchess Eliana. "Kamu memang mencintainya karena dia buah hati mu, tapi aku lah yang merawatnya sampai dewasa."


Lilliana menunduk, "Aku memang meninggalkannya, tetapi aku meninggalkannya hanya satu alasannya membawanya pergi dari kehidupan kalian agar putri ku tidak menderita."


"Aku paham penderitaan mu, tapi kamu harus pikirkan kami."


plak


Tangan putih itu melayang tepat di pipinya. Emosinya meluap, ia tidak bisa menahan lagi gejolak di dalam hati dan pikirannya. "Sampai mati pun aku tidak akan pernah menyerahkan Viola pada mu. Dia putri ku." Tegas Duchess Eliana.


prank


"Buka," teriak Viola di dalam sambil menendang pintunya.

__ADS_1


Sial ! kenapa aku bisa terjebak ke dalam keluarga gila ini. Tidak bisa ! aku harus cari kesempatan untuk kabur, aku tidak peduli lagi dengan mereka, awas saja nanti.


Viola menggigit bibir bawahnya. Ia mendengarkan semua percakapan itu, namun tidak berniat ikut campur lagi. Dia hanyalah jiwa asing yang ingin mencari kebahagiaannya sendiri.


"Jaga tangan mu Duchess !" teriak Duke Arland. Dia memeluk Lilliana, hatinya meringis melihat pipi itu memerah.


"Silahkan hukum aku Yang Mulia, tapi aku akan mempertahankan putri ku. Dan kamu, ikut aku pulang kediaman Duke. Kamu harus tau satu hal sebuah kebenaran." Duchess Eliana meraih tangan Baroness Lilliana ke luar.


"Duchess renungkan kesalahan mu." Duke Cristin melihat ke arah laci yang berada di luar kamar Viola. Dia mengambil cadangan kunci kamarnya. Kemudian memutar benda kecil itu ke dalam lubang handle pintu itu.


"Jangan paksa aku mempertahankan pernikahan ini. Aku tidak bahagia."


"Kamu tidak bahagia, maka aku akan berusaha membuat mu bahagia. Larilah, sejauh apa pun kamu berlari. Kamu tidak akan bisa melarikan dari diri ku. Maaf, kali ini aku memaksa mu. Aku tidak ingin kehilangan mu." Ujar Duke Cristin.


Heh, aku tidak peduli dengan ceramah basi mu itu. Lihat saja nanti batin Viola.


"Aku akan menitipkannya pada mu." Ferland menepuk bahu Duke Cristin.


"Aku harus pulang, masalah keluarga ku belum selesai. Aku titip Viola." Abella memberikan hormat. Dia pergi di ikuti Ferland. Sakit sungguh sakit. Dia harus menyerah dan benar-benar menyerah.

__ADS_1


__ADS_2